Kajian Terjemahan Naskah Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia dalam Bahasa Inggris dengan Pendekatan Kritik Holistik

ABSTRAK

Anam Sutopo. T120907008. Kajian Terjemahan Naskah Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia dalam Bahasa Inggris dengan Pendekatan Kritik Holistik. Program Studi Doktor Linguistik Minat Utama Penerjemahan, Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2012. Promotor : Prof. Dr. Thomas Soemarno, M.Pd., Ko-promotor : Prof. Dr. H. D Edi Subroto.

Fokus penelitian ini adalah terjemahan naskah pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan latar belakang penerjemah naskah pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia; untuk menjelaskan teknik, metode dan ideologi penerjemahan yang digunakan oleh penerjemah dalam menerjemahkan naskah pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia; serta untuk mendeskripsikan ketepatan makna dan tingkat keterbacaan terjemahan naskah pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif-kualitatif. Strategi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus terpancang atau embedded case study. Data dalam penelitian ini adalah kata, frase ataupun kalimat yang berasal dari naskah pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia tahun 2006 yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan terjemahannya dalam bahasa Inggris yang berjumlah 317, keterangan dari informan ahli tentang ketepatan makna dan keterangan dari pembaca (English Native Speakers) terhadap tingkat keberterimaan dan keterbacaan. Sumber data dalam penelitian ini adalah informan dan dokumen. Informan dalam penelitian ini adalah penerjemah naskah pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia tahun 2006, informan ahli dan pembaca umum (English Native Sepaker) yang dipilih berdasarkan kriteria (purposive sampling technique). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemberian kuesioner, wawancara mendalam (in-depth interviewing) dan teknik simak catat atau content analysis. Validitas data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik analisis interaktif.
Temuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut; pertama, naskah pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia tahun 2006 diterjemahkan oleh Tim dengan Surat Keputusan Nomor 46 Tahun 2006 yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Juli 2006 dan ditandatangani oleh Sekretaris Menteri Sekretariat Negara Republik Indonesia. Tim penerjemah terdiri dari 6 orang dengan latar belakang pendidikan sarjana (S-1). Latar belakang keilmuwan penerjemah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sastra Inggris dan pendidikan bahasa Inggris. Latar belakang kepegawaian tim penerjemah adalah pegawai negeri sipil di Kantor Kementrian Sekretariat Negara Republik Indonesia. Tim penerjemah belum memiliki pengalaman dalam menerjemahkan buku. Latar belakang ekonomi tim penerjemah cukup bagus, yaitu sebagai PNS yang dijamin penghasilannya oleh negara. Dalam menerjemahkan naskah pidato, tim penerjemah tidak menggunakan standar operasi prosedur (SOP) sebagai acuan standar baku yang mencerminkan bentuk penjaminan mutu dan menjadi pedoman dalam bertugas menerjemahkan naskah pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia. Jadi, standar baku atau SOP tidak dimiliki oleh tim penerjemah dan kantor bidang penerjemahan asisten deputi naskah dan penerjemah deputi dukungan kebijakan kantor Sekretariat Negara RI. Kedua, terdapat 10 teknik yang digunakan oleh penerjemah, yaitu teknik amplifikasi sebanyak 64 data atau 9,37 %, teknik peminjaman sebanyak 107 atau 15,52 % (teknik penerjemahan murni sebanyak 63 data atau 9,22 % dan
