Feminisme dan Nilai Pendidikan Empat Novel Pengarang Perempuan Periode 2000-an (Pendekatan Sosiologi Sastra)

ABSTRAK

Suyitno. T 1204005. 2011. Feminisme dan Nilai Pendidikan Empat Novel Pengarang Perempuan Periode 2000-an (Pendekatan Sosiologi Sastra). Disertasi. Program Pascasarjana Program Studi Linguistik (S3) Minat Utama Pengajaran Bahasa Universitas Sebelas Maret Surakarta. Promotor: Prof. Dr. Herman J. Waluyo, M.Pd. Ko-Promotor: Prof. Dr. H. Joko Nurkamto, M.Pd.

Permasalahan penelitian yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah: (1). bagaimanakah pengucapan teks ideologi feminisme empat novel pengarang perempuan periode 2000-an sastra Indonesia, (2). bagaimanakah gayut genetik teks empat novel pengarang perempuan periode 2000-an sastra Indonesia dengan teks ideologi feminisme empat novel pengarang perempuan periode 2000-an sastra Indonesia, (3). bagaimanakah horison penerimaan subjek pembaca teks empat novel pengarang perempuan periode 2000-an sastra Indonesia, (4). bagaimanakah gayut nilai-nilai pendidikan teks empat novel pengarang perempuan periode 2000-an sastra Indonesia dengan nilai-nilai sosial yang melingkupinya. Imbas ikutannya menjadikan penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan: (1) pengucapan teks ideologi feminisme empat novel pengarang perempuan periode 2000-an sastra Indonesia, (2) gayut genetik teks dengan teks ideologi feminisme empat novel pengarang perempuan periode 2000-an sastra Indonesia, (3) horison penerimaan subjek pembaca teks empat novel pengarang perempuan periode 2000-an sastra Indonesia, dan (4) gayut nilai-nilai pendidikan teks empat novel pengarang perempuan periode 2000-an sastra Indonesia dengan nilai-nilai sosial yang melingkupinya.
Penelitian ini adalah sebuah studi kasus ganda terpancang karena empat novel yang diteliti memiliki karakteristik intrinsik yang berbeda (Sutopo, 1988: 43 dan 58, 2005: 2). Pendekatan sosiologi sastra dalam penelitian ini juga secara terpancang (embedded) karena memusatkan studi pada beberapa aspek yang dipilah berdasarkan kepentingan berkait dengan sampel penelitian. Teknik penarikan sampel dilakukan melalui sampel seleksi berorientasi informasi (information-oriented selection sampling) yang secara umum dikenal sebagai sampel bertujuan (purposive sampling), yang di antaranya berdasarkan kasus paradigmatik gerakan feminisme (Flyvbjerg, 2006: 230; 2011: 307). Alat bantu pendekatannya adalah metode hermeneutika sebagai cara menemukan realitas teks maupun hal yang melampaui teks dengan paradigma: (1) makna kata dari batang tubuh teks ditetapkan dengan merujuk pada koeksistensinya dengan kata-kata lain di sekitarnya (pada tataran wacana penafsiran bersifat holistik dan parsial secara sekaligus dengan segala keniscayaan efek ikutannya), (2) penafsir dan teks senantiasa terikat oleh konteks tradisinya masing-masing, sadar atau tidak penafsir selalu memiliki prapaham tertentu terhadap teks dan ini menjadikan penafsir sulit menafsirkan teks dari sisi yang netral (penafsiran hanya mungkin dilakukan melalui the fusion of horizons, yakni mempertemukan prapaham penafsir dan cakrawala makna yang dikandung teks), (3) teks dipraanggapkan sebagai tidak bersifat steril, tidak bersih dari jejak kepentingan ideologi dan karenanya harus disingkap melalui refleksi kritis untuk membuktikan selubung ideologisnya.
Penelitian ini memiliki 3 jenis data, terdiri dari: data objektif, data genetik, dan data afektif. Data objektif bersumber wacana empat novel objek kajian: Saman, Tarian Bumi, Geni Jora, dan Nayla; data genetik bersumber dari wacana konfirmatori proses kreatif pengarang perempuan periode 2000-an: Ayu Utami, Oka Rusmini, Abidah El Khalieqy, dan Djenar Maesa Ayu; dan data afektif bersumber dari wacana konfirmatori tentang horison penerimaan subjek pembaca empat novel objek kajian: Saman, Tarian Bumi, Geni Jora, dan Nayla. Sesuai dengan bentuk penelitian kualitatif dan juga sumber data yang dimanfaatkan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: (1) content analysis (baca-catat-analisis) untuk memperoleh data objektif yang berkait dengan penggunaan bahasa dan ideologi feminisme yang bersumber wacana beramanat feminisme empat novel pengarang perempuan