Tindak Tutur Adegan Limbukan dalam Seni Pertunjukan Wayang Purwa di Surakarta Studi Kasus Terhadap Anom Suroto, Purbo Asmoro, dan Warseno Slenk Kajian Sosiopragmatik

ABSTRAK

Suratno: NIM: T 130906010, 2010. “Tindak Tutur Adegan Limbukan dalam Seni Pertunjukan Wayang Purwa di Surakarta Studi Kasus Terhadap Anom Suroto, Purbo Asmoro, dan Warseno Slenk Kajian Sosiopragmatik”. Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. Tim Pembimbing: Prof. Dr. Sri Samiati Tarjana (Promotor) dan Prof. Dr. Maryono Dwihardjo (Ko-Promotor).

Masalah utama dalam penelitian ini adalah penggunaan tindak tutur, khususnya tindak tutur adegan limbukan, dalam kajian sosiopragmatik. Dalam peristiwa tuturan adegan limbukan, tindak tutur dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang berbeda. Penggunaan tindak tutur ini dalam kajian sosiopragmatik, pelaksanaannya direalisasikan secara bervariasi berdasarkan konteks kebudayaan, masyarakat, kelas sosial, dan kelas sosietal. Bervariasinya penggunaan tindak tutur tersebut berdampak timbulnya penafsiran yang berbeda, bergantung konteks situasi tutur yang mengiring pertuturan.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perilaku interaksi verbal dialog dua punakawan wanita dalam adegan pertunjukan wayang di Surakarta. Penelitian ini difokuskan pada (1) mengidentifikasi jenis-jenis tindak tutur, menentukan tindak tutur yang dominan, serta menemukan strategi bertutur pada tindak tutur adegan limbukan dalam seni pertunjukan wayang purwa (TTALDSPWP) Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, dan Ki Warseno Slenk; (2) menemukan dan memerikan faktor-faktor penyebab tindak tutur; (3) mengungkap dan menentukan implikatur-implikatur dan daya pragmatik tuturan; (4) menemukan dan memerikan implementasi tindak tutur kaitannya dengan prinsip kerjasama (PKS), prinsip sopan-santun (PS), prinsip ironi (PI), prinsip relevansi (PR), dan prinsip seloroh (PS).
Penelitian ini bersifat kualitatif, dengan kategori studi kasus terpancang. Data yang diperoleh dalam kajian ini berupa satuan lingual tindak tutur yang ditranskripsi dari pertunjukan wayang purwa tiga dalang (Anom Suroto, Purbo Asmoro, dan Warseno Slenk), yang berasal dari rekaman pertunjukan langsung. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan berperan serta dibantu dengan wawancara dan pengamatan dokumen. Teknik penyediaan data dilengkapi dengan teknik simak dengan dasar cakap dan lanjutannya simak bebas libat cakap, rekam, dan catat. Metode analisis dilakukan dengan menggunakan metode padan, metode yang digunakan untuk mengkaji satuan lingual tertentu dengan memakai alat penentu yang berada di luar bahasa. Metode yang digunakan khususnya adalah pragmatik dengan alat penentu mitra tutur. Model analisis tersebut diperkuat dengan metode analisis padan intralingual maupun ekstralingual. Interpretasi tentang faktor penyebab tindak tutur dilakukan dengan menganalisis faktor-faktor konteks sosial, konteks budaya, dan konteks situasi. Implikatur-implikatur tindak tutur dianalisis dengan menggunakan konsep Leech (1983), adapun intepretasi data bentuk tuturan dalam rangka menemukan daya pragmatik tindak tutur dianalisis dari sisi cara-tujuan (means-end) model Searle dengan mempertimbangkan konteks dalam kajian Sosiopragmatik.
Temuan kajian ini adalah seperti berikut ini. Pertama, subtindak tutur yang paling dominan dalam TTALDSPWP oleh Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, dan Ki Warseno Slenk adalah subtindak tutur ‘memberitahu’. Kedua, Strategi bertutur yang memilih menggunakan jenis tindak tutur tidak langsung lebih sering digunakan daripada dengan tindak tutur langsung. Ketiga, faktor-faktor yang memotivasi munculnya suatu tindak tutur adalah (1) konteks sosial, (2) konteks budaya, dan (3) konteks situasi. Keempat, berdasarkan analisis implikatur konvensional (conventional implicature) yang paling dominan pada TTALDSPWP oleh Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, dan Ki Warseno Slenk. Kelima, implikasi dari kepatuhan terhadap maksim-maksim prinsip kerjasama itu diperlukan ketika penutur dan mitra tutur menekankan unsur kerjasama dalam tindak pertuturan. Namun, pada saat yang lain adegan limbukan juga memerlukan berkomunikasi dengan pihak sponsor pertunjukan (yang punya hajat), tamu undangan, pejabat yang hadir pada saat pertunjukan, untuk menarik simpati perlu menjauhkan diri dari permusuhan, jelas maksudnya, berorientasi terhadap makna yang positif dan agar dapat menyenangkan mereka. Oleh karena itu, diperlukan prinsip berkomunikasi yang lain, yaitu prinsip sopan-santun (PSS), prinsip ironi (PI), prinsip seloroh (PS), dan prinsip relevansi (PR).
Akhirnya, dalam seni pertunjukan wayang terdapat berbagai teks baik yang bersumber dari konteks wacana lisan maupun tertulis yang lain yang mempunyai ciri khas dan perilaku kebahasaan yang lain pula. Oleh karena itu, dihimbau agar para peneliti yang lain dapat memperluas dan mengembangkan kajian tentang tindak tutur dengan melakukan penelitian yang sejenis dengan sasaran jenis teks yang berbeda.