peminjaman natural sebanyak 43 data atau 6,30 %) teknik calque sebanyak 67 data atau 9,81 %, teknik deskripsi sebanyak 11 data atau 1,61 %, teknik generalisasi sebanyak 56 data atau 8,20 %, teknik penerjemahan harfiah sebanyak 263 data atau 38,51 %, teknik modulasi sebanyak 35 data atau 5,12 %, teknik reduksi sebanyak 4 data atau 0,59 %, teknik transposisi sebanyak 58 data atau 8,49 %, dan teknik penambahan sebanyak 19 data atau 1,61 %. Ketiga, Terdapat 6 metode penerjemahan yang diterapkan oleh penerjemah, yaitu metode penerjemahan kata demi kata, harfiah, setia, semantik, komunikatif dan idiomatik. Dari 317 data terdapat 2 data atau 0,63 % diterjemahkan dengan menggunakan metode penerjemahan kata demi kata, 112 data atau 35,33 % diterjemahkan dengan menggunakan metode penerjemahan harfiah, terdapat 36 data atau 11,36 % diterjemahkan dengan menggunakan metode penerjemahan setia, 68 data atau 21,45 % diterjemahkan dengan menggunakan metode penerjemahan semantik, 14 data atau 4,42 % diterjemahkan dengan menggunakan metode penerjemahan idiomatik, dan 85 data atau 26,81 % diterjemahkan dengan menggunakan metode penerjemahan komunikatif. Keempat, penerjemahan naskah pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia tahun 2006 ini menggunakan pendekatan idiologi pemerasingan. Hal ini dikarenakan dari 317 data, terdapat 219 data atau 69,09 % diterjemahkan dengan menggunakan idiologi pemerasingan sedangkan 98 data atau 30,91 % diterjemahkan dengan menggunakan idiologi domestikasi. Kelima, dari 317 data, terdapat 109 data atau 34,38 % yang termasuk dalam kategori hasil terjemahan sangat tepat, 159 data atau 50,16 % yang termasuk dalam kategori hasil terjemahan tepat; dan 49 data atau 15,46 % yang termasuk dalam kategori hasil terjemahan kurang tepat. Keenam, dari 317 data, terdapat 249 data atau 78,55 % yang memiliki termasuk dalam berterima dengan baik, 65 data atau 20,50 % termasuk dalam kategori kurang berterima; dan 3 data atau 0,95 % termasuk dalam kategori tidak berterima. Ketujuh, dari 317 data, terdapat 165 data atau 52,05 % yang memiliki tingkat keterbacaan sangat baik, 131 data atau 41,32 % termasuk dalam kategori baik; dan 21 data atau 6,63 % termasuk dalam kategori kurang baik
Berdasarkan hasil temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa; pertama, naskah pidato kenegaraan Presiden RI tahun 2006 diterjemahkan oleh tim yang beranggotakan 6 orang. Latar belakang pendidikan tim penerjemah naskah pidato tersebut adalah sarjana bahasa inggris dengan status kepegawaian sebagai PNS namun memiliki karya terjemahan yang minim. Untuk mendukung mendapatkan pengakuan sebagai penerjemah profesional, para penerjemah perlu meningkatkan kompetensinya dengan mengikuti berbagai kegiatan penerjemahan, baik yang bersifat akademik maupun praktik. Kedua, teknik penerjemahan yang diterapkan oleh penerjemah didominasi oleh teknik ganda yang berfokus pada teknik harfiah. Ketiga, metode penerjemahan yang diterapkan oleh penerjemah didominasi oleh metode penerjemahan harfiah. Keempat, penerjemah cenderung menerapkan ideologi pemerasingan. Terakhir, hasil terjemahan naskah pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia merupakan hasil terjemahan yang baik. Akhirnya, penulis memberikan saran bahwa pertama, perlunya penambahan anggota penerjemah yang memiliki latar belakang bidang ilmu hubungan internasional dan penyunting ahli, khususnya English native speaker. Kedua, perlu diterbitkannya SOP sebagai standar baku atas penjaminan mutu penerjemahan naskah pidato kenegaraan Presiden RI di Kantor Sekretariat Negara RI.

