Fenomena Dakwah Jamaah Tabligh dalam Perspektif Interaksionisme Simbolik

ABSTRAK

Joni Rusdiana, S220809007, 20015, Fenomena Dakwah Jamaah Tabligh dalam Perspektif Interaksionisme Simbolik, Program Pascasarjana. Universitas Sebelas Maret Surakarta, Dra. Prahastiwi Utari, M.Si.,Ph.D., Sri Hastjarjo, S.Sos., Ph.D.

Berbagai gerakan berbasis Islam banyak dan mudah ditemui di Indonesia. Sebagian lahir dan berkembang di Indonesia sementara yang lain merupakan gerakan transnasional. Sebagai suatu gerakan berbasis agama menjadi keniscayaan bahwa mereka menyebarkan ajaran dan keyakinan mereka kepada masyarakat. Aktivitas demikian dalam Islam biasa dikenal dengan istilah dakwah. Dakwah berupa ceramah, mengadakan kajian atau tabligh akbar menjadi metode yang populer dalam menyebarkan keyakinan dan ajaran mereka. Kesamaan berikutnya yang tampak dari dakwah gerakan Islam yaitu memanfaatkan media massa sebagai sarana dakwah. Bahkan banyak juga di antara gerakan Islam yang memiliki media massa sendiri dan dikelola cukup serius.
Berbeda dengan gerakan-gerakan Islam secara umum, Jamaah Tabligh memiliki metode yang unik dalam berdakwah. Para pekerja dakwah mendatangi rumah-rumah di sekitar masjid tempat tinggal mereka, mengajak untuk sholat berjamaah atau mendengarkan ceramah di masjid. Aktivitas ini biasa disebut jaulah. Secara rutin mereka juga pergi meninggalkan keluarga dan pekerjaan untuk berdakwah ke daerah lain selama 3 hari, 40 hari atau 4 bulan. Aktivitas ini biasa disebut khuruj fii sabilillah (keluar di jalan Allah) atau biasa disebut khuruj saja.
Di tengah kehidupan masyarakat kita sekarang, maka aktivitas yang dilakukan Jamaah Tabligh tampak sebagai suatu perilaku atau kebiasaan yang aneh. Bagaimana Jamaah Tabligh memaknai konsep dakwah dan realitas sosial (objek) lain yang melingkupinya, itulah masalah yang diteliti. Dua masalah berikutnya yang diteliti yaitu; bagaimana makna-makna tersebut terbangun dan bilamana dan bagaimana Jamaah Tabligh mempertahankan atau memodifikasi makna-makna realitas sosial yang mereka bangun?
Tiga premis dasar interaksionisme simbolik yang dirumuskan oleh Blumer, peneliti gunakan untuk membedah tiga masalah tersebut. Peneliti ini menggunakan metode etnografi, dengan dua metode teknik pengumpulan data yaitu observasi partisipatif dan wawancara mendalam. Untuk memeriksa keabsahan data, peneliti menggunakan dua metode yaitu triangulasi sumber member check.
Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan yang memperlihatkan bahwa fenomena dakwah Jamaah Tabligh secara umum bersesuaian dengan tiga premis Interaksionisme Simbolik Blumer. Berdasarkan tiga premis Blumer tersebut didapati temuan bahwa makna dakwah dalam Jamaah Tabligh cukup berbeda dengan makna dakwah yang berkembang di masyarakat. Rata-rata masyarakat memahami dakwah identik dengan ceramah, cenderung mengajak kepada golongan, untuk memperbaiki orang lain dan merupakan tugas orang tertentu seperti ulama, kiyai, ustad, dan santri.