Key words: Tindak Tutur, Sosiopragmatik, Konteks, Implikatur, Daya Pragmatik, Implementasi, dan Prinsip.

ABSTRACT

Suratno: NIM: T 130906010, 2010. “Speech Acts in the Limbukan Scenes in Classical Shadow Puppet Theatre in Surakarta. A Case Study of Anom Suroto, Purbo Asmoro, and Warseno Slenk. A Socio-pragmatic Study”. Dissertation. Postgraduate Program Sebelas Maret University Surakarta. Team of Supervisors: Prof. Dr. Sri Samiati Tarjana (Head Supervisor), Prof. Dr. Maryono Dwihardjo (Co-Supervisor).

The main problem addressed in this research is the use of speech acts, in particular speech acts in the limbukan scene, in a socio-pragmatic study. In the discourse of limbukan scenes, speech acts can be used for different purposes. The implementation of this use of speech acts in a socio-pragmatic study is realized in a variety of ways, based on cultural context, society, social class, and societal class. The varied use of speech acts leads to different interpretations, depending on the context and situation of the speech which accompanies the speech act.
This research aims to describe the types of verbal interaction in the dialogue between two female clown-servants in a particular scene of shadow puppet performances in Surakarta. The study focuses on: (1) identifying the different types of speech acts, determining the dominant speech acts, and discovering the strategies of speech in the limbukan scenes in classical shadow puppet theatre performances by Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, and Ki Warseno Slenk; (2) discovering and describing the factors which cause the speech acts; (3) identifying and determining the implicature and pragmatic force of the speech acts; (4) discovering and describing the implementation of the speech acts in relation to principles of cooperation, principles of politeness, principles of irony, principles of relevance, and principles of humour.
This research is qualitative in nature, and falls into the category of an established case study. The data collected in this study was in the form of lingual units of speech acts which were transcribed from classical shadow puppet theatre performances by three puppet masters (Anom Suroto, Purbo Asmoro, and Warseno Slenk), which were taken from recordings of live performances. The data was collected through participant observation and supplemented with interviews and documentary research. The techniques of data collection were enhanced with direct critical observation, unstructured, in-depth interviews, recordings, and notes. The method of analysis used was a method of comparison, that is a method used to study a particular lingual unit using determining tools from outside the field of language. The particular method used was a pragmatic one, with a determining tool of speech partner analysis. This model of analysis was reinforced with a method of comparison to analyse both intra-lingual and extra-lingual aspects. An interpretation of the factors causing the speech acts was carried out by analysing factors of social context, cultural context, and situational context. The implicatures of speech acts were analysed using Leech’s concept (1983), while the interpretation of data in the form of speech, with the aim of discovering the pragmatic force of the speech acts was analysed from the perspective of Searle’s “Means-End” model, taking into consideration the context of the socio-pragmatic study.
The findings of this study are as follows: First, of all the sub-speech acts in the limbukan scenes of shadow puppet theatre performances by Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, and Ki Warseno Slenk, the most dominant is the sub-speech act ‘informing’. Second, the strategies of speech which choose to use indirect types of speech acts are more often used than direct speech acts. Third, the factors which motivate the appearance of a speech act are: (1) social context, (2) cultural context, and (3) situational context. Fourth, based on the analysis, conventional implicature is the most dominant type in the limbukan scenes of shadow puppet theatre performances by Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, and Ki Warseno Slenk. Fifth, the implication of the adherence to the maxims of the principle of cooperation is needed when the speaker and interlocutor emphasize elements of cooperation in the act of speech. However, at other times, limbukan scenes also require communication with the person sponsoring the performance, the guests, and the officials present, in order to gain sympathy and not make enemies, by orienting the speech towards a positive meaning and keeping the above mentioned parties happy. For this reason, other principles of communication are required, namely principles of politeness, principles of irony, principles of humour, and principles of relevance.
Finally, in shadow puppet theatre performances, a variety of texts are used, which are taken both from oral sources and written sources, and have different characteristics and language treatment. For this reason, I strongly suggest that other researchers take the time to broaden and develop further studies on the subject of speech acts by carrying out similar studies with different texts as the target of the research.

Key words: Speech Acts, Socio-pragmatic, Context, Implicature, Pragmatic Force, Implication, and Principle.