Mahasiswa S3 IKM a.n. Kori Puspita Ningsih telah Memenangkan Lomba Karya Tulis yang diselenggarakan oleh Markas Besar Legiun Veteran Republik Indonesia

Pada tanggal 6 September 2021, berdasarkan surat keputusan DPP LVRI Nomor: SKEP-33/MBLV/11/09/2021 tentang Pemenang Lomba Karya Tulis dan Desain Poster dalam Rangka Memperingati Hari Veteran Nasional (Harvetnas) Th. 2021, Mahasiswa S3 IKM a.n. Kori Puspita Ningsih telah Memenangkan Lomba Karya Tulis Juara 2 dalam Kategori II : Lomba karya Tulis tentang Sejarah Perjuangan Daerah.

Ujian Seminar Proposal Disertasi Mahasiswa S3 IKM a.n. Anis Nur Hidayati

Pada tanggal 02 September 2021, telah dilaksanakan Ujian Seminar Proposal Disertasi Mahasiswa a.n. Anis Nur Hidayati NIM T511908001 dengan judul “Model Promosi Kesehatan dengan Home Blood Pressure Monitoring untuk Peningkatan Perilaku Pengendalian Hipertensi pada Ibu Hamil” ujian proposal ini dilakukan secara daring melalui platform Zoom.

Epi-SMart: Media Pembelajaran Model E-Learning di Masa Pandemi

Di tengah masa pandemi, Universitas Sebelas Maret berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya dalam bidang digital. Tim peneliti FK UNS dan Tim HITIHE (Health Information and Technology for Improved Health Education in South-East Asia) oleh Erasmus+ mengembangkan media pembelajaran berbasis aplikasi yang disebut dengan Epi-SMart. Project Digital Transformation of the Epidemiology Module for Clinical Education of Sebelas Maret (Epi-Smart) ini didanai oleh The Institute of Tropical Medicine. Aplikasi ini diharapkan tidak hanya dapat membantu proses pembelajaran mahasiswa. Aplikasi Epi-SMart dapat diunduh dengan menggunakan smartphone berbasis andoid, dilengkapi fitur-fitur khusus di bidang epidemiologi, seperti materi yang dapat langsung terhubung dengan video edukasi, kalkulator epidemiologi, scenario based study serta soal-soal dan pembahasan.

Tampilan aplikasi Epi-SMart dibuat secara unik sehingga menarik minat pengguna untuk menjalankan proses pembelajaran dengan kesan lebih menyenangkan. Proses instalasi dan pendaftarannya pun cukup mudah, hanya membutuhkan alamat email dan nomor HP. Terdapat pilihan 2 bahasa dalam aplikasi ini yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Konten yang disajikan cukup lengkap untuk menunjang proses pembelajaran. Materi terkait epidemiologi dilengkapi dengan video untuk memudahkan proses pemahaman materi. Latihan soal yang disajikan sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) sehingga dapat melatih mahasiswa untuk menghadapi uji kompetensi. Pembahasan soal disusun secara menarik agar lebih mudah untuk dipahami.

  

Aplikasi ini sudah diuji coba kepada dokter muda stase Ilmu Kesehatan Masyarakat dan stase Integrasi. Dokter muda diberi kesempatan untuk memberikan masukan dan evaluasi demi pengembangan aplikasi menjadi lebih baik. Dokter muda merasa cukup puas dengan aplikasi Epi-SMart sebagai media pembelajaran Epidemiologi.

Kegiatan Dosen S3 IKM UNS Dalam Bidang Interprofessional Education dan Collaboration

Dosen S3 IKM UNS, Dr Eti Poncorini Pamungkasari, pada bulan Juni-Juli 2021, mengisi tiga agenda kegiatan terkait Interprofessional Education dan Collaboration, yaitu:

  1. Pembicara pada Webinar nasional Indonesian Medical and Health Profession Education, pada tanggal 24 Juni 2021, dengan materi Prinsip Interprofessional Education and Collaboration
  2. Pembicara pada Workshop di program studi D3 Kebidanan Sekolah Vokasi UNS pada tanggal 2 Juli 2021, dengan materi Prinsip Dasar IPEC
  3. Pembicara pada workshop di Poltekkes Yogyakarta pada tanggal 25 Juli 2021, dengan materi Konsep Kolaborasi Interprofesi pada Pelayanan Kesehatan.

Training Enumerator SUNI-SEA Project Indonesia untuk Kota Surakarta dan Kabupaten Batang

Scaling-up NCD Interventions in South-East Asia (SUNI-SEA) Project Indonesia merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan strategi inovatif dalam usaha menekan epidemi penyakit tidak menular, terutama diabetes mellitus dan hipertensi, di dunia. Salah satu tahapan yang kami lakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah pengambilan data tentang pengetahuan dan status kesehatan masyarakat di Indonesia.

Pada hari Sabtu, 17 Juli 2021, SUNI-SEA Project Indonesia melakukan pelatihan kepada enumerator, yang terdiri dari field coordinator (FC) dan data collector (DC) di Kota Surakarta dan Kabupaten Batang. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada enumerator untuk melakukan pengambilan data menggunakan Aplikasi KOBO Collect. Aplikasi ini merupakan salah satu perangkat lunak yang dapat digunakan untuk melakukan pengambilan data secara luring.

Training dimulai pada pukul 07.30, diawali dengan pre-test, yang dilanjutkan dengan kegiatan pengenalan Aplikasi KOBO Collect dan simulasi pengisian form KOBO luring dan video secara bersama sama, berdasarkan skenario yang sudah disusun sebelumnya. Selanjutnya, training dilakukan secara interaktif. Kegiatan training sesi pertama ditutup dengan evaluasi peserta terhadap kegiatan simulasi pengambilan data.

Selanjutnya, kegiatan training dilanjutkan dengan pemaparan dan pengenalan SUNI-SEA Project Indonesia, dan perkenalan tim peneliti serta asisten penelitian. Kegiatan training diakhiri dengan Quizziz, post-test, serta sesi tanya jawab, dan ditutup pada pukul 15.00 WIB.

Makanan Sehat untuk Melawan Pandemi Covid-19

Oleh Amelya Augusthina Ayusari

MENGHADAPI pandemi Covid-19 diperlukan kerjasama semua pihak, baik individu, masyarakat, maupun pemerintah. Sebagai individu, seseorang dianjurkan untuk menerapkan pola hidup sehat dan 5M yang terdiri dari memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, mengurangi mobilitas, dan menghindari kerumunan.

Dalam menerapkan hidup sehat, mengonsumsi makanan sehat merupakan salah satu upaya yang membantu pencegahan dan meghindari dampak buruk infeksi virus ini. Tujuan mengonsumsi makanan sehat adalah agar tercukupinya berbagai macam zat gizi yang dapat mengoptimalkan daya tahan tubuh melawan infeksi kuman penyakit, dalam hal ini virus Covid-19.

Apa sajakah makanan sehat untuk melawan dampak buruk infeksi virus Covid-19?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)makanan sehat merupakan makanan yang memenuhi kebutuhan gizi seseorang, bergizi seimbang, berisi makanan pokok, lauk-pauk, sayur dan buah-buahan yang bervariasi. Faktor yang menentukan kebutuhan gizi adalah berat badan, tinggi badan, usia, jenis kelamin, tingkat aktivitas fisik, dan kondisi fisiologis.

Dalam menghadapi infeksi virus, syarat makanan sehat yang perlu diperhatikan berupa kecukupan kalori, kecukupan makronutrien (karbohidrat, lemak dan protein), dan kecukupan vitamin dan mineral. Pemerintah indonesia telah menerapkan “Isi Piringku” sebagai panduan umum kebutuhan makanan seseorang. Dalam sehari, seseorang memerlukan 3 kali makan besar dan 2-3 kali kudapan/selingan, dan dianjurkan mengurangi asupan gula, garam dan lemak.

Vitamin dan mineral yang dibutuhkan di antaranya adalah vitamin A, D, E, C, B16, B12, asam folat, seng, zat besi, tembaga, magnesium, selenium dan lainnya. Meskipun penelitian mengenai zat gizi yang bermanfaat melawan virus Covid-19 melalui pengaturan daya tahan tubuh masih terus dilakukan, namun akhir-akhir ini vitamin C, vitamin D dan seng telah banyak diteliti manfaatnya dalam melawan dampak buruk infeksi virus covid-19.

Dalam pemenuhan kebutuhan harian akan zat gizi ini, seseorang perlu mengetahui angka kecukupan gizi (AKG). AKG adalah suatu nilai yang menunjukkan kebutuhan rata-rata zat gizi tertentu yang harus dipenuhi setiap hari bagi hampir semua orang dengan karakteristik tertentu untuk melaksanakan hidup sehat. AKG merupakan kecukupan rata-rata gizi sehari bagi hampir semua orang sehat di suatu negara. Berdasarkan AKG, kebutuhan vitamin C seseorang adalah sebesar 75-90mg/hari, vitamin D sebesar 15-20mcg per hari dan seng 8-11mg per hari.

Vitamin C banyak terdapat pada buah kiwi, jambu biju, cabai hijau, pepaya, brokoli, stroberi, lemon dan jeruk. Setiap 100 gram buah kiwi mengandung 92,7 mg vitamin C. Pada setiap 100 gr jambu biji mengandung 87 mg dan setiap 100 gram cabai hijau mengandung 84 mg.

Kemudian setiap 100 gram pepaya mengandung 78 mg vitamin C. Pada 100 gram brokoli mengandung 64,5 mg, setiap 100 gram stroberi mengandung 58.8 mg vitamin C. Lalu setiap 100 gram 100 gram lemon mengandung 50 mg vitamin C, dan setiap 100 gram jeruk mengandung 49 mg vitamin C.

Vitamin D banyak terdapat pada ikan kembung, ikan salmon, kuning telur dan ikan sarden. Setiap 100 gram ikan kembung mengandung 16,8 mcg vitamin, setiap 100 gram ikan salmon mengandung 13,7 mcg vitamin D, setiap 100 gram kuning telur mengandung 6,1 mcg vitamin D, setiap 100 gram Ikan sarden mengandung 4,8 mcg vitamin D.

Mineral seng banyak terdapat pada tiram, daging sapi, kepiting, hati ayam. Setiap 100 gram tiram mengandung 78,26 mg seng, setiap 100 gram kepiting mengandung 3,79 mg seng, setiap 100 gram daging sapi mengandung 5,2 mg seng, dan setiap 100 gram hati ayam mengandung 3,95 mg seng. Makanan-makanan ini mudah didapatkan di pasar tradisional atupun di departmen store.

Dengan mengetahui makanan-makanan sehat yang bermanfaat untuk melawan dampak buruk virus Covid-19 dan mengetahui anjuran AKG terhadap suatu zat gizi diharapkan masyarakat lebih selektif dalam menentukan menu makanannya sehari-hari selama masa pandemi ini berlangsung.

Apakah masyarakat telah mengonsumsi makanan sehat di masa pandemi ini?

Penelitian mengenai perubahan pola makan selama pandemi di Indonesia masih terus dilakukan. Baru-baru ini Yilmaz dkk (2020) mengamati perubahan pola makan 866 mahasiswa dan didapatkan data bahwa mahasiswa semakin memperhatikan kebersihan makanan dan lebih memilih makanan sehat.

Namun apakah ini juga diterapkan oleh masyarakat umum dengan berbagai latar belakang dan jenjang pendidikan? Hal ini masih perlu ditelaah lebih mendalam.

Apakah tantangan yang dihadapi masyarakat dalam mencari informasi mengenai makanan sehat?

Di era digital ini, masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi dari berbagai sumber. Namun salah satu tantangan yang akan dihadapi masyarakat adalah kebingungan untuk menentukan informasi mana yang benar dan bisa digunakan oleh mereka. Tidak jarang informasi yang didapatkan dari sumber satu dengan sumber lainnya bertolak belakang dan menimbulkan kebingungan bagi pembacanya.

Dalam hal ini diperlukan peran dari seluruh elemen, masyarakat perlu dibekali kemampuan literasi informasi agar dapat menggunakan langkah-langkah yang benar dalam mencari informasi. Diperlukan juga dukungan bagi para pewarta untuk mendapatkan informasi dari ahli dan sumber yang terpercaya. Butuh dukungan bagi para ahli untuk memberikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (evidance based) dan dibutuhkan peran pemerintah terkait regulasi peredaran informasi di berbagai media baik online maupun offline

Oleh dr. Amelya Augusthina Ayusari MGizi SpGK

Mahasiswa Program Studi S3 IKM UNS

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Makanan Sehat untuk Melawan Pandemi Covid-19

https://www.tribunnews.com/tribunners/2021/07/05/makanan-sehat-untuk-melawan-pandemi-covid-19?page=2.

Editor: Sri Juliati

Wisuda Mahasiswa Program Studi S3 IKM Periode III Tahun 2021

Pada hari Sabtu (26/6/2021) Universitas Sebelas Maret mengadakan wisuda luring dan daring periode III Tahun 2021. Wisuda ini diselenggarakan untuk Program Diploma, Sarjana, Magister, dan Doktor. Terdapat keunikan dalam wisuda UNS pada periode ini karena menampilkan peragaan busana  dengan tema Indonesia Satu yang menggambarkan berbagai wilayah yang ada di Indonesia. Pada Wisuda kali ini, Program Studi S3 IKM UNS meluluskan 2 mahasiswa, yaitu Dr. Ida Untari dan Dr. Siti Hamidah.

Sinergi Semua Pihak untuk Suksesnya Vaksinasi COVID-19

Artikel ini ditulis oleh dr. Farahdila Mirshanti, MPH, Kepala UPT Puskesmas Purwodiningratan Solo, Mahasiswi S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat UNS

Dimuat di Solopos.com yang dapat diakses melalui tautan ini

 

Sampai saat ini, Covid 19 masih menjadi masalah kesehatan global yang belum teratasi. Angka kasus di seluruh dunia mencapai 178 juta dengan angka kematian mencapai 3,86 juta pada 20 Juni 2021. Di Indonesia, angka kasus Covid-19 mencapai 1,98 juta, dengan 1,79 juta sembuh, dan 54,3 ribu meninggal pada kurun waktu yang sama. Di Solo sendiri, sampai dengan 20 Juni 2025, sudah terdapat 12.072 kasus Covid-19, 10 800 kasus sembuh, dan 583 orang meninggal dunia karena Covid-19.

