PEMANFAATAN SERBUK BIJI KELOR (Morenga Oleifera) DAN ZEOLIT DALAM TEKNOLOGI PENJERNIHAN AIR

SLAMET, Pemanfaatan Serbuk Biji Kelor (Morenga oleifera) dan Zeolit dalam Teknologi Penjernihan Air. Tesis, Surakarta: Program Study Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Penelitian ini bertujuan : 1) untuk mengetahui koagulan Biji Kelor (Moringa oleifera ) dan zeolit dalam teknologi penjernihan air. 2) untuk mengetahui formula yang tepat dalam bentuk serbuk biji kelor (Moringa oliefera) dan Zeolit dalam teknologi penjernihan air. 3) untuk mengetahui formula yang tepat dalam bentuk tablet biji kelor (Morenga oleifera) dan zeolit dalam teknologi penjernihan air.

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Sampel penelitian ini adalah air sungai Bengawan Solo dengan titik pemgambilan air di bawah Jembatan Bacem yang terletak di Dusun Bacem RT 5/ RW V Grogol Sukoharjo. Serbuk Biji Kelor (Morenga oleifera) dan Zeolit yang digunakan untuk penjernihan air dalam bentuk serbuk (tepung) dan bentuk tablet. Perbandingan koagulan yang digunakan dalam bentuk serbuk adalah 4 liter air : 4 gram serbuk kelor : 4 gram serbuk zeolit, 4 liter air : 8 gram serbuk kelor : 8 gram serbuk zeolit, dan 4 liter air : 12 gram serbuk kelor : 12 gram serbuk zeolit. Perbandingan koagulan dalam bentuk tablet adalah : 4 liter air : 8 gam Tablet biji kelor dan zeolit, 4 liter air : 16 gram tablet biji kelor dan zeolit, dan 4 liter air : 24 gram tablet biji kelor dan zeolit. Proses penelitian dilakukan di Lab. Pusat UNS. Langkah-langkah penelitian yang dilakukan : memasukkan 4 liter air ke dalam bak, memasukkan koagulan ke dalam bak air, dilakukan pengadukan selama 3 menit dengan putaran 100 kali permenit, diendapkan selama 3 jam, air hasil penjernihan dimasukkan dalam botol yang stiril, dilakukan pengujian di Lab. Pusat UNS dengan parameter persyaratan baku mutu kualitas air minum yang meliputi indikator fisika : suhu, dan TDS. Indikator kimia : pH, besi, mangan, seng, nitrit, klorida, kesadahan total, timbal, kadmium, nitrat, sulfat, dan tembaga. Indikator mikrobiologi : Coliform dan E. Coli. Hasil penelitian, perbandingan koagulan dalam bentuk serbuk yang paling efektif adalah 4 liter air : 8 gram sebuk kelor : 8 gram serbuk zeolit. Hasil indikator fisika kandungan TDS baku mutu 1000 mg/L > 337,67 mg/L. Indikator kimia : pH 6,99, indikator kimia yang mengalami penurunan berturut-turut adalah: Besi dari 0,514 mg/L turun menjadi 0,12 mg/L, Mangan dari 0,058 mg/L turun menjadi 0,05 mg/L, Nitrit dari 0,062 mg/L turun mrnjadi 0,05 mg/L, Klorida dari 25,42 mg/l turun menjadi 23,57 mg/L, Tembaga dari 0,049 mg/L turun menjadi 0,03 mg/L. Indikator Mikrobiologi: Coliform dari 2400 sel/100 ml turun menjadi 813,3 sel/100 ml, dan E. Coli. dari 2400 sel/100 ml turun menjadi 524,67 sel/100 ml.
Perbandingan koagulan dalam bentuk tablet yang paling efektif adalah 4 liter air : 18 gram tablet biji kelor dan zeolit. Hasil indikator fisika TDS baku mutu 1000 mg/L > 155,5 mg/L. Indikator kimia: pH 7,045, Besi dari 0,514 turun menjadi 0,1225, Mangan dari 0,058 mg/L turun menjadi 0,001 mg/L, Seng dari 0,04 mg/L turun mrnjadi 0,001 mg/L, Klorida dari 25,42 mg/L turun menjadi 20,75 mg/L, Kesadahan total dari 105,28 mg/L turun menjadi 75,1 mg/L, Sulfat dari 0,93 mg/L turun menjadi 0,5155, dan Tembaga dari 0,049 mg/L turun menjadi 0004 mg/L. Indikator mikrobiologi: Coliform dari 2400 sel/100 ml turun menjadi 1535 sel/100 ml, E. Coli dari 2400 sel/ 100 ml turun menjadi 1290 sel/100 ml. Hasil uji statistik perbadingan campuran tidak signifikan terhadap penurunan kandungan parameter fisika, kimia dan mikrobiologi. Penelitian ini menyarankan untuk dilakukan penelitian lanjutan dengan bentuk Serbuk yang lebih bervariatif.
Kata kunci : Penjernihan air, Serbuk Biji kelor, Zeolit.