periode 2000-an; (2) wawancara mendalam untuk memperoleh data genetik proses kreatif empat novel objek kajian melalui life-history empat pengarang perempuan periode 2000-an; (3) wawancara mendalam dan focus group discussion untuk memperoleh data afektif yang berupa apresiasian yang bersumber subjek pembaca empat novel pengarang perempuan periode 2000-an. Untuk memperoleh derajat validitas dalam penelitian ini digunakan teknik triangulasi sumber data yang melibatkan cross check data yang diperoleh lewat dokumentasi, wawancara mendalam, dan focus group discussion. Proses cross check kemudian di re-check lagi dengan investigator triangulation (Guion, 2002: 1-3) yang melibatkan tiga sumber yaitu: member checks, peer debriefing, dan audit trail sehingga validitas data di dalam penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan.
Analisis dan pembahasan penelitian menghasilkan kesimpulan aposteriori bahwa: (1) pengucapan ideologi feminisme teks ternyata berbeda dengan stereotipe bahasa perempuan, (2) ideologi feminisme genetik teks ternyata menyuarakan hasrat negoisiasi dengan budaya patriarki, (3) subjek teks ternyata kalishegemoni terhadap nilai-nilai feminisme, dan (4) nilai-nilai pendidikan teks ternyata bersifat tidak memperkuat nilai-nilai sosial yang melingkupinya. Induksi aposteriori menghasilkan kesimpulan umum bahwa interaksi teks dengan subjek pembaca sangat tergantung pada semestaan wacana tatanilai yang melingkupinya.
Pengucapan ideologi feminisme teks empat novel pengarang perempuan periode 2000-an sastra Indonesia tidak mengandung pembatasan ujaran, tidak mengandung keragu-raguan, dan penuh keterusterangan walaupun dibungkus metaforaan-metaforaan sastrawi karena penciptaannya dimaksudkan sebagai instrumen kultural untuk menyuarakan hasrat negoisiasi dengan budaya patriarki. Subjek teks kalishegemoni terhadap nilai-nilai feminisme karena subjek teks terkooptasi nilai-nilai patriarki. Subjek teks terkooptasi nilai-nilai patriarki karena nilai-nilai pendidikan teks sebagai representasi feminisme bersifat tidak memperkuat nilai-nilai sosial yang melingkupi teks.
Disarankan: (1). Novel Saman, Tarian Bumi, Geni Jora, dan Nayla selain harus diapresiasi sebagai pembawa nilai-nilai yang menimbulkan pro-kontra tetapi juga harus diapresiasi sebagai pembawa nilai-nilai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa karena novel-novel tersebut dapat menjadi sarana pencerdas bangsa secara intelektual, emosional, dan spiritual, (2). Novel Saman, Tarian Bumi, Geni Jora, dan Nayla harus dilihat sebagai teks pembawa simbol keinginan berkesetaraan wakil-wakil perempuan yang menyodorkan konsep bagaimana seharusnya masyarakat gender membangun dunia yang lebih manusiawi dengan menghormati subjektivitas perempuan, (3). Novel Saman, Tarian Bumi, Geni Jora, dan Nayla meskipun sebagai ekspresi seni bahasa yang bersifat reflektif sekaligus interaktif dapat menjadi spirit bagi munculnya gerakan perubahan masyarakat secara positif dan negatif, dampak ikutan negatifnya tidak perlu dikhawatirkan karena masyarakat komunitas sastra Indonesia hanya memberi tempat dan toleransi memulyakan hanya kepada nilai-nilai bawaan karya sastra yng memperkuat nilai-nilai sosial, (4). Semua pemangku kepentingan sastra Indonesia harus menyadari bahwa penciptaan iklim bersastra yang kondusif untuk bersastra adalah sebuah keniscayaan dan harus dilakukan selaras dengan upaya peningkatan daya apresiasi, kreasi, dan inovasi bangsa. Sikap prejudice terhadap gugus sastra jenis apapun harus dihindarkan, (5). Subjek harus melihat bahwa kebenaran dalam sastra tidak pernah ada yang selesai dan takterstruktur. Kebenaran dalam sastra selalu berproses lanjut dan selalu mencerminkan realitas yang harus dibaca berulang-ulang seperti teks. Realitas kebenaran dalam sastra harus dibaca berulang-ulang karena realitas kebenaran dalam sastra selalu terbarui dan kompleks, (6). Subjek harus melihat bahwa teks sastra adalah hasil dialog kelanjutan kreativitas kreator ketika menyikapi fenomena. Sewaktu mengentitas subjek majemuk teks sastra harus dibiarkan berkompetisi dengan teks-teks lain membentuk medan eksotopi yang memustahilkan kesempurnaan antara teks yang satu dengan teks lainnya.