Setelah libur Lebaran, dapat dikatakan saat ini Indonesia kembali menghadapi lonjakan kasus Covid 19 dengan angka penambahan per hari mencapai 13.000 kasus lebih pada 20 Juni 2021. Sebagian besar kasus Covid-19 dibuktikan penyebabnya adalah virus Covid-19 varian Delta (SARS Cov2 B.1.6.17.2), atau yang sering disebut sebagai varian India, yang menular jauh lebih cepat. Bahkan di beberapa daerah seperti Jakarta, Madura, dan beberapa wilayah di Jawa Tengah seperti Kudus terjadi lonjakan yang sangat tajam, sehingga beberapa wilayah tidak mampu lagi menangani kasus di wilayahnya sendiri.

Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi berbagai dampak pandemi Covid 19 dan memutus rantai penularannya, Langkah langkah yang diambil meliputi perluasan dan restrukturisasi rumah sakit dan fasilitas kesehatan seperti penambahan bed dan daya tampung pasien dan penambahan sumber daya manusia kesehatan di pelayanan kesehatan, upaya-upaya promotif preventif melalui kampanye kampanye dan anjuran anjuran protokol kesehatan untuk pencegahan penularan penyakit (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak membatasi mobilitas, dan menghindan konumunan), pembentukan satgas-satgas Covid-19, hingga vaksinasi.

Vaksinasi

Vaksinasi merupakan salah satu cara proaktif yang aman dan efektif untuk melindungi manusia dari tertularnya penyakit. Vaksinasi sebagai suatu produk biologis bekerja dengan cara memberikan perlindungan kepada seseorang, terhadap berbagai penyakit yang dapat sangat berbahaya dan mematikan, dengan memproduksi imunitas terhadap penyakit tertentu tersebut.

Peran vaksinasi di era pandemi sangat penting. Vaksinasi akan mampu menyelamatkan populasi manusia dengan cara mencegah penularan penyakit di antara manusia, dengan membentuk imunitas (kekebalan) di dalam tubuh manusia. Selain itu, vaksinasi juga mempunyai berbagai manfaat dan tujuan lain. European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) menyatakan bahwa vaksinasi perlu dilakukan untuk mengurangi beban sistem kesehatan, menurunkan tingkat kematian dan keparahan penyakit Covid-19 secara keseluruhan, pembukaan kembali kegiatan-kegiatan massa di masyarakat, serta eliminasi penyakit Covid-19 itu sendiri.

Kemudian dengan adanya vanan baru, apakah vaksin masih bermanfaat? Tentu saja ya! Vaksin masih efektif melawan varian-varian baru, walau tidak seefektif pada varian lama. Vaksin juga tetap dapat mencegah perawatan di RS dan kematian. Selain itu, semakin banyak orang yang tervaksin akan menyebabkan menurunnya penularan, dan akan mengurangi munculnya varian-varian baru.

Herd Immunity

Tujuan vaksinasi yang lain adalah tercapainya herd immunity di masyarakat. Herd immunity (kekebalan kelompok) adalah istilah epidemiologi yang merujuk pada perlindungan tidak langsung yang diperoleh suatu individu terhadap infeksi penyakit, karena sebagian besar individu di sekitarnya telah memiliki kekebalan (baik karena pemah terinfeksi sebelumnya atau telah divaksinasi). Akibatnya, individu-individu di sekitarnya tersebut tidak dapat terinfeksi penyakit, sehingga tidak akan menularkan penyakit pula.

Dengan kata lain, kelompok-kelompok orang yang tidak dimungkinkan atau tidak terjangkau vaksinasi (misal mempunyai suatu penyakit sehingga tidak memenuhi syarat untuk vaksinasi), akan ikut terlindungi jika sebagian besar orang yang tinggal di sekitamya telah mempunyai kekebalan. Vaksinasi dapat mempercepat tercapainya herd immunity (kekebalan kelompok) ini dengan cara yang jauh lebih aman, cepat dan terkendali.

Berapa banyak orang harus mempunyai imunitas/kekebalan, agar penyakit menjadi stabil dalam komunitas (dan kelompok-kelompok rentan dapat terlindungi)? Batas jumlah minimal orang yang harus mempunyai kekebalan, agar penyakit menjadi stabil dalam komunitas (dan kelompok rentan dapat terindungi) inilah yang disebut sebagai Herd Immunity Threshold (HIT). Para ahli telah menghitung, bahwa HIT untuk penyakit Covid-19 adalah sebesar 67% (atau sering dibulatkan menjadi 70%). Jika HIT dilampaui, jumlah kasus baru akan menurun, dan eliminasi penyakit akan tercapai. Di sinilah peran vaksinasi menjadi sangat penting, yaitu mencapai herd immunity melalui cara yang aman dan terkendali.

Cakupan Vaksinasi

Sampai saat ini, cakupan vaksinasi di Indonesia masih sangat jauh dari target yang ditetapkan oleh pemerintah Pemerintah menargetkan 181,5 juta jiwa (sekitar 70%) warga Indonesia harus divaksinasi (atau mempunyai imunitas) untuk mencapai herd immunity (kekebalan kelompok). Sampai awal Juni 2021, baru sekitar 27 juta vaksinasi (17 juta vaksinasi dosis 1 dan 10 juta vaksinasi dosis 2) dilakukan di Indonesia, atau sekitar 5% dibandingkan target 70% yang ditetapkan oleh pemerintah.

Persentase ini adalah angka yang mampu dicapai dalam kurun waktu sekitar 5 bulan (dimulai sejak program vaksinasi Covid-19 pertama kali di Indonesia pada pertengahan Januari 2021). Agaknya, akan sulit menyelesaikan vaksin pada tahun 2022 seperti yang pernah ditargetkan pemerintah sebelumnya.

Kendala dan Alternatif Solusi

Berbagai kendala ditemui pemerintah dalam pelaksanaan program vaksinasi Covid-19 ini. Di satu sisi, pemenuhan ketersediaan vaksin menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah. Dengan terbatasnya jumlah vaksin, dibuatlah berbagai tahapan dan prioritas sasaran vaksinasi (tenaga kesehatan, lansia, kelompok rentan, pelayan publik, dan sebagainya). Di sisi lain, partisipasi masyarakat untuk mengikuti vaksinasi ternyata juga masih kurang.

Menurut penelitian di Kuwait (2021) banyak faktor yang memengaruhi kesediaan seseorang untuk menerima vaksinasi. Beberapa alasan seseorang tidak bersedia melakukan vaksinasi antara lain (1) kekhawatiran terhadap efek samping vasinasi, (2) kurangnya informasi mengenai vaksinasi (3) keraguan akan efektivitas vaksin, (4) sulitnya akses vaksinasi, (5) nyeri akibat injeksi (6) biaya dan sebagainya.

Penolakan oleh sebagian masyarakat terhadap vaksin, juga terjadi di wilayah kerja UPT Puskesmas Purwodiningratan Solo. Setidaknya sekitar sepertiga hingga setengah sasaran lansia, yang mendapat prioritas vaksinasi, (pernah) menolak vaksinasi. Dari hasil wawancara didapatkan bahwa keengganan mereka mengikuti vaksinasi antara lain karena: (1) ketakutan akan efek samping atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), (2) tidak diizinkan oleh anak, (3) ketakutan karena mengidap penyakit-penyakit degenerative (komorbid), dan sebagainya.

Karenanya, pemahaman masyarakat luas mengenai manfaat, kecilnya efek samping, serta berbagai informasi yang benar tentang vaksinasi, perlu dilakukan/dipersiapkan dangan sebaik-baiknya. Berbagai media audio, elektronik, cetak dan sebagainya perlu dimanfaatkan secara maksimal untuk menyebarkan informasi-informasi yang benar mengenai vaksinasi kepada masyarakat. Juga diperlukan kerja sama dan menyeluruh dengan berbagai lintas sektor (pembuat kebijakan, tenaga kesehatan, kelurahan, RW, RT, tokoh masyarakat, tokoh agama, pendidik, dan sebagainya) untuk memotivasi masyarakat serta agar informasi-informasi mengenai vaksinasi khususnya vaksin Covid 19 dapat tersampaikan dan diterima dengan baik di masyarakat.

Dengan tersampaikannya informasi dengan baik ke masyarakat, diharapkan akan memengaruhi sikap dan perilaku masyarakat terhadap vaksinasi, dan pada akhirnya akan membantu percepatan program vaksinasi Covid-19 di Indonesia.

 

 

 

 

Sosialisasi dan Koordinasi Pelaksanaan Penelitian Uji Klinik Jamu Ekstrak Sambiloto

Pada masa pandemi COVID-19, obat tradisional menjadi salah satu kekuatan yang dapat mendukung upaya pencegahan maupun penanggulangan penyakit. Namun demikian, efektifitas dan keamanan obat tradisional perlu dibuktikan secara ilmiah. Bukti ilmiah yang terbentuk dapat digunakan sebagai dasar pengembangan fitofarmaka dan digunakan oleh tenaga medis. Dengan dilaksanakannya penelitian uji klinik yang merupakan suatu percepatan perolehan evidence base, diperlukan pemahaman yang sama antara peneliti utama, peneliti pendamping, dan pembantu dalam hal pelaksanaan kegiatan penelitian pada tahun 2021.

Dalam rangka melaksanakan penelitian Uji Klinik di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tahun 2021, diselenggarakan kegiatan sosialisasi penelitian uji klinik jamu ekstrak sambiloto sebagai penambah daya tahan tubuh pada pasien COVID-19 derajat sedang yang menerima terapi standar: uji klinik terkontrol tersamar ganda dengan principal investigator: dr. Peristiwan Ridha Widhi Astana, M.Biomed. Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari dengan memaparkan substansi program penelitian dan rencana pelaksanaan penelitian.

Kegiatan yang bertujuan untuk memberikan penyegaran mengenai cara uji klinik yang baik (CUKB), mencapai kesepahaman antara tim dalam rencana pelaksanaan penelitian uji klinik jamu ekstrak sambiloto, serta membentuk komitmen pelaksanaan uji klinik antara peneliti utama, peneliti pendamping, konsultan penelitian, dan sponsor ini berlangsung secara luring pada hari Selasa–Rabu, 15–16 Juni 2021 di Hotel Swiss-Belinn Saripetojo Solo. Dalam kegiatan ini, dua orang dosen Program Studi Doktor (S3) Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sebelas Maret yaitu Dr. dr. Ratih Puspita Febrinasari, M.Sc. (farmakolog) dan dr. Vitri Widyaningsih, MS., Ph.D. (statistician) diundang bersama dengan 48 orang partisipan lainnya untuk memberikan masukan dan berdiskusi terkait uji klinik jamu ekstrak sambiloto ini sebagai imunomodulator pada pasien COVID-19. Beliau berdua merupakan anggota Data Safety Monitoring Board (DSMB) dalam uji klinik tersebut.

Kebijakan Penanggulangan Kekerasan Terhadap Anak

Oleh: Nova Winda Setiati SST MM MTrKeb*

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat sejak 1 Januari hingga 16 Maret 2021 terdapat 426 kasus kekerasan seksual dari total 1.008 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak (Jakarta, Kompas.com). Asisten Deputi Perumusan Kebijakan Perlindungan Hak Perempuan Ali Hasan mengatakan, data tersebut berdasarkan hasil pelaporan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni-PPA) (Jumat, 19-3- 2021). Korban yang mengalami kekerasan seksual bisa juga mengalami kekerasan fisik dan menderita secara psikis. Kasus kekerasan seksual merupakan fenomena gunung es, artinya banyak kasus yang tidak terungkap dan dilaporkan.

Saat ini belum ada upaya pencegahan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak yang diatur secara komprehensif. Oleh karena itu, dia menilai Rancangan Undang-Undang tentang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) perlu segera disahkan. Tentunya kasus kekerasan ini sebagai fenomena gunung es yang terlihat hanya dibagian puncaknya sama dipermukaan saja, sebenarnya permasalahan jauh lebih besar dari itu.

Kasus kekerasan pada perempuan dan anak tahun 2020 ada sekitar 49 kasus diantaranya 40 kasus anak dan 9 kasus perempuan. Data dari Dinas Pengendalian Penduduk, KB, PP dan PA (DPPKBP3A) Kabupaten Kuningan Tahun 2020 ada 49 kasus. Menurut Kepala DPPKBP3A, Trisman Supriatna, M.Pd melalui Kabid PP (Pemberdayaan Perempuan) Any Saptarini SH., M.Si sementara hingga bulan Februari 2021 sudah ada 5 kasus di kabupaten Kuningan. Tingginya kasus ini membuat semua pihak prihatin. Pihaknya hanya menerima laporan, atau pengaduan, terus mencatat, melakukan analisis kebutuhan, kemudian merujuk kepada ahlinya sesuai kebutuhan kasus.

Anak adalah tunas, potensi, dan generasi penerus cita-cita bangsa, memiliki peran strategis dalam menjamin eksistensi bangsa dan negara dimasa mendatang. Agar mereka kelak mampu memikul tanggung jawab itu, maka mereka perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental, sosial maupun spiritual. Mereka perlu mendapatkan hak-haknya, perlu dilindungi dan disejahterakan. Karenanya, segala bentuk Tindakan kekerasan pada anak perlu dicegah dan diatasi.

Child abuse seringkali diidentikan dengan kekerasan yang tampak seperti kekerasan fisikal dan kekerasan seksual, padahal kekerasan yang bersifat psikis dan sosial juga dapat membawa dampak buruk yang bersifat permanen terhadap anak.

Anak adalah generasi penerus bangsa yang seharusnya dilindungi dan diasuh dengan baik. Pasal 28 B ayat (2) Undang- Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa : “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh kembang, serta perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Namun fakta dilapangan menunjukan hal yang berbeda. Anak Indonesia belum memperoleh hakhaknya dengan semestinya. Masih banyak anak Indonesia yang belum memperoleh hak dasarnya dengan baik, seperti pelayanan akta kelahiran, pelayanan Kesehatan dan Pendidikan yang memadai. Anak Indonesia juga tengah mengalami ancaman serius yaitu ancaman eksploitasi dan perilaku kekerasan.

Fakta menunjukkan bahwa kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan aktivis dan organisasi penggiat perlindungan anak mengemukakan saat ini Indonesia tengah mengalami gawat darurat kekerasan pada anak. Kemajuan teknologi yang terjadi saat ini telah membawa dampak perubahan bagi masyarakat, baik itu dampak yang positif maupun dampak negatif. Kemajuan teknologi menyebabkan komunikasi antar negara semakin lancar, sehingga kebudayaan luar negeri lebih terasa pengaruhnya. Dampak yang paling terasa adalah pada tata budaya, moral, dan tata sosial masyarakat pada umumnya dan pada generasi muda khususnya. Akhir ini banyak terjadi kasus pelecehan seksual terhadap anak, dimana pelakunya adalah orang dewasa dan kebanyakan adalah yang dikenal oleh korban. Cerita tentang dukun di Cirebon, dimana korbannya adalah gadis-gadis ABG (Anak Baru Gede) yang rata-rata umurnya 12 tahun hingga 14 tahun. Cerita guru yang memperkosa muridnya yang terjadi di Buleleng Bali, kasus Edy Afthan (14 tahun) yang memperkosa Delima (4 tahun) dan Dnc (14 tahun) yang bersetubuh dengan Mega (3 tahun) dan masih banyak lagi. Dalam ilmu jiwa, masa transisi dialami anak mulai usia 10 tahun, dalam bukunya Soedarsono sependapat dengan Andi Mapiere, yang mengutip Elisabeth B. Harlock, yang membagi usia anak remaja yaitu masa pubertas pada usia 10 tahun atau 12 tahun sampai 13 tahun atau 14 tahun, masa remaja pada usia 13 tahun atau 14 tahun sampai 17 tahun, masa remaja akhir (masa dewasa muda) pada usia 17 tahun sampai 21 tahun.