Kata Kunci: Teknik, Metode, Ideologi Penerjemahan, Ketepatan Makna,Kebereterimaan,Keterbacaan dan Naskah Pidato Kenegaraan Presiden RI

ABSTRACT

Anam Sutopo. T120907008. Translation Study on the English Text of the State Address of the President of the Republic of Indonesia Using Holistic Critical Approach. A Doctorate Degree in Linguistics, the Graduate School of Sebelas Maret University of Surakarta. 2012. Promotor : Prof. Dr. Thomas Soemarno, M.Pd., Co-promotor : Prof. Dr. H. D Edi Subroto.

This research focuses on the translated text of the state address of the President of the Republic of Indonesia from bahasa Indonesia into English. This study aims at describing the translators’ background of the English text of the state address of the President of the Republic of Indonesia; formulating the translation technique, method and ideology applied by the translators in translating the state address of the President of the Republic of Indonesia; and describing the accuracy as well as the readibility of the translation text of the state address of the President of the Republic of Indonesia.
This study belongs to qualitatif-descriptive research. The research strategy applied in this study is an embedded case study. The data in this study are words, phrases and sentences found in the translation of the state address of the President of the Republic of Indonesia in 2006 which are written in bahasa Indonesia and English (317 data), the translation experts’ statements about the accuracy and the English native speakers’ statements about the readibility of the translation. The data sources of this study are informants and documents. Informants are the translators of the state address of the President of the Republic of Indonesia in 2006, key informants or translation experts and the English Native Speakers selected with purposive sampling technique. The documents refer to the state address of the President of the Republic of Indonesia in 2006 and its translation and all the statements taken from both translation experts and the English native spekars. The techniques for data collecting applied in this studi are giving questionnaire, in-depth interviewing and content analysis. The data validity used in this study is source and method triangulation. The collected data are analysed by using interactive analysis model.
The findings of the study show that; first, the text of the state address of the President of the Republic of Indonesia in 2006 is translated by a team. It is written in the Decree number 46 of 2006 issued in Jakarta and signed by the Secretary of Minister of State Secretariat Ministry of the Republic of Indonesia. The team consists of six translators with English bachelor degree as the educational background. The translators graduated from English Art and English Pedagogy Departments. The employement status of the translators are public servents. In translating the above text, the translators did not use the procedure operation standard (POS). Second, there are 10 techques of translation applied by the translator. They are amplification technique 64 data or 9,37 %, borrowing technique 107 data or 15,52 % (pure borrowing technique 63 data or 9,22 % and natural borrowing technique 43 data or 6,30 %) calque technique 67 data or 9,81 %, description technique 11 data or 1,61 %, generalization technique 56 data or 8,20 %, literal technique 263 data or 38,51 %, modulation technique 35 data or 5,12 %, reduction technique 4 data or 0,59 %, transposition technique 58 data or 8,49 %, and addition technique 19 data or 1,61 %. Third, from 317 data, there are 2 data or 0,63 % which are translated by using word for word translation method, 112 data or 35,33 % are translated by using literal translation method, 36 data or 11,36 % are translated by using faithfull translation method, 68 data or 21,45 % are translated by using semantic translation method, 14 data or 4,42 % are translated by
using idiomatic translation method, and 85 data or 26,81 % are translated by using communicative translation method. Fourth, the translation ideology applied by the translators in translating the state address of the President of the Republic of Indonesia in 2006 is foregnization ideology. It can be seen that from 317 data, there are 219 data or 69,09 % belong to foregnization ideology while 98 data or 30,91 % apply domestification ideology. Fifth, from 317 data, there are 109 data or 34,38 % belong to very accurate translation, 159 data or 50,16 % belong to accurate translation; while 49 data or 15,46 % belong to less accurate translation. Sixth, from 317 data, there are 249 data or 78,55 % belong to acceptable, 65 data or 20,50 % belong to less acceptable; and 3 data or 0,95 % belong to not acceptable. Seventh, from 317 data, there are 165 data or 52,05 % classify into very good level of readibility, 131 data or 41,32 % have good level of readibility; and 21 data or 6,63 % have fair level of readibility.
Based on the findings above, the writer concludes that first, the state address of the President of the Republic of Indonesia in 2006 was translated by a team consisting of 6 members. The educational background of the translators of the state address of the President of the Republic of Indonesia is bachelor degree in English. Public servant is their carrier background (employment status). They have lack experience in translating a book. Second, the technique of translation applied by the translators is dominated by multy teachnique focusing on literal translation. Third, the translation method applied by the translatiors in translating the state address of the President of the Republic of Indonesia is dominated by literal translation. Fourth, the translators tend to apply foregnization ideology approach in translating the state address of the President of the Republic of Indonesia. Fifth, the writer underlines that the translation of state address of the President of the Republic of Indonesia belong to good translation. It means that the team should be added by the members dealing with international communication skill and experts’ editor in English (English Native Speaker). Finally, the writer recommends that; first, the team should be added by the external members with the international communication background of study and English Native Editor. Second, the Minister of State Secretariat of the Republic of Indonesia needs to publish the procedure operation standard (POS) as the mechanism for translating the state address of the President of the Republic of Indonesia annually.

Key Words : Technique, Method, Ideology of Translation, Accuracy, Acceptability,Readibility, and State Address of President of Republic of Indonesia