Bagi Jamaah Tabligh pemahaman seperti ini keliru. Menurut Jamaah Tabligh dakwah adalah mengajak orang lain agar taat kepada Allah swt, bukan kepada golongan, organisasi, atau mazhab tertentu. Namun demikian tujuan dakwah bukan memperbaiki orang lain. Tujuan utama dakwah dalam Jamaah Tabligh adalah untuk memperbaiki diri sendiri sehingga dakwah menjadi tugas bahkan kewajiban bagi setiap orang Islam. Perbaikan diri yang dimaksud terutama adalah perbaikan iman kemudian amal sholeh.
Jamaah Tabligh sangat meyakini apabila dakwah dijalankan maka sekian banyak manfaat atau keuntungan akan dirasakan umat Islam. Sebaliknya apabila dakwah tidak dijalankan maka sekian banyak kerugian dan musibah akan menimpa umat Islam. Dakwah yang dimaksud adalah berupa khuruj dan jaulah. Khuruj yaitu pergi beberapa waktu (biasanya 3 hari, 40 hari atau 4 bulan) meninggalkan keluarga dan pekerjaan untuk mmenyebarkan agama di wilayah lain. Sedangkan jaulah adalah berkeliling di tengah-tengah masyarakat untuk mengajak mereka taat kepada Allah swt. Dua cara ini, yaitu khuruj dan jaulah, menurut Jamaah Tabligh wajib dilakukan karena merupakan asli dakwah yang dilakuka Nabi dan para sahabat.
Serangkaian makna dakwah yang dimiliki Jamaah Tabligh ini terbangun sejak awal gerakan ini dimulai yaitu oleh Maulana Muhammad Ilyas. Bermula dari pengalaman ( interaksi sosial) keluarga Maulana Ilyas dalam membimbing penduduk Mewat. Pengalaman yang akhirnya membawa Maulana Ilyas pada kesimpulan bahwa madrasah bukanlah solusi yang tepat dalam memperbaiki masyarakat secara menyeluruh. Kondisi ini membuat Maulana Muhammad Ilyas merasakan kegelisahan yang serius. Sampai ketika Maulana Muhammad Ilyas melaksanakan ibadah hajinya yang kedua, pada tahun 1927, ia mendapat semacam ilham dari Tuhan. Suatu kepahaman mengenai metode dakwah sebagaimana yang dijalankan nabi dan para sahabat yaitu dengan motode khuruj dan jaulah.
Di sini juga berlaku pramis Blumer yang ke tiga yaitu makna dipertahankan atau dimodifikasi melalui proses interpretif. Awalnya Maulana Ilyas memilih madrasah sebagai metode memperbaiki masyarakat, kemudian ia mengevaluasi, mempertahankan sambil terus melakukan evaluasi sampai pada kesimpulan bahwa madrasah bukan solusi yang tepat untuk memperbaiki masyarakat. Selanjutnya Maulana Ilyas menerapkan metode yang lain yaitu dakwah dan tabligh. Metode yang diperolehnya bukan dari proses interaksi sosial, melainkan diperolehnya dari ilham yang diberikan Tuhan.
Pada fenomena ini tampaknya perspektif Interaksionisme Simbolik mengalami keterbatasan dan tidak mampu menjelaskan. Interaksionisme Simbolik meyakini bahwa makna selalu didapatkan dalam interaksi sosial yaitu interaksi dengan sesama manusia. Sementara makna dakwah dalam Jamaah Tabligh di dapatkan Maulana Muhammad Ilyas sebagai ilham atau pemberian langsung dari Allah swt.