Anderson (1979) dalam Subarsono (2006) mengemukakan bahwa kebijakan publik merupakan tindakan-tindakan yang ditetapkan oleh badan dan aparat Pemerintah. Sementara itu menurut Thomas R Dye (1995), kebijakan publik (public policy) merupakan “what government do or not to do, why they do it, and what difference it makes” yang kurang lebih berarti segala sesuatu apa yang dikerjakan atau tidak dikerjakan oleh Pemerintah, mengapa mereka melakukan itu dan apa perbedaan (hasil) akibat yang mereka lakukan tersebut. Definisi yang dikemukakan oleh Thomas R Dye lebih luas dari yang dikemukakan oleh James E Anderson. Thomas R Dye melihat bahwa ketika Pemerintah tidak melakukan apa-apa terhadap suatu masalah publik juga merupakan suatu kebijakan publik. Kebijakan publik juga bukan sesuatu yang bebas nilai. Kebijakan publik harus mengakomodasi nilai dan praktek sosial yang ada di masyarakat. Laswell dan Kaplan (tanpa tahun) dalam Subarsono (2006) mengemukakan bahwa kebijakan publik berisikan tujuan, nilai, dan praktekpraktek sosial yang ada di masyarakat. Adapun fungsi kebijakan publik diantaranya adalah : untuk menyelesaikan berbagai persoalan publik, merespon tuntutan masyarakat, dan melakukan rekayasa sosial untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.

William N. Dunn (2003) mengemukakan bahwa analisis kebijakan publik merupakan kombinasi aktivitas intelektual dan praktis yang bertujuan untuk menciptakan, menilai secara kritis dan mengkomunikasikan pengetahuan tentang dan di dalam proses kebijakan. Analisis kebijakan tidak diciptakan untuk membangun atau menguji teori secara ilmiah dan akademis, analisis kebijakan lebih bersifat praktis yang ditujukan untuk merespon masalah dan krisis yang dihadapi pemerintah. Oleh karena itu, analisis kebijakan bertujuan untuk memproduksi informasi mengenai nilai-nilai dan serangkaian Tindakan yang dapat dipilih untuk mengatasi berbagai masalah publik. Sehingga dengan demikian, analisis kebijakan dapat dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai persoalan publik.

Selain itu, menurut Patton dan Sawicki (1993) analisis kebijakan publik dapat dilakukan sebelum ataupun sesudah kebijakan (tindakan) pemerintah dilakukan untuk mengatasi suatu masalah tertentu. Patton dan Sawicki (1993) mengungkapkan bahwa analisis kebijakan merupakan evaluasi kelayakan teknis, ekonomi dan politik secara sistematis dari berbagai alternatif kebijakan (rencana atau program), strategi untuk implementasi dan konsekuensi dari pelaksanaan suatu kebijakan.

Dengan demikian inti dari produk dari analisis kebijakan adalah rekomendasi kebijakan untuk diimplementasikan. Namun, proses analisis kebijakan merupakan proses yang dilakukan terus menerus dan berkelanjutan, rekomendasi kebijakan yang diimplementasikan dievaluasi dan digunakan sebagai feedback bagi proses analisis kebijakan berikutnya.

Tulisan ini menggunakan kombinasi prosedur analisis kebijakan publik yang dikemukakan oleh William N dunn dan Carl V.Patton dan David S Sawicki. Berikut disajikan gambar prosedur analisis kebijakan public menurut William N Dunn.

Dari gambar di atas terlihat bahwa Dunn (2003) mengemukakan ada 5 tahapan dalam melakukan analisis kebijakan. Tahapan tersebut adalah : Perumusan masalah, tahapan ini merupakan tahapan krusial dalam melakukan analisis kebijakan. Kesalahan dalam melakukan perumusan masalah mengakibatkan kesalahan fatal dalam menyusun rekomendasi kebijakan. Tahapan ini menghasilkan informasi mengenai kondisikondisi yang menimbulkan masalah kebijakan.

Peramalan, tahapan ini menghasilkan informasi mengenai konsekuensi di masa mendatang dari penerapan alternatif kebijakan, termasuk bila tidak melakukan tindakan apapun.

Rekomendasi, tahapan ini menyediakan informasi mengenai nilai atau kegunaan relatif dari konsekuensi di masa depan dari suatu pemecahan masalah.

Pemantauan, tahapan ini menghasilkan informasi tentang konsekuensi sekarang dan masa lalu dari diterapkannya alternatif kebijakan.

Evaluasi, tahapan ini menghasilkan informasi mengenai nilai atau kegunaan dari konsekuensi pemecahan atau pengetasan masalah.

Untuk merumuskan masalah kebijakan penanggulangan kekerasan terhadap anak, penulis memutuskan menggunakan teknik analisis hirarkis. Dunn (2003) mengemukakan bahwa analisis hierarki merupakan sebuah teknik untuk mengidentifikasi sebabsebab yang mungkin dari suatu situasi masalah. Analisis hirarki membantu analisis untuk mengidentifikasi tiga macam sebab, yaitu sebab yang mungkin (possible cause), sebab yang masuk akal (plausible cause) dan sebab yang dapt ditindak lanjuti (actionable cause). Semakin meningkatnya kasus kekerasan kepada anak dapat dikatakan sebagai akibat dari beberapa sebab-sebab berikut, yaitu aspek psikologi, aspek sosial, aspek budaya, dan aspek hukum.

Aspek psikologis, kekerasan terhadap anak dapat disebabkan karena dewasa ini anggota keluarga/masyarakat terdekat mengalami masalah/ penyakit mental. Contoh fenomena yang terjadi: berbagai kondisi dan dinamika masyarakat seperti kesulitan mencari pekerjaan, pendapatan rendah, kemiskinan, permukiman padat dan kumuh, kemacetan, polusi, kesibukan pekerjaan yang tinggi, tuntutan sosial dapat memicu stress pada orang dewasa yang akhirnya dilampiaskan dengan melakukan kekerasan pada anak.

Aspek sosial, kekerasan terhadap anak juga disebabkan karena kurangnya pengendalian sosial (social control) untuk melakukan pengawasan dan perlindungan dari masyarakat terdekat anak. Fakta yang terjadi adalah kekrasan terhadap anak dilakukan oleh orangorang terdekatnya dan focus kejadiannya di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat terdekat. Hal ini menunjukkan kurangnya kepedulian (awareness) dan partisipasi masyarakat dalam mendeteksi, mencegah dan melaporkan terjadinya perilaku kekerasan pada anak yang terjadi di lingkungannya.

Aspek budaya, Menurut Supeni (2010) kekerasan pada anak juga dapat terjadi karena adanya budaya kekerasan di sebagian masyarakat. Anak dipandang sebagai milik mutlak sehingga harus takluk untuk memenuhi keinginan orang tua. Anak juga dipandang sebagai target, untuk memenuhi ambisi orang tua, dan ketika anak tidak dapat memenuhinya, maka anak akan diperlakukan dengan kekerasan. Selain itu terdapat pula budaya di masyarakat bahwa penggunaan hukuman fisik merupakan bentuk upaya mendisiplinkan anak.

Aspek hukum, dilihat dari beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan pada anak diantaranya adalah: hukuman yang diberikan kepada pelaku belum maksimal memberikan efek jera. Saat ini aktivis penggiat perlindungan anak mengusulkan untuk memperberat hukuman bagi pelaku kekerasan terhadap anak yaitu hukuman kebiri melalui suntikan kimia, walaupun usulan hukuman ini menjadi kontroversi bagi pihak lain.

Masalah substansi (penyebab yang masuk akal) yang dipilih adalah masalah pada aspek sosial, yaitu kurangnya pengendalian sosial (social control) untuk melakukan pengawasan dan perlindungan dari masyarakat terdekat anak. Menurut Varyani, dkk (2014) pengendalian sosial (control sosial) merupakan mekanisme untuk mencegah terjadinya penyimpangan dan mengarahkan anggota masyarakat untuk bertindak menurut norma dan nilai yang melembaga.

Masalah substantif kekerasan terhadap anak yang dirumuskan penulis adalah masalah pada aspek sosial, yaitu kurangnya pengendalian sosial (social control) untuk melakukan pengawasan dan perlindungan dari masyarakat terdekat anak. Adapun masalah formal (penyebab yang dapat ditindak lanjuti) yang dirumuskan mengenai kekerasan terhadap anak adalah :

Kurangnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat terkait norma/kaidah perlindungan anak dan kekerasan terhadap anak.

Kurangnya kepedulian (awareness) masyarakat untuk melakukan pencegahan dan deteksi dini terhadap tindak kekerasan pada anak.

Kurangnya perilaku konkret masyarakat untuk melakukan pencegahan dan deteksi dini tindakan kekerasan pada anak.

Kurangnya metode/mekanisme perlindungan preventif persuasif (pencegahan, deteksi dini dan pelaporan) kekerasan terhadap anak di masyarakat.

Berdasarkan masalah substantif dan masalah formal yang telah dirumuskan, kebijakan yang direkomendasikan untuk dapat menanggulangi masalah kekerasan terhadap anak adalah kebijakan layanan kids help line. Dalam upaya implementasinya, pemerintah diharapkan memiliki komitmen kuat dan menyediakan sumber daya yang memadai (SDM, anggaran, sarana prasarana IT) agar kebijakan ini dapat berjalan dengan baik sehingga kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia dapat diminimalisasi. (*)

*Penulis adalah Sekretaris Program Studi Profesi Bidan STIKes Kuningan, Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS

Dimuat pada Harian Radar Cirebon Group WACANA, pada Kamis 10 Juni 2021

Dilematis Penanggulangan HIV AIDS Selama Pandemi COVID-19 : Akankah Three Zero 2030 Terwujud?

Rizka Ayu Setyani, SST, MPH
Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat Universitas Sebelas Maret
Mentor International AIDS Society (IAS)

TUJUAN pengendalian HIV AIDS di Indonesia tertuang dalam Permenkes Nomor 21 Tahun 2013 dengan tercapainya Three Zero di tahun 2030, antara lain tidak ada infeksi baru HIV, tidak ada kematian karena AIDS dan tidak ada diskriminasi. Oleh sebab itu, pemerintah menyusun strategi 90-90-90, yaitu 90% ODHA mengetahui status HIV, 90 % ODHA yang mengetahui statusnya mendapat ARV, serta 90 % ODHA on ART mengalami supresi virus. Namun, tepat di sepuluh tahun menuju Three Zero, adanya pandemi COVID-19 di tahun 2020, seolah-olah mengesampingkan masalah epidemi HIV AIDS di Indonesia. Berdasarkan laporan Ditjen P2P, Kementerian Kesehatan RI, jumlah kumulatif kasus HIV AIDS mulai tahun 1987 sampai 31 Desember 2020 mencapai 549.291 yang terdiri atas 419.551 HIV dan 129.740 AIDS, dengan estimasi kematian 38.000. Khusus selama pandemi COVID-19 di tahun 2020, telah terdeteksi 50.626 kasus HIV AIDS yang terdiri atas 41.987 HIV dan 8.639 AIDS. Sedangkan estimasi kasus HIV AIDS sebanyak 640.000. Artinya, terdapat 90.709 kasus HIV AIDS di masyarakat yang tidak terdeteksi. Hal ini yang dinamakan fenomena gunung es, dimana jumlah kasus HIV AIDS yang dilaporkan tidak menggambarkan jumlah kasus yang sebenarnya di masyarakat. Jumlah yang tidak terdeteksi ini menjadi mata rantai penyebaran HIV AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom. Prevalensi kasus HIV tertinggi pada umur 20-29 tahun, hal ini berarti penularan HIV sudah terjadi di umur kurang dari 20 tahun atau remaja.

Tantangan pencegahan penularan HIV AIDS di Masa Pandemi COVID-19

Persoalan besar yang dihadapi Indonesia dalam menanggulangi epidemi HIV AIDS diantaranya adalah mitos, dan penolakan terhadap kondom. Persoalan pertama terkait mitos terkait HIV AIDS sudah terjadi sejak awal epidemi HIV AIDS di Indonesia, yaitu menyebut HIV AIDS penyakit kutukan, hanya diderita jika memiliki perilaku berisiko, ataupun mitos seputar penularan HIV yang berujung pada diskriminasi pada Orang Dengan HIV AIDS (ODHIV dan ODHA). Sebagian besar masyarakat masih beranggapan HIV menular melalui bersalaman, berpelukan, berciuman, menggunakan alat makan bersama, berenang bersama, gigitan nyamuk, menggunakan toilet umum, dan lain-lain yang informasinya kurang tepat. Nyatanya, penularan HIV hanya melalui cairan kelamin, cairan darah, dan ASI dari ibu HIV positif tanpa konsumsi ART rutin. Menurut studi dari Yayasan Spiritia Indonesia, adanya stigma dan diskriminasi ini menyebabkan ODHIV tidak melakukan pengobatan hingga 2-3 tahun setelah mereka didiagnosis dengan HIV.

Permasalahan kedua tentang penolakan terhadap kondom sebagai alat untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual terjadi karena sosialisasi HIV AIDS yang tidak komprehensif. Materi komunikasi, edukasi, dan informasi (KIE) menonjolkan kondom di saat masyarakat belum sepenuhnya memahami HIV AIDS sebagai fakta medis. Selain itu juga permasalahan gender equality, dimana kondom hanya ditujukan pada laki-laki, sementara ada jenis kondom perempuan yang juga dapat berpihak pada perempuan dalam pengambilan keputusan menggunakan alat pencegahan HIV khususnya pada perilaku berisiko. Namun, selama ini sosialisasi penggunaan kondom di Indonesia hanya terbatas pada kondom laki-laki.

