THE DESIGN PROPERTIES OF SPLIT MASTIC ASPHALT WITH BAGASSE ASH

ABSTRACT
ABDALLH A.A. LHWAINT, S941302029, 2014. THE DESIGN PROPERTIES OF SPLIT MASTIC ASPHALT WITH BAGASSE ASH. THESIS. Supervisor I Ir. Ary Setyawan, M.Sc(Eng).,Ph.D., Supervisor II Ir. Winny Astuti, M.SC.,Ph.D. Program Study of civil engineering, Post graduate Program of Sebelas Maret University, Surakarta.

Go green campaign is one of ways to safe the earth from garbage. This campaign not only suggestsrecycling and reducing but also reusing the garbage. In line with the go green campaign, the aim of this study is to achieve the viability of using Bagasse Ash (BA) as additive material in hot mix Split Mastic Asphalt (SMA) with certain comparison which is expected to improve the quality of SMA.
This research was conducted by using experiment research design in comparison among the three types of (without BA and with BA)properties of the hot SMA toward the Marshall properties (stability, flow, Marshall Quotient (MQ), Void In Total Mix (VITM), Void Filled Without Asphalt (VFWA),and Air Void to get Optimum Bitumen Content ,Indirect Tensile Strength (ITS) at different temperature (20oC,40oC,60oC) and Unconfined compressive at same temperature room at 27oC but different percentage of BA (3%,4% ,5%).
The results of this research are as follows: 1) the properties of the hot mix SMA toward the Marshall properties are: The stability value of SMA with BA is higher than SMA withoutBA by 3%; The flow value of SMA with BA is lower than SMA without BA by 5.5%; The Marshall Quotient value of SMA with BA is higher than SMA without BA by 5%; TheAir void value of SMA withBA is lower than SMA withoutBA by 3%; The VFWA value of SMA with Bagasse Ash is higher than SMA without BA by 75.87%; The Air Void value of SMA with BA is lower than SMA without BA by 2%.In terms of ITS value, the value of ITS is high when BA is combined with low temperature; but when the temperature is increased, the value of ITS decreases. Moreover, in terms of UCS, the value of UCS of BA mixture is higher than SMA and higher than normal mixture at normal temperature. The recommendation of this research is that a certain percentage of air voids is necessary in all dense-graded mixes to prevent the pavement from flushing, shoving, and rutting. Air voids may be increased or decreased by lowering or raising the binder content. They may also be increased or decreased by controlling the amount of material passing the No. 200 sieve in the HMA. The more fines added to the HMA generally the lower the air voids. The air voids may be changed by varying the aggregate gradation in the HMA.

Keywords: Bagasse Ash, Split Mastic Asphalt, ITS, UCS

ABSTRAK
ABDALLH A.A. LHWAINT, S941302029, 2014. THE DESIGN PROPERTIES OF SPLIT MASTIC ASPHALT WITH BAGASSE ASH. TESIS. Pembimbing I Ir. Ary Setyawan, M.Sc(Eng).,Ph.D. Pembimbing II Ir. Winny Astuti, M.SC.,Ph.D. Program Studi Magister Teknik Sipil, Program Pasca Sarjana, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Kampanye Go Green adalah salah satu cara untuk mengamankan bumi dari sampah. Kampanye menggunakannya kembali. Sejalan dengan hal tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk menggunakan abu ampas tebu sebagai bahan aditif campuran aspal panas perpecahan (Spilt Mastic Asphalt/ SMA) )dengan perbandingan tertentu yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas SMA.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan penelitian eksperimen dengan membandingkan tiga jenis(tanpa abu ampas tebu dan dengan abu ampas tebu) dengan menggunakan beberapa uji diantaranya (stability ,flow, Marshall Quotient (MQ), Void In Total Mix (VITM), Void Filled Without Asphalt (VFWA), dan Air Void untuk mendapatkan Optimum Bitumen Content,Indirect Tensile Strength (ITS) pada suhu yang berbeda (20oC, 40oC, 60oC) dan Unconfined compressive pada suhu kamar yang sama pada suhu 27oC tetapi pada persentase yang berbeda untuk abu ampas tebu (3%, 4%, 5%).
Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:Nilai stabilitas (stability) SMA dengan abu ampas tebu lebih tinggi dari SMA tanpa abu ampas tebu sebesar 3%;Nilai aliran (flow) SMA dengan abu ampas tebu lebih rendah dari SMA tanpa abu ampas tebu sebesar 5,5%; Marshall quotient SMA dengan abu ampas tebu lebih tinggi dari SMA tanpa abu ampas tebu sebesar 5%; Nilai Air Voiddari SMA dengan abu ampas tebu lebih rendah dari SMA tanpa abu ampas tebu sebesar 3%;Nilai VFWA SMA dengan Retona lebih tinggi dari SMA tanpa abu ampas tebu dengan nilai 75.87%; Nilai Air Void SMA dengan abu ampas tebu lebih rendah dari SMA tanpa abu ampas tebu sebesar 2 %. Dalam hal nilai ITS, nilai ini tinggi ketika abu ampas tebu di kombinasikan dengan suhu rendah; tetapi ketika suhu di tingkatkan, nilai ITS menurun. Selainitu, dalam hal UCS, nilai UCS campuran abu ampas tebu lebih tinggi dari SMA dan lebih tinggi dari campuran normal padasuhu normal.Rekomendasi dari penelitian ini adalah persentase tertentu dari rongga udara di perlukan dalam semua campuran padat untuk mencegah jalanan dari pembilasan, dorongan, dan bekas roda. Rongga udara dapat ditambah atau dikurangi dengan menurunkan atau menaikkan kadar aspal. Rongga udara juga dapat ditambah atau dikurangi dengan mengontrol jumlah agregatmelewati Nomor 200 saringan di HMA.Semakin banyak bahan halus ditambahkan ke HMA umumnya dapat merendah kanrongga udara.Rongga udara dapat di ubah dengan memvariasikan gradasiagregat di HMA.

Kata kunci: abuampastebu, Split MasticAsphalt,ITS,UCS