Kata Kunci: feminisme, sosiologi sastra, hermeneutika, hegemoni, kalis-hegemoni, horizon pembaca, stereotip bahasa perempuan

ABSTRACT

Suyitno. T 1204005. 2011. Feminism and Educative Value in Four Novels Written by Indonesian Women Published in 2000s: Sociological Approach. Dissertation. Postgraduate Program Majoring in Language Teaching Sebelas Maret University Surakarta.Promotor: Prof. Dr. Herman J. Waluyo, M.Pd. Co-Promotor: Prof. Dr. H. Joko Nurkamto, M.Pd.

This study is aimed to reveal using discursive explanatory technique: (1) the voice of feminism ideology in four novels written by Indonesian women in 2000s, (2) the relation between genetic of text and text containing feminism ideology from four novels written by Indonesian women in 2000s, (3) the horizon of reception from the readers of four novels written by Indonesian women in 2000s, and (4) the relation between educative value from four novels written by Indonesian women in 2000s and the social context involved.
The paradigm of this study is qualitative. This study used sociological approach and hermeneutic method to reveal the reality of texts and the meaning beyond the texts. The combination of sociological approach and hermeneutic method applied in this reasearch was as follows: “(1) the meaning of a word within the text is defined by referring to its coexistence with other words surrounded. It means that in the context of discourse analysis, the interpretation has two characteristics; holistic and partial, (2) Interpreter and text are bound by their own tradition contexts. An interpreter, whether he is aware or not, has always had prior-world view before he meets a text. This results an implication that an interpreter will always read a text without a neutral stance. Interpretation therefore must be the fusion of horizons; the horizon from the interpreter and the horizon of text, (3) Every text by nature cannot be sterile also. Every text must contain an ideology within. It cannot be written in null ideology. It must contain what a text must have: an ideology. Hence, to interpret a text means to reveal the ideology of text.”.
This study has three types of data. They are: objective data, genetic of text data, and affective data. Objective data were taken from four novels written by Indonesian women in 2000s: Saman, Tarian Bumi, Geni Jora dan Nayla; genetic of text data were taken from confirmatory discourse regarding the creative processes from four Indonesian writers: Ayu Utami, Oka Rusmini, Abidah El Khalieqy, and Djenar Maesa Ayu; while affective data were taken from confirmatory discourse regarding the horizon from the interpreters (or the readers) of four Indonesian novels: Saman, Tarian Bumi, Geni Jora, and Nayla. The technique of sampling used in this study was purposive sampling. In accordance to qualitative research model and the data used in this study, hence the techniques of collecting data were: (1) content analysis, (2) in-depth interview with the four Indonesian women writers to get genetic of text data, (3) in-depth interview and focus group discussion to obtain affective data from the readers from four novels written by Indonesian women in 2000s.
The degree of validation in this study was tested by using data triangulation. The data triangulation involved cross checking the data obtained from documentation, in-depth interview, and focus group discussion. The process of cross checking the data was then continued by re-checking process through investigator trianggulation. Investigator trianggulation consisted of three aspects. These three aspects to guarantee the validity of this study were member checks, peer debriefing, and audit trail.
The results of this study are as follows: (1) the voice of feminism ideology in four novels written by Indonesian women in 2000s is different from women??s laguage stereotype, (2) the relation between genetic of text and text containing feminism ideology from four novels written by Indonesian women in 2000s show that there is, indeed, a proposal of negotiation from Indonesian women to Indonesian men regarding the main issue; redefining the (patriarchal) culture, (3) the horizon of reception from the readers of four novels written by Indonesian women in 2000s reflect that the readers are resistant from feminism ideology proposed by the texts (in this context, the four novels), and (4) the feminism ideology from four novels written by Indonesian women in 2000s and the educative value brought by these four novels do not alter the social culture in a massive way. Aposteriory induction draws a general conclusion that the result of interaction between a reader and a text depends on the culture where both parties come from.
The voice of feminism ideology in four novels written by Indonesian women in 2000s does not reflect limitations, hesitation, and hedges. However, the language used in these four novels displays implicitly the eagerness of negotiation towards the issue of redefining the patriarchal culture. The readers are resistent towards the issue because they have accepted the patriarchal values for years. The feminism ideology and the educative value from four novels written by Indonesian women in 2000s fail to alter the long-accepted patriarchal culture.
This study recommends: (1) Saman, Tarian Bumi, Geni Jora, and Nayla must not be appreciated within their controversial aspects only but rather based upon their educative value which proposes new ideas concerning redefinition of women’s role in the patriarchal culture. These four novels may enrich their readers with intelectual, emotional, and spiritual experiences, (2) Saman, Tarian Bumi, Geni Jora, and Nayla must be considered as vanguards. The novels give new atmosphere into Indonesian literature and culture. They represent feminism ideology which has been ignored by most Indonesian novels, (3) Saman, Tarian Bumi, Geni Jora, and Nayla might bring a new direction to the national culture redefinition. They may affect the society since they offer new ideas and philosophy to Indonesian patriarchal culture. Although the novels, which are literary works, laden with positive values and negative values, but the negative values will not be accepted by the society due to the characteristics of Indonesian culture. This means that the novels may be an optional way to drive social changing, (4) The prejudiced thinking and acts must not have space in the context of literary work interpretation, (5) Every reader must understand that literary text, by its nature, will always have multiple interpretations. Literary text does not have a fixed-interpretation nor fixed meaning. It always opens a new possible way to re-interpretation, (6) Every reader must understand that a literary work is a response to the issues dwell within a society. There is no literary work which is written in the null condition. It must be written to repond or answer what happens in a society. Therefore, any literary work must not be judged by a critic but by its society alone. Let the society decide what kind of literary work to read or to expel. By time, this will result an exotopic area in which every literary work competes with others.

Keywords: feminism, sociology of literature, hermeneutics, hegemony, hegemonic resistance, horizon of readers, women language stereotypes