Apabila membandingkan dengan negara lain, Thailand yang berhasil menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan Wanita Pekerja Seks melalui program wajib kondom 100 persen di awal tahun 1990-an. Indonesia pun mencangkok program tersebut. Program wajib kondom 100 persen di Thailand adalah langkah terakhir dari lima program skala nasional yang dijalankan simultan dengan dukungan media massa. Hal ini berarti Indonesia hanya mengadopsi ekor program penanggulangan HIV AIDS di Thailand. Sementara, langkah pertama Thailand adalah menyebarluaskan informasi HIV AIDS dengan materi KIE yang komprehensif yang didukung oleh media massa, serta adanya kebijakan yang tegas dan tidak terkesan ‘abu-abu’ atau pro kontra terkait penggunaan kondom ini.

Adanya kebijakan pembatasan sosial di masa pandemi COVID-19 juga menjadi dilema tersendiri bagi upaya penanggulangan HIV AIDS. Selain stigma dan upaya pencegahan melalui penggunaan kondom, ada masalah dilematis yang muncul selama pandemi COVID-19, antara lain: 1) Kurang optimalnya sosialisasi dan edukasi pencegahan HIV AIDS yang biasanya dilakukan secara massal dengan keterbatasan media edukasi digital; 2) Penundaan pelaksanaan mobile VCT atau tes HIV pada populasi berisiko, dikarenakan sumber daya yang terbatas dan dialihkan untuk penanggulangan COVID-19; serta 3) Keterbatasan akses antiretroviral therapy (ART) dan risiko kerentanan ODHIV atau ODHA yang lebih besar terinfeksi COVID-19. Tanpa atau dengan adanya pandemi COVID-19, persoalan HIV AIDS ini bagaikan bom waktu yang dapat meledak kapanpun. Estimasi infeksi baru HIV setiap tahun sebanyak 46.000 kasus. Oleh sebab itu, hal ini perlu mendapat perhatian khusus, serta diperlukan langkah-langkah yang konkret untuk menurunkan jumlah insiden infeksi HIV baru terutama pada populasi berisiko di kelompok usia muda. Menurut Centers for Disease Control and Prevention, program kesehatan sekolah dapat membantu remaja mengadopsi sikap dan perilaku seumur hidup yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan mereka, termasuk perilaku yang dapat mengurangi risiko penularan HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS) lainnya.

Peluang Penanggulangan HIV AIDS vs COVID-19, mana yang lebih prioritas?

Dampak dari pandemi COVID-19 menjadi dasar perubahan kebijakan pemerintah Indonesia terutama pada sektor kesehatan. Salah satu kebijakan tersebut adalah pembentukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 melalui Keputusan Presiden Nomor 7 Tahun 2020 tanggal 13 Maret 2020. Langkah pemerintah dalam penanganan COVID-19 dinilai sudah cukup baik, namun alangkah lebih baik jika seimbang dengan upaya penanggulangan HIV AIDS yang juga merupakan masalah penting dan global. Sama halnya dengan pemanfaatan teknologi informasi untuk skrining mandiri gejala dan pemetaan kasus COVID-19, pemanfaatan teknologi digital ini juga dapat diterapkan untuk membantu dalam program penanggulangan HIV AIDS. Misalnya, untuk edukasi dan skrining mandiri deteksi gejala HIV AIDS, serta pengembangan aplikasi berbasis mobile untuk pemetaan kasus yang memudahkan petugas lapangan atau LSM dalam melakukan upaya penjangkauan dan pendampingan ART pada masa pandemi COVID-19 ini. Sebetulnya, pada tahun 2013, telah diluncurkan Aplikasi Digital AIDS yang dirancang atas kerjasama Kementerian Kesehatan dengan Indonesia AIDS Coalition (IAC). AIDS Digital berisi informasi layanan terdiri dari Tes HIV, terapi ARV, kelompok dukungan ODHA, pencegahan vertikal, layanan jarum suntik steril, layanan methadone, dan layanan IMS. Selain itu juga ada direktori online dari lembaga yang bekerja untuk program penangulangan AIDS seperti Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan, Komisi Penanggulangan AIDS, LSM, dan juga jaringan populasi kunci. Namun, sayangnya di saat kebutuhan saat ini yang serba digital, Aplikasi Digital AIDS dengan alamat URL: www.aidsdigital.net. justru tidak lagi dapat diakses dan dimanfaatkan.

Pada sektor kebijakan, saat ini telah ada 143 Peraturan Daerah yang mengatur tentang penanggulangan HIV AIDS yang diterbitkan Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kota di Indonesia tetapi perlu dikaji ulang implementasinya dan pelaksanaannya di masa pandemi COVID-19. Oleh sebab itu, diperlukan kebijakan yang tidak hanya normatif namun juga menyelesaikan akar persoalan. Tanpa langkah konkret untuk menurunkan insiden kasus HIV dari lintas sektoral, maka penyebaran HIV AIDS di Indonesia akan terus terjadi sebagai bom waktu yang kelak bermuara pada ledakan AIDS. Masih ada sembilan tahun untuk saling bersinergi dan berbenah menuju Three Zero 2030. Jadi, mana yang lebih prioritas?

Dimuat pada krjogja.com pada 4 Juni 2021

Tautan: https://www.krjogja.com/opini-2/dilematis-penanggulangan-hiv-aids-selama-pandemi-covid-19-akankah-three-zero-2030-terwujud/

Tantangan Implementasi Antimicrobial Stewardship Program di Indonesia

Antibiotik merupakan salah satu temuan paling bermanfaat bagi manusia sdi bidang kesehatan. Namun, penggunaannya yang terus meningkat dapat menimbulkan berbagai masalah. Masalah utama dari penggunaan antibiotik terus menerus adalah timbulnya bakteri yang resisten terhadap berbagai jenis antibiotik yang dapat menyebabkan pengobatan penyakit infeksi dengan antibiotik tidak lagi efisien. Antibiotik yang mengalami resistensi dapat menyebabkan penyakit infeksi menjadi sangat berbahaya dan dapat mengancam jiwa penderita.

Antimicrobial Stewardship Program (ASP) merupakan suatu program yang direkomendasikan untuk mengoptimalkan penggunaan antibiotik serta meminimalkan kemungkinan terjadinya reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD) dan resistensi patogen, khususnya di rumah sakit. Program ASP yang telah diterapkan pada beberapa negara dan terbukti mampu meningkatkan pemakaian antibiotik yang bertanggung jawab dan menekan temuan kasus infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang resisten tanpa menimbulkan konsekuensi buruk bagi keselamatan pasien.

Untuk mempersiapkan implementasi ASP di Indonesia, Kementrian Kesehatan RI, Badan POM, IDI, dan IAI mengadakan seminar daring “1st AMR Awareness Meeting: Tantangan mplementasi Antimicrobial Stewardship Program di Indonesia”. Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH., PhD yang merupakan Ketua Program Studi S3 IKM dan Ketua Tim Peneliti Protecting Indonesia from the Threat of Antibiotics Resistance (PINTAR) menyampaikan materi “Penggunaan Aantibiotik pada Penyedia Obat Swasta di Indonesia”. Acara ini turut dihadiri Menteri Kesehatan RI, Ir. Budi Gunawan Sadikin.

 

One Health: Situasi Terkini dan Dampak Masalah Resistensi Antimikroba

Resistensi antibiotik terjadi ketika mikroba berubah dan membuat agen antibiotik tidak efektif. Fenomena ini dipicu oleh penggunaan berlebihan dan penyalahgunaan agen antimikroba pada manusia dan hewan. Resistensi antimikroba menyebabkan kegagalan pengobatan, memperpanjang masa tinggal di rumah sakit, memperburuk hasil klinis dan membuat prosedur pembedahan dan kemoterapi berisiko dan tidak aman. Resistensi antibiotik merupakan salah satu masalah terbesar di bidang kesehatan saat ini.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, pada tanggal 22 Mei 2021, Gugus Tugas One Health UGM mengadakan webinar series bertajuk “Situasi Terkini dan Dampak Masalah Resistensi Antibiotik” dengan moderator Prof. dr. Tri Wibawa, PhD, SpMK (K). Pada webinar ini, Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH, PhD membahas materi “Analisis beban ekononomi akibat resistensi antimikroba”.  Materi “Situasi terkini resistensi antimikroba di sektor kesehatan manusia” dibawakan oleh Prof. Dr. Kuntaman, dr, MS, SpMK (K), dan materi “Situasi terkini resistensi antimikroba di sektor ternak dan perikanan” dibawakan oleh Dr. drh. Agustina Dwi Wijayanti, MP.

Mahasiswa S3 IKM UNS memenangkan International COVID-19 Essay Competition

Mahasiswa S3 IKM UNS atas nama Rizka Ayu Setyani berhasil memenangkan International COVID-19 Essay Competition. Rizka membawakan essay dengan judul “Aplikasi Sayang Ibu Bayi Komplementer (ASIK) as the Smart Health Technology Innovation in Pregnancy Monitoring during the COVID-19 Pandemic”. Rizka menekankan pentingnya inovasi teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas layanan ibu anak yang terganggu dengan adanya pandemi COVID-19. Diharapkan dengan pemanfaatan teknologi informasi, ibu dapat mengomunikasikan masalah kehamilan dan masalah kesehatan anak pada petugas kesehatan.

Donasi dan Takjil kepada Yayasan Nur Hidayah, Surakarta

Pada bulan Ramadan tahun 2021,  Himpunan Mahasiswa S3 IKM UNS berkesempatan untuk membantu adik-adik yatim piatu yang berada di Yayasan Nur Hidayah, Surakarta. Himpunan Mahasiswa S3 IKM UNS berhasil menggalang dana untuk buka puasa bersama 80 anak yatim piatu dan memberikan donasi yang diwakili oleh mahasiswa S3 IKM UNS, Dipo Wicaksono.

Pada kesempatan ini,  Himpunan Mahasiswa S3 IKM UNS berhasil menggalang dana sebesar 2.000.000,- dan paket buka puasa 20.000,-/ paket. Himpunan Mahasiswa S3 IKM UNS berterima kasih kepada Kepala Prodi S3 IKM UNS Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH, Ph.D dan Bapak/Ibu dosen serta Bapak/Ibu mahasiswa yang telat memberikan dukungan untuk terselenggaranya acara ini

InsyaAllah keluarga besar Prodi S3 IKM UNS akan selalu diberikan kesehatan dan kelancaran dalam segala niat baik yang akan jalankan.

Aamiin ya robbal alamin….

Persiapan Anak Kembali ke Sekolah di Tengah Wabah COVID-19

Penulis:
Reny Nugraheni, S.KM, MM, M.Kes
Dosen S1 Kesehatan Masyarakat – IIK Bhakti Wiyata Kediri
Mahasiswa S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat – UNS Solo

Bagaimana terkait rencana pemerintah dengan membuka lagi sekolah pada Juli 2021? Apa sajakah yang perlu dipersiapkan dan menjadi perhatian khusus kepada orang tua dalam mempersiapkan buah hatinya kembali ke tempat umum dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar?

Data epidemiologi tentang pajanan infeksi virus pada awalnya terdeteksi di Wuhan, Provinsi Hubei Tiongkok. Pada awal penemuan menunjukkan 66% pasien berkaitan atau terpajan di salah satu pasar di daerah tersebut pada bulan Desember Tahun 2019. Sampel isolate dari pasien ditliti dengan hasil menunjukkan adanya infeksi coronavirus, jenis beracoronavirus tipe baru. World Health Organization  memberi nama virus baru tersebut “Severa Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) dan nama penyakitnya sebagai “Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)” pada tanggal 11 Februari 2019. Transmisi virus ini terkonfirmasi menular dari manusia ke manusia oleh WHO (WHO, 2020).

Komite Kesehatan nasional China telah menerbitkan serangkaian pedoman tentang pencegahan, diagnosis dan pengobatan pneumonia COVID-19, berdasarkan bukti yang berkembang dari pathogen yang bertanggung jawab atas infeksi COVID-19, serta karakteristik epidemiologis, fitur klini dan perawatan yang paling efektif. Sejak pertama kali diumumkan di Indonesia, kasus COVID-19 meningkat jumlahnya dari waktu ke waktu sehingga memerlukan perhatian. Protokol tatalaksana pasien terkonfirmasi COVID-19 dibagi menjadi beberapa klasifikasi yaitu OTG (tanpa gejala), gejala ringan, gejala sedang dan gejala berat (Kemenkes RI, 2020).

Covid 19 merupakan masalah kesehatan yang serius saat ini di berbagai Negara di dunia dan juga di Indonesia. Era pandemic sudah melanda dunia sejak bulan Maret 2020 sampai saat ini. Terjadi banyak perubahan di berbagai sector, baik ekonomi, pendidikan, pembangunan dan seluruh kehidupan di masyarakat. Masyarakat pun mulai beradaptasi terkait kejadian corona yang mau tidak mau dihadapi dan harus dilalui dalam kehidupan sehari-hari. Gaya hidup sehat yang selalu mengedepankan protocol kesehatan sangat penting dilakukan oleh semua masyarakat dari usia balita hingga lansia.

Keputusan pemerintah untuk memberlakukan pembatasan sosial bersakala besar sebagai akibat antisipasi penyebaran virus Covid-19 berdampak besar bagi masyarakat. Era pendidikan pun mulai melakukan perbaikan dan berusaha untuk membuka pembelajaran secara tatap muka atau offline di tahun ini. Beberapa akibat dari pandemi covid-19 terhadap dunia pendidikan yang dapat disebutkan antara lain adalah penutupan luas sekolah-sekolah, mulai dari pendidikan usia dini, sekolah dasar dan menengah hingga juga pada universitas. Sebagai gantinya kemudian dipergunaan sistem pembelajaran jarak jauh dan membuka platform pendidikan daring yang dapat digunakan sekolah dan guru untuk menjangkau peserta didik dari jarak jauh dan membatasi hambatan di dalam menjalankan pendidikan.

Kebijakan pemerintah terkait aktivitas pendidikan di masa pandemic mulai tahun ajaran baru 2020/2021 didasarkan pada Kemendikbud yang sudah berencana mengembalikan kegiatan belajar di sekolah-sekolah secara bertahap. Skema yang ditetapkan pemerintah dimulai dari tingkat SMP dan SMA atau sederajat, dua bulan kemudian SD dan sederajat. Terakhir empat bulan kemudian baru dibuka untuk PAUD dan sederajat. Sekolah hanya dibuka khusus untuk Kawasan zona hijau dengan menerapkan protocol kesehatan. Pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan berada di daerah zona hijau dilaksanakan menjadi dua, yaitu masa transisi dan masa kebiasaan baru.

Masa transisi berlangsung 2 (dua) bulan sejak dimulainya pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan dan jadwal pembelajaran mengenai jumlah hari dalam seminggu dan jumlah jam belajar setiap hari dilakukan dengan pembagian rombongan belajar (shift) yang ditentukan oleh satuan pendidikan dengan tetao memperhatikan kondisi kesehatan dan keselamatan warga satuan pendidikan. Sedangkan masa kebiasaan baru yaitu setelah masa transisi selesai, apabila daerahnya tetap dikategorikan sebagai daerah zona hijau maka satuan pendidikan masuk dalam masa kebiasaan baru.