(Keyword: dakwah,khuruj, jaulah, Jamaah Tabligh, Interaksionisme Simbolik, Blumer)

ABSTRACT

Joni Rusdiana, S220809007, 2015, The Phenomena of Tablighi Jamaat Propagation in the Perspective of Symbolic Interactionism, Magister Program. Sebelas Maret University, Dra. Prahastiwi Utari, M.Si.,Ph.D., Sri Hastjarjo, S.Sos., Ph.D.

Various Islamic-based movement are abundant and can be easily found in Indonesia. Some of them born and developed in Indonesia while the others are trans-national movement. As a faith-based movement it becomes inevitable or possible that they spread their teachings and beliefs to the public. Such activities in Islam is commonly known as Dakwah. Da’wah in a form of lectures, conducting studies or Tabligh Akbar became a popular method of spreading their beliefs and teachings. The next similarity is visible from the preaching of Islamic movements that utilize the mass media as a means of propagation. Even many of the Islamic movement have their own mass media and managed it quite serious.
Unlike the Islamic movements in general, Tablighi Jamaat has a unique method of preaching. Tablighi Workers visiting houses around the mosque, inviting to pray or listen to Islamic lectures in mosques. This activity is commonly called Jaulah. Routinely they also leave family and job to preach to other areas for 3 days, 40 days or 4 months. This activity is commonly called Khuruj Fi Sabilillah (Go in the path of Allah) or so-called khuruj only.
In the midst of our today’s society, the activities conducted by Tablighi Jamaat appears as a strange behavior or habit . How Tablighi Jamaat interpret the concept of Dakwah and the other social reality (object) which surrounding it, that the problem is being investigated. The next two issues which were argued; how the meanings are awaken and when and how the Tablighi Jamaat maintain or modify the meanings of the constructed social reality?
There are three basic premises of symbolic interactionism formulated by Blumer which is used by the researcher to solve these three problems. The researchers used ethnographic methods along with two methods of data collection techniques: participatory observation and in-depth interviews. To check the validity of the data, researchers used two methods of triangulation of member check.
From the conclusion, it showed that the phenomenon of Tablighi Jamaat propagtion or dakwah in general corresponded with three premises of Blumer’s Symbolic interactionism. Based on three Blumer’s premise it can be found that the significance of dakwah or propagation of Tablighi Jamaat is quite different from the meaning of propagation or preaching developed in the mids of society. Commonly people understand that Dakwah or propagation is synonymous with the religious speeches or sermon, it tends to invite to the group, to rectify or improve others spirituality and it is the duty of particular people such as the Ulama (clergy), Kiyai (Islamic scholar), religious teachers, and santri or religious students.
For Tablighi Jamaat such understanding is wrong. According Tablighi Jamaat dakwah or proselytizing is to invite others to obey Allah, not to the group, organization, or a particular school. However, the purpose of dakwah is not to rcctify or improve others sprituality. The main purpose of propaganda in Tablighi Jamaat is to improve ourrself so that the preaching task even more it is obligation for every Muslim. Self-improvement is this case mainly the improvement of faith then good deeds.
Tablighi Jamaat strongly believes if dakwah or propagation is conduted so many benefits or advantages will be achieved by Muslims. Conversely, if dakwah or propagation does not work so many losses and misfortune will befall on Muslims. Da’wah in this case is in the form of khuruj and jaulah. Khuruj is going for temporary moments (usually for 3 days, 40 days or 4 months) leaving their families and work for religious propagation other regions. While jaulah is go around in the mids of the community to encourage them to obey Allah. These two ways, namely khuruj and jaulah, according to Tablighi Jamaat must be done because it is a genuine propagating conducted by the Prophet Muhammad PBUH and his sahaba or Companions.
The series of the meaning of dakwah owned by Tablighi Jamaat is awakened from the outset of movement started by Maulana Muhammad Ilyas. Starting from the family experience (social interaction) of Maulana Ilyas in guiding the residents Mewat. The experience which eventually led to the conclusion that the madrassa or islamic boarding house of Maulana Ilyas was not the right solution to improve society thoroughly. This condition makes Maulana Muhammad Ilyas felt a serious anxiety. And when Maulana Muhammad Ilyas conducting the worship of second Hajj in 1927, he got a sort of inspiration from God. It is an enlightment that he should conduct the methods of propagation or dakwah as it was conducted by prophet Muhammad PBUH and his companions that was the method of khurudj and jaulah.
In this point it applies Blumer’s third premise that the meaning is maintained or modified through an interpretive process. Maulana Ilyas initially chose the madrassa as a method of improving society, then he evaluated, while continuing to maintain the evaluation came to the conclusion that the madrasah is not the right solution to improve society. Furthermore, Maulana Ilyas apply another method, namely preaching and sermons. The method is not obtained from the process of social interaction, but it was obtained from the inspiration of God.
At this phenomenon, it seems that the perspective of Symbolic interactionism faced limitations and it is not able to explain the phenomenon. Symbolic interactionism believes that meaning is always obtained in social interaction that is the interaction with fellow human beings. At the same time, the significance of dakwah or propagation of Tablighi Jamaat of Maulana Muhammad Ilyas in taken as the inspiration or enlightment or a direct gift from Allah the Almighty.

(Keyword: dakwah, khuruj, jaulah, Jamaah Tabligh, Simbolic Interaksionism, Blumer)