Tataniaga Jagung di Kabupaten Grobogan

ABSTRAK

Nur Widiastuti, S641008005. 2012. Tataniaga Jagung di Kabupaten Grobogan. Tesis : Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dibawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Endang Siti Rahayu, M.S. dan Dr. Ir. Mohammad Harisudin, M.Si.

Jagung telah menjadi salah satu komoditas pertanian Indonesia yang penting. Permintaan jagung mengalami peningkatan sejalan dengan berkembangnya industri pakan dan pangan. Kabupaten Grobogan sebagai salah satu sentra produksi jagung di Jawa Tengah, berpotensi mengambil peluang pasar tersebut melalui sistem tataniaga yang lebih efisien.
Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi pola saluran tataniaga jagung yang terbentuk di Kabupaten Grobogan; (2) mengetahui marjin pemasaran dan farmer’s share; (3) mengetahui struktur pasar; (4) mengetahui perilaku pasar; dan (5) mengetahui tampilan pasar.
Penelitian ini menggunakan metode survei. Petani responden sebanyak 120 orang dipilih secara acak dari delapan desa yang dipilih secara purposive. Lembaga perantara dipilih secara snowball sampling. Saluran pemasaran dijelaskan secara deskriptif dan efisiensi pemasaran dianalisis dengan pendekatan (1) marjin pemasaran dan farmer’s share (2) konsentrasi rasio untuk mengetahui struktur pasar jagung; (3) korelasi dan elastisitas transmisi harga untuk mengetahui perilaku pasar jagung, yakni korelasi untuk keterpaduan pasar jagung secara horizontal; elastisitas transmisi harga untuk mengetahui keterpaduan pasar jagung secara vertikal; dan (4) marjin pemasaran dan share keuntungan untuk mengetahui penampilan pasar.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) saluran pemasaran jagung terdiri dari sembilan macam dan dapat diidentifikasi satu macam saluran yang paling efisien dan terbaik, yaitu petani – pedagang pengumpul kecamatan – perusahaan makanan ternak dengan marjin pemasaran terkecil (62,50%) dan farmer’s share terbesar ( 37,50%). Saluran ini digunakan oleh banyak petani di daerah penelitian. Sebagian petani juga memasarkan jagung melalui saluran lebih panjang, yaitu petani – pedagang pengumpul desa – pedagang besar – perusahaan makanan ternak. Saluran ini terpaksa digunakan, karena prasarana transportasi dan komunikasi yang kurang memadai sehingga petani terikat dengan pedagang; (2) marjin pemasaran menyebar tidak merata, yaitu antara 62,50% - 71,07% dengan farmer’s share antara 37,50% - 28,93%; (3) struktur pasar di tingkat pedagang pengumpul desa bersifat oligopsoni konsentrasi sedang, di tingkat pedagang pengumpul kecamatan bersifat oligopsoni konsentrasi dan di tingkat pedagang besar bersifat oligopsoni kosentrasi tinggi; (4) perilaku pasar ditunjukkan dengan tidak sempurnanya keterpaduan harga jagung pada pasar yang satu dengan harga jagung pada pasar yang lain, baik secara horisontal maupun vertikal; dan (5) penampilan pasar ditunjukkan dengan marjin pemasaran yang relatif besar, farmer’s share yang kecil dan share keuntungan yang besar dan tidak merata. Hal ini menunjukkan bahwa pemasaran hasil jagung kurang efisien, sehingga merugikan pedagang tingkat bawah dan petani yang berposisi paling bawah.

Kata kunci : tataniaga, jagung, efisiensi, marjin, struktur, perilaku.

ABSTRACT

Nur Widiastuti, S641008005. 2012. The Marketing of Corn in The Grobogan Regency. Thesis: Post Graduate Program of Sebelas Maret University Surakarta. Under Direction by of Prof. Dr. Ir. Siti Endang Rahayu, M.S. and Dr. Ir. Harisudin Mohammad, M.Sc.

Corn has become one of Indonesia’s most important agricultural commodities. Demand for corn has increased in line with the development of feed and food industries. The Grobogan Regency as a center of maize production in the Central Java, has the potential to take market opportunities through a more efficient system of marketing.
This study aims: (1) identify the patterns that form channels in marketing of corn in the Grobogan Regency, (2) knowing marketing margin and farmer’s share; (3) knowing the marketing structure; (4) knowing the marketing conduct; and (5) knowing the marketing performance.
This study uses survey methods. Farmers and over 120 respondents were randomly selected from eight villages purposively selected. Intermediary institutions selected by snowball sampling. The marketing channels are described in the descriptive and marketing efficiency are analyzed with the approach (1) the marketing margins and the farmer’s share (2) the concentration ratio to determine the structure of the corn market, (3) the correlation and elasticity of price transmission to determine the conduct of the corn market, the correlation for the integrity of the corn market horizontally; elasticity of price transmission to determine the vertical integration of corn markets, and (4) the marketing margins and profits to determine the share market performance.
These results indicate that (1) marketing channel consists of nine kinds of corn and a variety of channels can be identified in the most efficient and best, the farmers - traders district - animal feed companies with the smallest marketing margin (62.50%) and the farmer’s share the largest (37.50%). This channel is used by many farmers in the study area. Some farmers also market their corn through the channel is longer, the farmers - the village traders - wholesalers - animal feed companies. These channels had to be used, because of transportation and communication infrastructure is inadequate so that the farmers are bound by the traders, (2) marketing margin unevenly spread, which is between 62.50% - 71.07% with the farmer’s share of 37.50% - 28, 93%, (3) the market structure at the village level traders are oligopsony concentration was, at the district level traders are oligopsony concentration and the level of wholesalers are oligopsony high concentration, (4) the market conduct with imperfect alignment shown maize prices on the market the one with the market price of corn on the other, either horizontally or vertically, and (5) market performance is indicated by the relatively large marketing margins, a small farmer’s share and share of profits and uneven. This suggests that the marketing of corn is less efficient, to the detriment of lower-level traders and farmers who are positioned at the bottom.

Key words: marketing, corn, efficiency, margin, structure, conduct.