Sekolah yang akan melaksanakan pembelajaran tatap muka, juga harus memenuhi poin persyaratan seperti menyediakan fasilitas kesehatan yang terjangkau dan memenuhi kebutuhan era pandemic, menyediakan sanitasi seperti toilet bersih dan layak, kesiapan menerapkan wajib masker di lingkungan sekolah, menyiapkan juga sarana cuci tangan serta menyediakan hand sanitizier di setiap tempat yang terjangkau anak-anak, menyediakan thermogun (alat pengukur suhu tubuh), melakukan pemetaan satuan pendidikan untuk mengetahui siapa yang memiliki penyakit penyerta (komorbid) dan adanya persetujuan komite sekolah dan orang tua atau wali siswa.

Kemudian yang tak kalah penting, bagaimana peran orang tua sendiri dalam memberikan pemahaman kepada anak tentang Covid 19 dan cara agar tidak terkena virus tersebut? Tentunya dukungan orang tua sangat penting dalam upaya penyebaran Covid-19 di sekolah. Orang tua wajib melakukan koordinasi yang baik dengan pihak sekolah mulai dari proses persiapan, pelaksanaan dan monitoing pelaksanaan pembelajaran tatap muka. Memastikan anaknya selalu menggunakan masker dan membawa masker ganti di dalam tas, mengupayakan anak untuk selalu membawa handsanitizier di dalam tas, mengingatkan anak untuk selalu menjaga jarak secara fisik dengan teman-temannya dan orang lain, membawakan bekal makanan dan minuman untuk anak supaya tidak perlu jajan di sekolah.

Jadikan budaya bermasker di sekolah, jangan jadikan suatu hal yang kita merasa tertekan mematuhinya. Dibuat enjoy, dijalani dan disyukuri.Ajak anak untuk menjadi “Pahlawan Kesehatan” dengan patuh pada protocol kesehatan. SALAM SEHAT.

Dimuat pada Harian Nasional Daring

Dapat diakses melalui tautan ini

Prof. Ari Natalia Probandari, dr., MPH., Ph.D. sebagai Pembicara “Bicara tentang Kualitatif #4 : Penelitian Mixed Method”

Kepala Program Studi S3 IKM UNS, Prof. Ari Natalia Probandari, dr., MPH., Ph.D. berpartisipasi pada Webinar “Bicara tentang Kualitatif #4 : Penelitian Mixed Method” yang diadakan oleh Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FKKMK UGM. Acara ini diselenggarakan secara daring melalui aplikasi Zoom pada tanggal 30 April 2021.

Assesment Lapangan Daring (Surveilens) Program Studi Doktor Kesehatan Masyarakat Universitas Sebelas Maret

Pada hari Selasa, 27 April 2021 Program Studi Doktor Kesehatan Masyarakat (S3 IKM) Universitas Sebelas Maret mengikuti kegiatan assessment lapangan daring (surveilens) yang diadakan oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes). Surveilens dipimpin oleh dr. Onny Setiarini, Ph.D. selaku asesor dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Acara surveilens dibuka pada pukul 09.00 dengan pendahuluan dan sambutan oleh Dekan Sekolah Pascasarjana, Prof. Drs. Sutarno, M.Sc., Ph.D.

Acara dilanjutkan dengan presentasi tindak lanjut standar 1 sampai dengan 7 yang disampaikan oleh Kepala Program Studi S3 IKM, Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH., Ph.D. Setelah melakukan presentasi dan diskusi selama kurang lebih 30 menit, acara dilanjutkan dengan konfirmasi data dan informasi dalam tindak lanjut standar 1-7 yang dilakukan antara asesor dan para pimpinan Unit Pengelola Program Studi (UPPS), Program Studi (PS), unit penjaminan mutu (UPM), dan gugus penjaminan mutu (GPM). Dalam diskusi ini turut hadir Prof. Dr. Agus Kristiyanto, M.Pd. selaku wakil dekan bidang akademik dan Dr. Dwi Purnanto, M.Hum. selaku wakil dekan bidang sumber daya manusia dan umum. Sementara itu, hadir juga Dr. dr. Budiyanti Wiboworini, Sp.GK., M.Kes.; Dr. Sapja Anantanyu, S.P., M.Si.; Dr. Riyadi, S.Pd., M.Si.; Dr. Mintasih Indriayu, M.Pd.; serta Dr. Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum. dari Tim Penjaminan Mutu Sekolah Pascasarjana. Selain itu, dalam diskusi ini hadir juga Tim Gugus Kendali Mutu (GKM) Program Studi S3 IKM yaitu Dr. dr. Eti Poncorini Pamungkasari, M.Pd.; Dr. dr. Isna Qadrijati, M.Kes.; Dr. Sumardiyono, SKM., M.Kes.; dan Dr. dr. Ratih Puspita Febrinasari, M.Sc.; Koordinator Bidang Penelitian Pengabdian pada Masyarakat (P2M), Dr. Sri Mulyani, S.Kep.Ns., M.Kes.; Koordinator Bidang Akademik, Dr. dr. Veronika Ika Budiastuti, M.Pd.; serta Koordinator Bidang Kerjasama, dr. Vitri Widyaningsih, MS., Ph.D.

Setelah kegiatan ishoma acara dilanjutkan dengan penilaian sarana prasarana pembelajaran. Dalam penilaian ini, asesor menyaksikan secara live streaming beberapa ruangan yang ada meliputi ruangan studio multimedia HITIHE Project, ruangan C-STAR, dan ruangan UPM. Setelah itu, asesor melakukan penilaian tindak lanjut pada perkuliahan dan tutorial, penelitian dan pengabdian termasuk sarana dan prasarana pendukung. Dalam penilaian ini hadir perwakilan dosen yaitu Prof. Dr. dr. Hartono, M.Si. dan Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A(K). Selain itu, hadir juga perwakilan tenaga kependidikan yaitu Bapak Samsuri, S.IP., M.Si. (Koordinator Tata Usaha); Bapak Agung Yudi Purwanto, S.E. (Koordinator Akademik); Bapak Bambang Jatmika Jaka Pratala, S.Sos. (Koordinator Non-akademik); Ibu Rus Puji Lestari, A.Md.; dan Ibu Suprapti, S.Pd.

Acara berikutnya adalah penilaian tindak lanjut proses pembelajaran, sarana prasarana, serta penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang dilakukan kepada para mahasiswa dan alumni program studi S3 IKM. Dalam acara ini hadir dua orang alumni yaitu Dr. dr. Burhannudin Ichsan, M.Med.Ed., M.Kes. dan Dr. Ida Untari, SKM., M.Kes. Selain itu, hadir juga beberapa orang mahasiswa aktif program studi S3 IKM, yaitu Bapak Ronald, Bapak Adji Suwandono, Ibu Dewi Rokhanawati, dan Ibu Sri Anggarini. Rangkaian kegiatan surveilens ini juga dibantu oleh dua orang data manager yaitu dr. Stefanus Erdana Putra dan dr. Muhammad Hafizhan. Kegiatan surveilens berjalan dengan lancar dan kondusif. Acara ini ditutup pada pukul 15.00 dengan rekomendasi dan penutupan oleh asesor dengan berdiskusi dan saling mengoreksi bersama seluruh pengelola perihal hasil asesmen yang ada pada SIMAK (Sistem Manajemen Akreditasi Online).

Workshop Studi Literatur dengan Analisis Bibliometrika Menggunakan Publish or Perish, Mendeley, dan VOSviewer

Pada hari Jum’at, 23 April 2021 Research Group Disease Control (RGDC) Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (FK UNS) mengadakan Workshop Studi Literatur dengan Analisis Bibliometrika secara daring menggunakan platform aplikasi ZoomMeeting. Acara yang berlangsung pada pukul 07.30-09.30 ini dihadiri oleh anggota dan asisten penelitian dari RGDC serta beberapa orang mahasiswa S2 dan S3 IKM UNS. Acara dibuka pada pukul 07.30 dengan sambutan oleh Ketua RGDC FK UNS, Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH., Ph.D.

Acara inti dimulai pada pukul 07.45 dengan paparan yang disampaikan oleh narasumber, Bapak Nugroho Wisnu Murti, M.Si., M.Ec.Dev., Akt., CA. Dalam paparannya, beliau menjelaskan manfaat analisis bibliometrika, antara lain untuk mengetahui posisi rencana riset, memperkuat tinjauan pustaka dalam penelitian, serta menjadi artikel ilmiah sendiri (misalnya untuk independent study dalam pendidikan S3). Dalam workshop ini Bapak Nugroho juga menjelaskan perihal cara penelusuran artikel dengan menggunakan software Publish or Perish 7 (POP7), cara penggunaan VOSviewer dari database Scopus, serta bias analisis bibliometrik dan mitigasinya. Dalam dunia penelitian, VOSviewer sendiri dapat digunakan untuk analisis bibliometrik, mencari topik yang masih ada peluang diteliti, mencari referensi yang paling banyak digunakan pada bidang tertentu dan lainnya.

Setelah paparan selesai, sekitar pukul 08.45 para peserta diajak untuk melakukan simulasi langsung tentang penggunaan POP7 dan VOSviewer. Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderatori oleh dr. Vitri Widyaningsih, MS., Ph.D. Banyaknya pertanyaan baik teknis maupun nonteknis yang diajukan menunjukkan antusiasme peserta dalam mengikuti kegiatan workshop ini. Acara workshop ditutup dengan sesi foto bersama dari seluruh peserta dan narasumber pada pukul 09.30.

Inovasi Disrupsi dan Ikhtiar Eliminasi Tuberkulosis di Indonesia

Penyakit tuberkulosis (TBC) telah ada sejak zaman Mesir kuno, namun penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan di berbagai negara. Indonesia merupakan negara ranking ke-2 beban penyakit TBC tertinggi (WHO, 2020). TBC juga merupakan satu dari lima penyebab utama beban penyakit di Indonesia (Kementerian PPN/Bappenas Republik Indonesia, 2019). TBC juga menyebabkan biaya katastropik pada 36% rumah tangga di Indonesia (Fuady et al., 2018). Infeksi TBC tanpa gejala (TBC laten) merupakan tantangan baru dalam memberantas penyakit ini.

Upaya pengendalian

Prinsip pengendalian TBC adalah: temukan, obati sampai sembuh dan cegah penularan. Indonesia telah mencatat peningkatan penemuan kasus TBC yang signifikan, dari 331 ribu pada tahun 2015 ke 562 ribu pada tahun 2019 (WHO, 2020). Namun demikian, diperkirakan masih banyak orang dengan gejala TBC yang belum ditemukan karena belum terdiagnosis atau belum dilaporkan pada program pengendalian TBC nasional.

Cakupan pengobatan TBC di Indonesia sudah mengalami peningkatan. Namun, cakupan pengobatan TBC kebal obat masih di bawah 50%. Cakupan pengobatan pencegahan terutama bagi kelompok berisiko seperti Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) dan anak dengan kontak rumah tangga dari kasus TBC masih relatif rendah, yakni sekitar 50% pada ODHA, dan 33% pada anak (WHO, 2020).

Beberapa kondisi lain seperti merokok, malnutrisi dan konsumsi alkohol meningkatkan peluang penularan TBC. Ini berarti, integrasi pengendalian TBC dengan upaya untuk menanggulangi stunting, pengendalian perilaku merokok dan konsumsi alkohol perlu dimulai. Kolaborasi multi-sektor sangat dibutuhkan untuk mengakhiri permasalahan TBC di Indonesia.

Di sisi lain, upaya pengendalian TBC menghadapi tantangan di masa pandemi. Kegiatan penemuan kasus menjadi terkendala karena tenaga kesehatan dikonsentrasikan untuk penanganan Covid-19. Data dari sistem informasi TBC pada bulan Januari-Juni 2020 menunjukkan menurunnya jumlah penemuan kasus sampai sekitar 30%.

Diperkirakan pandemi Covid-19 mempunyai dampak jangka menengah pada program pengendalian TBC. Jika penemuan kasus TBC menurun, maka laju penularannya dapat meningkat. Jumlah kasus TBC kebal obat dapat meningkat pula karena cakupan pengobatan dan mutu pengawasan minum obat yang menurun serta upaya pencegahan yang kurang intensif.

Tekad eliminasi

Indonesia telah menetapkan tekad untuk mencapai eliminasi TBC di Indonesia pada tahun 2030, dengan mencapai penurunan jumlah kasus baru TBC sebesar 90% dan angka kematian akibat TBC sebesar 95% dibandingkan kondisi pada tahun 2014. Untuk itu, dibutuhkan upaya berdaya ungkit untuk mencapai status eliminasi.

Pemodelan epidemiologi telah mengidentifikasi lima intervensi kunci untuk menuju eliminasi TBC pada tahun 2030 (Kementerian Kesehatan RI, 2019). Kelima intervensi tersebut adalah: pengelolaan TBC laten, skrining pada kelompok dengan risiko tinggi TBC, cakupan diagnosis TBC secara bakteriologis yang tinggi, ekspansi tes cepat molekuler untuk diagnosis TBC dan investasi sumber daya untuk memperkuat layanan TBC.

Dengan penerapan lima intervensi kunci tersebut secara optimal diperkirakan terjadi penurunan jumlah kasus baru TBC sebesar 73% pada tahun 2030 dibandingkan dengan tahun 2017 (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020).

Inovasi disruptif

Situasi pandemi Covid-19 sebenarnya merupakan kesempatan untuk mengimplementasikan inovasi disruptif untuk mengungkit penemuan kasus, menjamin kelangsungan pengobatan dan pencegahan TBC. Ikhtiar mencapai eliminasi TBC harus diwujudkan dengan pemanfaatan inovasi disruptif.

Saat ini, teknologi diagnosis TBC masih mengandalkan pemeriksaan dahak. Sementara, proses pengambilan dahak tidak selalu mudah terutama pada kasus HIV dan anak. Saat ini telah dimulai berbagai riset untuk memudahkan diagnosis TBC misalnya melalui inhalasi nafas, feses dan urine. Penapisan TBC dengan Digital X-Ray sebelum dilakukan diagnosis tes cepat molekuler, akan meningkatkan temuan kasus.

Dengan inovasi apps, pengawasan menelan obat secara langsung dapat digantikan dengan pengawasan minum obat melalui video. Inovasi seperti ini tentu berpotensi untuk meningkatkan ketaatan minum obat. Dengan apps tersebut, penderita TBC kebal obat tidak perlu datang ke fasilitas pelayanan kesehatan setiap hari untuk minum obat dengan pengawasan petugas kesehatan sehingga akan menurunkan biaya transportasi dan hilangnya produktivitas karena proses pengobatan.

Pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmennya untuk berinvestasi bagi riset dan inovasi untuk mengatasi Covid-19. Maka, merujuk pada pernyataan dukungan Presiden Joko Widodo pada akhir tahun 2020 untuk memberantas TBC di Indonesia, komitmen pendanaan pemerintah untuk riset dan inovasi serupa perlu diduplikasi.

Adanya komunitas peneliti dalam Jejaring Riset Tuberkulosis Indonesia (JetSet TB) merupakan pemangku kepentingan yang dapat diajak bergandengan tangan bersama pemerintah untuk membuat inovasi disruptif yang telah ada menjadi ikhtiar eliminasi TBC di Indonesia pada tahun 2030 sebagai keniscayaan.

Ari Probandari Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret; Koordinator Bidang Riset dan Inovasi, Komite Ahli Tuberkulosis, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Oleh ARI PROBANDARI
Dimuat pada kolom Opini Kompas 16 April 2021 18:00 WIB

Tersedia pada https://www.kompas.id/baca/opini/2021/04/16/inovasi-disrupsi-dan-ikhtiar-eliminasi-tuberkulosis-di-indonesia/?_t=&status_login=login#

Workshop Penguatan Kapasitas Tenaga Kependidikan dalam Mendukung E-Learning HITIHE Project Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret

Pada hari Rabu, 14 April 2021 HITIHE (Health Information and Technology for Improved Health Education in South-East Asia) Project Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret mengadakan kegiatan Workshop Penguatan Kapasitas Tenaga Kependidikan dalam Mendukung E-Learning. Kegiatan workshop ini berlangsung secara hybrid dengan menggunakan kombinasi daring via platform ZoomMeeting dan secara luring di auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Dalam workshop ini, hadir juga beberapa anggota tim HITIHE dari FKKMK Universitas Gadjah Mada, yaitu Dr. dr. Ida Safitri, Sp.A(K).; dr. Doni Widyandana, Sp.M(K)., MHPE., Ph.D.; Ibu Ratih Oktri Nanda, SKM., MPH.; dan Ibu Rini Handayani, S.E. Sementara itu, hadir juga secara daring Bapak Tri Hardian Satiawardana, S.T., anggota tim HITIHE dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Universitas Sebelas Maret.

Acara ini dibuka sekitar pukul 13.00 oleh pembawa acara dr. Stefanus Erdana Putra. Agenda workshop diawali dengan sambutan dan pembukaan acara oleh dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Prof. Dr. dr. Reviono, Sp.P(K)., FISR. yang hadir secara daring. Dalam sambutannya beliau sangat mendukung pengembangan kegiatan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kependidikan seperti dalam kesempatan ini yang dapat mempercepat ketercapaian indikator kinerja utama Universitas Sebelas Maret. Acara dilanjutkan dengan paparan singkat mengenai gambaran umum proyek HITIHE yang disampaikan oleh Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH., Ph.D.

Agenda inti workshop dimulai pada pukul 13.30 dengan dimoderatori oleh dr. Bulan Kakanita Hermasari, M.Med.Ed. Pembicara pertama adalah Ibu Riah Wiratningsih, S.S., M.Si. dari UPT Perpustakaan Universitas Sebelas Maret. Dalam sesi pertama ini, Ibu Riah memaparkan beberapa hal mulai dari cara akses e-journal, cara memahami jurnal predator dan mencegah publikasi di jurnal predator, serta cara penggunaan Turnitin dalam pencegahan plagiasi. Sesi kedua dilanjutkan dengan paparan dr. Vitri Widyaningsih, MS., Ph.D. yang hadir secara daring. Dalam sesi ini beliau menjelaskan perihal ranking jurnal yang dapat menunjang akreditasi baik jurnal nasional maupun internasional dan penggunaan Mendeley sebagai software sitasi.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif dengan kedua narasumber. Peserta yang bergabung baik secara daring maupun luring sangat antusias mengajukan pertanyaan dan bahkan mengusulkan pelatihan lanjutan untuk memahami terminologi serta bahasa dalam publikasi dan pencarian literatur dan juga simulasi langsung penggunaan Turnitin dan akses e-resources. Karena keterbatasan waktu yang ada, acara akhirnya ditutup sekitar pukul 15.00 dengan sesi foto bersama yang dipimpin oleh dr. Muhammad Hafizhan dan closing statement dari kedua narasumber.

Workshop Online Klinik Akreditasi 2021 Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM-PTKes)

Pada hari Senin dan Selasa, 12-13 April 2021, Program Studi S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sebelas Maret mengirimkan tiga orang dosen yaitu: Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH., Ph.D.; Dr. dr. Ratih Puspita Febrinasari, M.Sc.; dan Dr. Sumardiyono, SKM., M.Kes. untuk menghadiri kegiatan Workshop Online Klinik Akreditasi 2021 yang diadakan oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM-PTKes).

Rangkaian kegiatan workshop ini sudah dimulai dengan pre-test yang diadakan sejak 7 hari sebelum kegiatan dan juga penugasan berupa pengisian Laporan Evaluasi Diri (LED) dan Dokumen Kinerja (DK). Acara workshop yang diadakan secara daring dengan menggunakan platform ZoomMeeting ini dibuka dengan sambutan dan penyuluhan kebijakan terbaru oleh ketua LAM-PTKes. Agenda kegiatan pada hari pertama dilanjutkan dengan 3 sesi materi yang berupa paparan perihal kebijakan dan prosedur akreditasi LAM-PTKes, kode etik dan lesson learned (asesmen dan validasi), serta overview sistem informasi manajemen akreditasi (SIMAk) online untuk program studi.

Peserta yang hadir kemudian dibagi ke dalam tiga ruangan kelas untuk mendiskusikan dokumen kinerja program studi dan penilaiannya/deskriptor (penyampaian PowerPoint per kriteria dan butir). Kegiatan diskusi di masing-masing kelas ini berlangsung dari pukul 11.00 hingga pukul 15.00 dengan jeda ISHOMA pada pukul 12.00-13.00. Kegiatan hari pertama ditutup pada pukul 15.10 dengan evaluasi untuk perbaikan bagi tugas masing-masing peserta yang akan dipresentasikan pada hari kedua.

Selanjutnya, kegiatan hari kedua dimulai pada pukul 07.30 di mana seluruh peserta langsung memasuki kelas masing-masing. Di setiap kelas, para peserta kembali berdiskusi mengenai pengisian DK dan LED program studi kriteria 1-9. Diskusi berjalan dengan hangat di tengah antusiasme para peserta hingga pukul 14.00. Para peserta kemudian kembali bergabung ke main room untuk mengikuti kegiatan penutupan dan sebagai persyaratan untuk mendapatkan sertifikat dalam kegiatan workshop ini, para peserta harus mengisi post-test, evaluasi pelaksanaan kegiatan, dan saran perbaikan.

Kaprodi S3 IKM UNS Berpartisipasi dalam Konser Musik Klasik “An Era of Musical History : From Baroque, Classical to Romantic Periode (1600-1900)” FKKMK Universitas Gadjah Mada

Pada hari Sabtu, 10 April 2021, Kepala Program Studi S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sebelas Maret, Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH., Ph.D. ikut berpartisipasi dalam acara konser musik klasik yang menyemarakkan Dies Natalis FK-KMK UGM ke-75, RSUP Dr. Sardjito ke-39, RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro ke-93, dan RS Akademik UGM ke-9. Konser yang mengusung tema “An Era of Musical History : From Baroque, Classical to Romantic Periode (1600-1900)” ini menjadi langkah kecil untuk merawat soft skills dan menjaga keseimbangan kecerdasan afektif maupun kognitif.

Beberapa penampil dalam konser musik klasik ini di antaranya adalah Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH., Ph.D. (Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM), Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH., Ph.D. (Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UNS), drh. Safarina G. Malik Suryometaram, MS.,Ph.D. (Eijkman Institute), dr. Jodi Visnu, MPH. (Prodi S3 Pokja (ad hoc) Filantropi Kesehatan PKMK FK-KMK UGM), beserta para alumni, civitas akademika FKKMK UGM, dan civitas hospitalia RSUP Dr. Sardjito maupun rumah sakit jejaring AHS UGM.

Konser musik klasik tahun 2021 bisa kembali disaksikan melalui link berikut ini: https://www.youtube.com/watch?v=yXyVuhVagBs.

Kick-off Meeting Proyek Mahasiswa Inbound UMCG ke Universitas Sebelas Maret

Pada hari Jumat, 2 April 2021 telah dilaksanakan Kick-off Meeting Proyek Mahasiswa Magang UMCG di Universitas Sebelas Maret. Hadir dalam pertemuan tersebut yakni Prof. Ari Natalia Probandari, dr., MPH., Ph.D.; Vitri Widyaningsih, dr., MS., Ph.D.; Yusuf Ari Mashuri, dr., M.Sc.; Dr. Ratih Puspita Febrinasari, dr., MSc; Pamogsa Ratri A.D, S. Tr., Keb.; dan Dilma’aarij Riski Agustia, S. Tr., Keb. selaku perwakilan dari Universitas Sebelas Maret (UNS). Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh dosen The University Medical Center Groningen (UMCG) yaitu Jaap Koot, Zinzi Pardoel, dan 5 mahasiswa magang dari UMCG.

Kolaborasi antara UNS dan UMCG telah terjalin dengan proyek penelitian bersama, SUNI-SEA (Scaling-up NCD Interventions in South East Asia), dengan Non-Communicable Diseases (NCD) khususnya diabetes mellitus dan hipertensi sebagai tema proyek ini. Kick-off Meeting Inbound UMCG Student Project ke Universitas Sebelas Maret diawali dengan perkenalan dari kedua universitas, kemudian dilanjutkan dengan presentasi dan diskusi tentang data dari Indonesia terutama Knowledge, Attitude, and Practice (KAP) tentang diabetes dan hipertensi, dan diakhiri dengan kesimpulan untuk rencana selanjutnya.

Kegiatan magang mahasiswa ini akan berlangsung selama 8 minggu dan dibagi menjadi 4 kegiatan utama berikut: menentukan topik dan cara cleaning data; analisis deskriptif; analisis inferensial; penulisan laporan dan presentasi. Setiap kegiatan dilakukan dalam waktu dua minggu dan rapat laporan progress akan diadakan setiap minggu. Mahasiswa akan menganalisis data Knowledge, Attitude, and Practice (KAP) tentang diabetes dan hipertensi yang telah dikumpulkan oleh tim SUNI-SEA Indonesia di tiga provinsi di Indonesia yaitu Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Nantinya, temuan dari analisis data tersebut akan dibahas lebih lanjut oleh tim UMCG dan UNS.

Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman kepada mahasiswa UMCG dalam proses analisis data yang belum pernah dilakukan oleh tim SUNI-SEA EU sebelumnya, mulai dari mempelajari literature review KAP mengenai diabetes dan hipertensi di Indonesia beserta program Posbindu, deskriptif analisis, penggunaan perangkat lunak analisis data seperti STATA dan SPSS, dan hubungan internasional yang baik terkait pertukaran pengetahuan, terutama dalam penelitian kesehatan.

PERANCANGAN APLIKASI SiTa-YA (SKRIPSI/TUGAS AKHIR UNJAYA) BERHASIL MERAIH JUARA I LOMBA INOVASI DOSEN DI UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI YOGYAKARTA

Perancangan aplikasi SiTa-YA, sebuah inovasi rancangan aplikasi berbasis web sebagai solusi kebutuhan pelaksanan bimbingan dan ujian Skripsi/Tugas Akhir di masa pandemi Covid-19. Perancangan aplikasi SiTa-YA tersebut berhasil meraih Juara I Lomba Inovasi Dosen dalam rangka Dies Natalis Ke-3  Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta. Perancangan aplikasi SiTa-YA merupakan inovasi dari salah satu mahasiswa S3 IKM, Kori Puspita Ningsih.

Mahasiswa di tingkat Diploma maupun Sarjana wajib menyusun hasil kajian maupun deskripsi saintifik dalam bentuk laporan tugas akhir maupun skripsi. Namun pelaksanaan bimbingan Skripsi/Tugas secara luring dirasakan kurang optimal. Perancangan Aplikasi SiTa-YA dikembangkan dengan memperhatikan model pembelajaran ERCoRe (Elicitation, Restructing, Confirmation, Reflection) guna memenuhi kebutuhan pelaksanan bimbingan dan ujian Skripsi/TA secara luring maupun daring dalam rangka menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan berpikir kritis dan kreatif.

Sekolah Komplementer Cinta Ibu Karya Mahasiswa S3 IKM Berhasil Menjadi Pemenang Paragon Innovation Award 2021

Sekolah Komplementer Cinta Ibu, sebuah inovasi kelas ibu hamil berbasis kebidanan komplementer berhasil memenangkan Paragon Innovation Award 2021 dalam kategori Health Innovation. Sekolah Komplementer Cinta Ibu merupakan project salah satu Mahasiswa S3 IKM, Rizka Ayu Setyani. Kelas ibu hamil merupakan salah satu kunci sukses KIE oleh bidan. Namun, pelaksaan kelas ibu hamil selama ini dirasakan masih kurang optimal. Sekolah Komplementer Cinta Ibu berusaha menjembatani masalah ini dengan menggunakan teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak

POSBINDU Cost Survey SUNI-SEA FK UNS

Kegiatan Pengambilan Data Cost Survey Puskesmas dalam rangka penelitian SUNI SEA di Posbindu Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar ini berlangsung selama empat hari, di bulan Maret. Sebelum dilakukan  pengambilan data cost survey  puskesmas, telah dilakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkiat yaitu diantaranya Dinas Kesehatan Karanganyar dan bagian Tata Usaha masing-masing Puskesmas yang bersangkutan untuk mendapatkan data anggaran desa dan puskemas terkait dengan kegiatan PTM. Pada proses pengambilan data dilakukan crosscheck oleh peneliti dari data yang sudah di dapatkan dan dilakukan konfirmasi ulang kepada staff dan kepala bagian Tata Usaha disetiap Puskesmas.

Pengambilan data dilakukan oleh peneliti utama dan asisten peneliti dibantu oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar. Pengambilan data di Puskesmas Jatiyoso dilakukan pada tanggal 9 Maret 2021 oleh dr. Stefanus Erdana Putra dan Pamogsa Ratri Adha Daniyar, S.Tr.Keb. Pengambilan data di Puskesmas Tawangmangu dilakukan tanggal 18 Maret 2021 oleh Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH., Ph.D,; Dilma’aarij Riski Agustia S.Tr.Keb; dan dr Victoria Husadani Permata Sari. Untuk Puskesmas Kerjo pengambilan data dilakukan tanggal 19 Maret 2021 oleh Dr. dr. Ratih Puspita Febrinasari, M.Sc,; Dr Sumardiyono S.KM., M.Kes.; dan dr. Stefanus Erdana Putra. Kemudian untuk Puskesmas Colomadu I dilakukan pada tanggal 29 Maret 2021 oleh dr. Vitri Widyaningsih, MS., Ph.D.; Tantri Yunita Ratna, S.Tr.Keb.; dan Khairunnisa S.Fis.

Pengambilan data dilakukan dengan didampingi oleh pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar. Pengambilan data meliputi cakupan puskesmas yaitu diantaranya adalah data tentang jumlah desa atau kelurahan, populasi dalam lingkup puskesmas, jumlah penerima BPJS-JKN, jam operasional Puskesmas dan rata-rata jumlah pasien perhari yang berkunjung ke puskesmas. Selain itu, adanya data anggaran puskesmas pertahun meliputi total anggaran puskesmas yang berasal dari BLUD, BOK, dan dana desa. Dari total anggaran yang ditanyakan, pengambilan data juga dilakukan terkait dengan total anggaran dari DAK fisik yang berhubungan dengan program PTM, total anggaran dari DAK non-fisik, total anggaran dari BLUD (termasuk kapitasi BPJS), total anggaran dari dana desa tahun 2021, pelayanan kapitasi BPJS (dalam 1 tahun), dan pembayaran rata-rata bulanan BPJS kapitasi atau kapitasi  per penerima BPJS per bulan (rata-rata bulanan dibagi dengan jumlah peserta). Selain itu, juga data tentang pendapatan dari sumber sendiri yaitu pendapatan dari pasien umum dalam setahun yang meliputi rawat jalan dan rawat inap, juga pendapatan dari penggantian dari BPJS non-kapitasi.

Terkait dengan data pengeluaran, data yang dibutuhkan dalam penenlitian adalah total pengeluaran puskesmas dalam satu tahun terakhir  meliputi diantaranya seperti biaya untuk PNS, biaya staff lain (non-PNS), peralatan dan perlengkapan medis, obat-obatan, operasional umum (air dan listrik), pengembangan kapasitas dan pelatihan, dukungan untuk posyandu dan posbindu, serta total pengeluaran lainnya seperti ATK, perjalanan dinas, bahan makan dan minum pasien rawat inap, uji laboran, perawatan gedung, dan personal computer. Kemudian data tentang pekerjaan terkait dengan staff yang bekerja ditanyakan mengenai data jumlah dokter, perawat, bidan, staff administrasi utama, dokter gigi, apoteker, dan lainnya. Kemudian biaya layanan mengenai jumlah biaya penggunaan layanan untuk pasien yang menerima JKN dan tidak menerima JKN.

Data selanjutnya yang diambil yaitu terkait biaya pelayanan tambahan yang harus dibayar oleh pasien sesuai dengan tarif yang ditentukan oleh PERDA seperti biaya pengukuran tekanan darah, pengukuran glukosa darah, pengukuran kadar kolesterol, dan pemeriksaan umum. Untuk biaya perawatan ini diuraikan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Karanganyar No. 12 Tahun 2010 tentang retribusi pelayanan Kesehatan pada Unit Pelaksana teknis dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar, Puskesmas Colomadu 1 hanya melayani rawat jalan dan persalinan Poned, tidak melayani rawat inap. Sedangkan untuk biaya tindakan, diuraikan dalam peraturan daerah Kabupaten Karanganyar No 12 Tahun 2010 tentang retribusi Pelayanan Kesehatan pada Unit Kegiatan Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar. Adapun data posbindu yang diambil yaitu terkait dengan jumlah posbindu, sumber dana, besar anggaran posbindu tiap bulan, biaya operasional per posbindu setiap bulan, biaya operasional per pertemuan setiap bulan, biaya tetap yang dihabiskan untuk sewa listrik dan air setiap bulan, biaya untuk peralatan medis seperti tes kolesterol setiap bulan, biaya jasa staf (kader/staf puskesmas tiap bulan), biaya materi edukasi, biaya peralatan fisik tiap bulan, dan dukungan tambahan selain keuangan, serta data tentang kendala yang dihadapi setiap posbindu dalam wilayah kerja puskesmas yang bersangkutan.

Workshop Sinkronisasi Modul Pembelajaran E-Learning HITIHE FK UNS-FKKMK UGM

Pada hari Rabu, 17 Maret 2021 telah dilaksanakan kegiatan Sinkronisasi Modul Pembelajaran E-learning Proyek HITIHE (Health Information and Technology for Improved Health Education in South-East Asia) Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret – Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada secara daring dengan menggunakan platform aplikasi ZoomMeeting. Kegiatan workshop ini dibuka sekitar pukul 13.00 WIB dengan sambutan dan arahan dari Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Prof. Dr. dr. Reviono, Sp.P(K)., FISR.

Acara dilanjutkan dengan paparan mengenai kemajuan proses penyusunan modul  antraks oleh tim HITIHE FK UNS yang disampaikan oleh dr. Robert Satriyo Budhi Susilo, Sp.PD-KPTI., M.Kes., FINASIM. Setelah sesi paparan, acara dilanjutkan dengan diskusi yang dipandu oleh Dr. dr. Eti Poncorini Pamungkasari, M.Pd. terkait penyusunan tata letak modul pembelajaran dan penyamaan format yang akan digunakan dalam modul pembelajaran elektronik yang rencananya akan dikembangkan dengan menggunakan platform Moodle.

Diskusi berjalan hangat selama sekitar satu jam yang menghasilkan berbagai masukan penting seperti rencana pengembangan e-module melalui platform I-Spring atau Articulate, rencana kerja sama dengan mengirimkan tenaga kependidikan dari Universitas Sebelas Maret untuk magang dan belajar lebih dalam mengenai keterampilan IT yang dibutuhkan dalam pengembangan e-module, kesepakatan perihal sasaran aplikasi yaitu para dokter umum, dan juga rencana penyelenggaraan workshop pustakawan di bulan April 2021. Dalam diskusi ini hadir dr. Elisabeth Elsa Herdiana Murhandarwati, M.Kes., Ph.D.; Dr. dr. Ida Safitri, Sp.A(K).; dr. Eggi Arguni, Sp.A., M.Sc., Ph.D.; dr. Doni Widyandana, Sp.M(K)., MHPE., Ph.D.; dr. Ajib Diptyanusa, DTM&H., MCTM.; Ratih Oktri Nanda, SKM., MPH.; Rilani Riskiyana, S.Kep.Ns., M.Med.Ed.; Wisnu Lazuardi Yusuf, S.Pd.; dan Rini Handayani, S.E. dari tim HITIHE FKKMK UGM. Sementara itu, tim HITIHE FK UNS lainnya yang hadir meliputi Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH., Ph.D.; dr. Vitri Widyaningsih, MS., Ph.D.; dr. Maryani, Sp.MK., M.Si.; dr. Bulan Kakanita Hermasari, M.Med.Ed.; dr. Yusuf Ari Mashuri, M.Sc.; dr. Stefanus Erdana Putra; dr. Muhammad Hafizhan; dan Suprapti, S.Pd. Langkah selanjutnya yang akan dilakukan adalah melakukan koordinasi dan penyempurnaan modul sebelum diunggah ke platform e-module. Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan simpulan oleh Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH., Ph.D. sekitar pukul 15.00 WIB.

Kuliah Pakar Komplementer Kebidanan oleh Mahasiswa S3 IKM UNS

 

Pada hari Selasa, 16 Maret 2021, Akademi Kebidanan Al-Ikhlas Yayasan Raudhatul Muta’allimin, Bogor mengadakan Kuliah Pakar Komplementer Kebidanan : Manajemen Komplementer dalam Asuhan Kebidanan secara daring melalui aplikasi Zoom dan YouTube Live. Kuliah Pakar ini dibawakan oleh Rizka Ayu Setyani, SST, MPH, yang merupakan mahasiswa S3 IKM UNS. Hal ini menunjukkan peran aktif mahasiswa S3 IKM UNS dalam bidang pendidikan kesehatan di tanah air

Review Konten Modul Antraks Proyek HITIHE

Pada hari Rabu, 10 Maret 2021 telah dilaksanakan kegiatan Workshop Review Konten Modul Antraks Proyek HITIHE (Health Information and Technology for Improved Health Education in South-East Asia) Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret secara daring dengan menggunakan platform aplikasi ZoomMeeting. Kegiatan workshop ini dibuka sekitar pukul 10.00 WIB dengan paparan pendahuluan tentang proyek HITIHE yang disampaikan oleh Koordinator Pengembangan Modul Antraks HITIHE, Dr. dr. Eti Poncorini Pamungkasari, M.Pd.

Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan paparan yang disampaikan oleh dua orang narasumber, dr. Dhani Redhono Harioputro, Sp.PD-KPTI., FINASIM. dan dr. Arie Kusumawardani, Sp.DV., FINSDV. yang terlibat dalam banyak penelitian terkait penyakit antraks. Dalam paparannya, Dokter Dhani menyampaikan beberapa masukan terkait pengembangan modul mulai dari penjelasan tentang respon imunologi antraks, pedoman lengkap tatalaksana kasus, serta review skenario kasus yang disajikan. Sementara itu, Dokter Arie lebih menekankan pada kebaruan data statistik yang ada (up to-date) serta indikator pembelajaran yang ingin dicapai dari pembelajaran dengan menggunakan modul tersebut.

Acara dilanjutkan dengan diskusi selama sekitar satu jam yang menghasilkan berbagai masukan penting seperti rencana pengembangan kuis interaktif, sinkronisasi skenario, update data, dan penambahan foto kasus-kasus klinis yang berhubungan dengan antraks. Langkah selanjutnya yang akan dilakukan adalah melakukan revisi final modul sebelum dibahas dalam rapat bersama dengan tim HITIHE FKKMK Universitas Gadjah Mada. Acara ditutup dengan sesi foto bersama sekitar pukul 12.00 WIB.

Prof Ari Probandari Sampaikan Perkembangan Manajemen Program Eradikasi Tuberkulosis

Pada hari Sabtu, 6 Maret 2021, Kepala Program Studi S3 IKM menjadi pembicara dalam “Symposium of End Tuberculosis : Current Update on Tuberculosis Management”. Pada simposim ini, Prof Ari menyampaikan tentang perkembagan terbaru dari manajemen program eradikasi tuberkulosis dan tantangannya pada industri pertambangan. Pada acara ini, hadir pula dr. Adi Poerwanto Sp.A sebagai pembicara yang membahas diagnosis klinis dari tuberkulosis. Acara ini terselenggara atas kerjasama IDI, PT Freeport Indonesia, dan Internasional SOS.

Kuliah Perdana S3 IKM Periode 1 2021

Pada tanggal 27 Februari 2021, Ptelah diselenggarakan kuliah perdana untuk mahasiswa baru Program Studi S3 IKM. Kuliah perdana ini disampaikan oleh Ketua Program Studi S3 IKM, Prof Ari Natalia Probandari, dr, MPH, PhD secara daring melalui aplikasi Zoom. Pada kuliah perdana ini, disampaikan profil dan kegiatan yang dilakukan oleh Program Studi S3 IKM

Workshop Daring “How to Prepare an Online Learning”

Pada hari Rabu, 10 Februari 2021 Tim HITIHE (Health Information and Technology for Improved Health Education in South-East Asia) Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret yang terdiri dari Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH., Ph.D.; dr. Vitri Widyaningsih, MS., Ph.D.; Dr. dr. Eti Poncorini Pamungkasari, M.Pd.; dr. Bulan Kakanita Hermasari, M.Med.Ed.; dr. Yusuf Ari Mashuri, M.Sc.; dr. Stefanus Erdana Putra; dan dr. Muhammad Hafizhan mengikuti Online Training Lecture yang diadakan sebagai wujud kerja sama antara Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, Universitas Sebelas Maret, dan Institute of Tropical Medicine Antwerp, Belgia. Dalam kesempatan ini hadir pula Ketua Unit Pendidikan Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Dr. dr. Veronika Ika Budiastuti, M.Pd. dan Tim Modul Anthrax HITIHE FK UNS, dr. Husnia Auliyatul Umma, Sp.A., M.Kes.

Acara yang berlangsung dari pukul 14.00-15.30 secara daring melalui platform ZoomMeeting ini mengambil tema “How to Prepare an Online Learning”. Acara ini mengundang Carlos Kiyan, MD. yang merupakan E-learning Coordinator di Clinical Science Department (CSD) Institute of Tropical Medicine, Antwerp (ITM) sebagai narasumber. Acara diawali dengan pengantar yang disampaikan oleh Maria Zolfo, MD., Ph.D. yang merupakan Education Coordinator di Clinical Science Department (CSD) Institute of Tropical Medicine (ITM) Antwerp, Belgia.

Dalam kesempatan ini Carlos Kiyan menjelaskan secara detail langkah-langkah yang diperlukan dalam menyiapkan kelas pembelajaran daring. Penjelasan dimulai dari mempersiapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, mempersiapkan materi, dan menyusun bentuk soal pilihan ganda maupun isian yang tepat untuk mengevaluasi kemampuan para mahasiswa setelah mengikuti proses pembelajaran. Dalam kesempatan ini dilakukan juga simulasi penggunaan aplikasi iSpring dan Articulate dalam platform Moodle yang cukup menarik bila diterapkan dalam proses pembelajaran. Aplikasi ini rencananya akan digunakan dalam penyusunan modul Anthrax dan Dengue yang akan dilakukan oleh Tim HITIHE FK UNS dan Tim HITIHE FKKMK UGM.

Bedah Buku “Tak Kenal maka Tak Sayang : Penelitian Kualitatif dalam Pelayanan Kesehatan”

Pada Hari Rabu, 10 Februari 2020, Ketua Program Studi S3 IKM UNS, Prof. dr. Ari Probandari MPH, PhD menjadi pembahas di acara Bedah Buku “Tak Kenal maka Tak Sayang : Penelitian Kualitatif dalam Pelayanan Kesehatan” yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, FKKMK UGM. Pada acara ini, turut hadir dr. Yodi Mahendradhata M.Sc, PhD, FRSPH sebagai moderator dan Prof. dr. Adi Utarini, MSc, MPH, PhD sebagai pembicara

Workshop Daring Teknis Pembuatan Video Pembelajaran dan Pengembangan Aplikasi Epi-SMART

Pada hari Rabu, 10 Februari 2021 Tim HITIHE (Health Information and Technology for Improved Health Education in South-East Asia) dan HITIHE Alliance Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret mengadakan Workshop Daring Teknis Pembuatan Video Pembelajaran dan Pengembangan Aplikasi Epi-SMART melalui platform Zoom Meeting. Acara ini dihadiri oleh Tim HITIHE Alliance, Unit Pendidikan Kedokteran, Pengelola KBK, Pengelola Skills Lab, serta Tim Course Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.

Acara ini dibuka pada pukul 12.30 dengan sambutan Ketua Unit Pendidikan Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Dr. dr. Veronika Ika Budiastuti, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya acara ini dilakukan agar nantinya produk sinematografi yang dihasilkan dapat dikemas dengan bagus dan menarik. Acara dilanjutkan dengan paparan luaran workshop sebelumnya dan timeline kegiatan dari Project HITIHE FK UNS yang disampaikan oleh Dr. dr. Eti Poncorini Pamungkasari, M.Pd.

Acara dilanjutkan dengan paparan materi inti perihal teknis pembuatan video yang disampaikan oleh Ibu Chatarina Heny Dwi Surwati, S.Sos., M.Si. dari Prodi Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret. Beliau menyampaikan secara detail langkah-langkah dalam pembuatan video pembelajaran, mulai dari konsep dan perencanaan, pengembangan ide, pembuatan naskah dan storyboard, pertemuan pra produksi, produksi, hingga panduan penanganan pasca produksi. Sesi materi dilanjutkan dengan diskusi dengan pertanyaan yang diajukan oleh beberapa peserta antara lain setting yang dibutuhkan untuk mengunggah video di YouTube, waktu yang tepat bagi perekaman atau pembuatan video, dan kiat mencuplik video agar tidak dianggap plagiat.

Acara kemudian ditutup pada pukul 14.00 dengan simpulan dan arahan oleh Ketua Proyek Penelitian HITIHE FK UNS, Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH., Ph.D. terkait keberlanjutan proyek untuk menghasilkan luaran berupa dua video pembelajaran (Skills Lab dan KBK), aplikasi Epi-SMART, dan juga modul anthrax. Secara keseluruhan, para peserta merasa cukup puas dengan penyelenggaraan acara ini yang dapat dilihat dari komentar dalam kolom masukan pasca workshop yang direkam dengan menggunakan google form.

 

Sharing Session “Project and Financial Management of A Research Center”

Pada hari Sabtu, 6 Februari 2021 Research Group Disease Control bekerja sama dengan Koordinator Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Fakultas (KPPMF) Kedokteran Universitas Sebelas Maret mengadakan Sharing session dengan Topik “Project and Financial Management of A Research Center” secara daring melalui platform aplikasi ZoomMeeting pada pukul 09.00 – 11.30. Kegiatan ini dihadiri oleh 52 orang partisipan yang terdiri dari panitia, research assistant dari Research Group Disease Control, para dosen pengelola research group yang ada di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, dan beberapa kolega dari pembicara. Sharing session ini dibuka dengan sambutan dari Ketua KPPMF Kedokteran Universitas Sebelas Maret, dr. Dono Indarto, M.Biotech.St., Ph.D., AIFM. dan Ketua Research Group Disease Control, Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH., Ph.D.

Kegiatan yang dimoderatori oleh Dr. Sumardiyono, SKM., M.Kes. selaku Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret ini mengundang dua orang narasumber dari Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (PKT FKKMK UGM). Selama 24 tahun berdiri, PKT FKKMK UGM telah berkembang menjadi sebuah research center dengan manajemen yang sangat baik, sehingga melalui kegiatan ini diharapkan manajemen seluruh research group yang ada di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret dapat terpacu untuk meningkat pesat dan semakin produktif untuk mencapai berbagai Indikator Kinerja Utama Universitas dalam beberapa tahun ke depan.

Narasumber pertama, Siska Amalia, S.Farm.Apt., MBA. selaku manager operasional PKT FKKMK UGM membagikan berbagai hal terkait finansial dan pengelolaan kegiatan penelitian yang telah dilakukan selama ini. Sementara itu, narasumber kedua, Christa Dewi, SKM., M.Nurs., Ph.D. selaku sekretaris PKT FKKMK UGM membagikan berbagai hal terkait proses rekruitmen tenaga penelitian dan proses administrasi yang telah dilakukan selama ini. Dalam suatu perencanaan proyek penelitian, seluruh peneliti yang terlibat perlu sekali fokus pada pencapaian dan tujuannya, sehingga perencanaan, anggaran, pelaporan, dan pelaksaaan proyek penelitian tersebut akan berjalan tepat sasaran, tepat guna, dan tepat waktu.

Setelah paparan dari kedua narasumber, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung sekitar 45 menit dengan antusiasme tinggi dari seluruh partisipan yang terlihat dari banyaknya pertanyaan kepada kedua narasumber, sehingga tidak semua pertanyaan dapat terjawab karena keterbatasan waktu yang ada. Sebelum kegiatan ini ditutup, diadakan sebuah kuis interaktif yang berhadiah 5 buah buku Metodologi Penelitian Kuantitatif yang diberikan kepada para peserta dengan skor tertinggi dalam kuis. Kegiatan ini ditutup dengan sesi foto bersama dan simpulan yang disampaikan oleh Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH., Ph.D. selaku Ketua Research Group Disease Control.

Workshop Pengembangan Konten Video Pembelajaran oleh HITIHE Allience

Pada hari Selasa, 2 Februari 2021, HITIHE Allience telah menjalankan Workshop Pengembangan Konten Video Pembelajaran secara daring melalui aplikasi Zoom. Acara ini dihadiri oleh Dekanat Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Tim HITIHE Allience, Unit Pendidikan Kedokteran, Pengelola KBK, Pengelola Skills Lab, serta Tim Course.

Acara dimulai pada pukul 12.30 dan dibuka oleh Prof. Dr. Reviono, dr., Sp.P (K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret serta Dr. Veronika Ika Budiastuti, dr., M.Pd selaku Kepala Unit Pendidikan Kedokteran. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan Paparan Kegiatan Workshop dan Luaran yang Diharapkan oleh Prof. Ari Natalia Probandari, dr., MPH., Ph.D. Kemudian, peserta dibagi menjadi 3 kelompok Focused Group Discussion (FGD) dan Workshop pada breakout room, yaitu room KBK, room Skills Lab, dan room Pengembangan Konten Aplikasi. FGD membahas urgensi, pengalaman, serta strategi perancangan pembuatan video pembelajaran. Acara kemudian diakhiri pada pukul 15.00 dengan simpulan dan penutup oleh Dr. dr. Eti Poncorini Pamungkasari, dr., M.Pd.

Proposal Disertasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Widiawan Sukarno Ardhianto NIM T511908011

Proposal Disertasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Widiawan Sukarno Ardhianto NIM T511908011  telah dilaksanakan pada tanggal 1 Februari 2021 secara daring melalui aplikasi Zoom.

Judul proposal disertasi “Perubahan Pola Konsumsi Rokok Remaja pada Keluarga Miskin di Indonesia (Hasil Survey IFLS Wave 3-5)”

Proposal Disertasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Ignatius Gonggo Prihatmono NIM T151908013

Proposal Disertasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Ignatius Gonggo Prihatmono NIM T151908013 telah dilaksanakan pada tanggal 1 Februari 2021 secara daring melalui aplikasi Zoom.

Judul proposal disertasi “Pengembangan Model Pencegahan Depresi pada Remaja Berbasis Determinan Sosial Depresi pada Remaja: Analisis Data IFLS 3, 4, dan 5”

Proposal Disertasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Saifudin Zukhri NIM T151908008

Proposal Disertasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Saifudin Zukhri NIM T151908008 telah dilaksanakan pada tanggal 26 Januari 2021 secara daring melalui aplikasi Zoom.

Judul proposal disertasi “Hubungan Skor Ketahanan Pangan dengan Faktor Resiko dan Kejadian Penyakit Jantung pada Penduduk Usia Produktif di Indonesia”

Proposal Disertasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Anis Nurhidayati NIM T511908001

Proposal Disertasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Anis Nurhidayati NIM T511908001 telah dilaksanakan pada tanggal 26 Januari 2021 secara daring melalui aplikasi Zoom.

Judul proposal disertasi “Penerapan Home Blood Pressure Monitoring pada Manajemen Hipertensi dalam Kehamilan”

Ujian Kualifikasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Nurholis Majid NIM T511908007

Ujian Kualifikasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Nurholis Majid NIM T511908007 telah dilaksanakan pada tanggal 26 Januari 2021 secara daring melalui aplikasi Zoom.

Judul ujian kualifikasi “Pengaruh Disparitas Lansia Terhadap Multimorbiditas: Analisa Data Sekunder IFLS (2000, 2007, 2014)”. Dengan penguji :

  1. Dr. Vitri Widyaningsih, dr., MS., PhD
  2. Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si
  3.  Dr. dr. Ratih Puspita Febrinasari, M.Sc

Ujian Proposal Disertasi Mahasiswa S3 IKM a/n M. Nur Khamid NIM T511908006

Ujian Proposal Disertasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n M. Nur Khamid NIM T511908006 telah dilaksanakan pada tanggal 25 Januari 2021 secara daring melalui aplikasi Zoom. Judul proposal disertasi “Perubahan Perilaku pada LSL (Laki-Laki Seks dengan Laki-Laki) HIV Positif Dalam Penanggulangan HIV dan AIDS Berbasis Media Sosial”.

Ujian Kualifikasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Ati’ul Impartina NIM T511808001

Ujian Kualifikasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Ati’ul Impartina NIM T511808001 telah dilaksanakan pada tanggal 25 Januari 2021 secara daring melalui aplikasi Zoom.

Judul proposal disertasi “Model Instrumen School Readiness bagi Guru PAUD”. Dengan penguji :

  1. Prof. Dr. Harsono Salimo, dr., Sp.A (K)
  2. Prof. Ari Natalia Probandari, dr, MPH, PhD
  3. Dr. Sri Mulyani, S.Kep. Ns., M.Kes

“Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) Di Masa Pandemi Covid-19” Karya Mahasiswa S3 IKM di Koran Jawa Pos

Oleh: drg Betty Saptiwi, M.Kes.
Dosen FK UNS, Mahasiswa Program Studi S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat UNS

 

RONGGA mulut merupakan salah satu media transmisi dan berkembangnya virus juga bakteri, termasuk virus corona (SARS-Cov-2). Selain itu, rongga mulut merupakan gerbang utama masuknya makanan ke dalam tubuh. Apabila terjadi gangguan dalam rongga mulut, maka akan berakibat pada berkurangnya nafsu makan yang dapat berujung pada kurangnya asupan nutrisi ke dalam tubuh.

Sementara telah diketahui bersama bahwa dalam masa pandemi Covid-19 sangat dibutuhkan asupan nutrisi yang mencukupi agar sistem imunitas tubuh tetap kuat, sehingga tubuh dapat melindungi diri dari masuknya kuman dan mencegah terpaparnya virus SARS-Cov 2 yang merupakan penyebab Covid-19. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menjaga agar rongga mulut tetap sehat.

Layanan kesehatan gigi dan mulut berpotensi tinggi terhadap transmisi Covid-19, baik dari dokter/perawat gigi ke pasien ataupun sebaliknya. Oleh karena itu, Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) mengimbau untuk tidak melakukan kunjungan ke dokter gigi di luar situasi  darurat.

Kategori yang dianggap darurat adalah apabila terdapat perdarahan yang tak kunjung berhenti, nyeri pada gigi, gusi, atau tulang rahang, pembengkakan (gusi, wajah dan leher), perawatan gigi pasien yang menjalani pengobatan kanker, perawatan pasca-operasi yang tidak dapat dilakukan secara mandiri, trauma yang mempengaruhi kondisi bernapas,  atau perlu adanya tindakan pengambil sampel di area mulut. Bila keadaan tidak darurat, maka sebaiknya cukup melakukan perawatan secara pribadi di rumah.

PB PDGI juga telah mengeluarkan surat edaran tentang  Pedoman Pelayanan Kedokteran Gigi Selama Pandemi Covid-19 yang pada poin 3 berbunyi: “Menunda tindakan tanpa keluhan simtomatik, bersifat elektif, perawatan estetis, tindakan dengan menggunakan bur/scaler/suction”. Dengan demikian, jenis pelayanan perawatan gigi dan mulut pun terbatas.

Oleh karena itu, pencegahan penyakit rongga mulut dalam masa pandemi Covid-19 ini harus benar-benar diperhatikan untuk meminimalkan layanan perawatan gigi dan mulut dan transmisi covid-19. Upaya promotif dan preventif lebih diutamakan daripada kuratif dan rehabilitatif.

Data Riset Kesehatan Dasar Kementrian Kesehatan Republik Indonesia 2018 (RISKESDAS 2018) menunjukkan bahwa proporsi penyakit rongga mulut di Indonesia masih tinggi yaitu mencapai 57,6%. Bila ditinjau berdasarkan usia, proporsi 67,3% dari usia 5-9 tahun, dan 55,6% dari usia 10-14 tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa proporsi penyakit rongga mulut pada anak usia sekolah cukup tinggi.

Pemerintah telah melaksanakan upaya penanggulangan dan pencegahan dengan program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS). Program UKGS ini merupakan bagian integral dari Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang melaksanakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut secara terencana pada para siswa terutama siswa Sekolah Tingkat Dasar (STD) dalam suatu kurun waktu tertentu dan diselenggarakan secara berkesinambungan.

Kegiatan UKGS dilaksanakan oleh tenaga pelaksana UKGS yang terdiri dari  tenaga pelaksana di sekolah meliputi guru olahraga dan dokter kecil yang telah dilatih tentang kesehatan gigi dan mulut. Serta tenaga pelaksana di puskesmas meliputi dokter gigi dan perawat gigi/ tenaga kesehatan lain yang telah dilatih. Adapun kegiatannya meliputi kegiatan preventif, promotif dan kuratif.

Upaya promotif dilakukan dengan pelatihan guru dan petugas kesehatan gigi serta pendidikan/ penyuluhan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan oleh guru terlatih kepada siswa. Upaya preventif meliputi sikat gigi masal minimal untuk kelas I, II, dan kelas III dengan memakai pasta gigi yang mengandung fluor minimal 1 kali/bulan dan penjaringan kesehatan gigi dan mulut.

Upaya kuratif yang dilaksanakan di UKGS adalah pengobatan darurat untuk menghilangkan rasa sakit, pelayanan medik dasar, baik berdasarkan permintaan maupun sesuai kebutuhan, dan rujukan bagi siswa yang memerlukan perawatan. Sebelum masa pandemi Covid-19, pelaksanaan UKGS sudah berjalan dengan baik dan mampu memberikan manfaat bagi anak sekolah, terutama siswa Sekolah Tingkat Dasar (STD).

Pandemi Covid-19 memaksa diberlakukannya kebijakan social distancing atau di Indonesia lebih dikenal sebagai physical distancing (menjaga jarak fisik) untuk meminimalisir transmisi Covid-19 di masyarakat. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merespons dengan kebijakan belajar dari rumah, melalui pembelajaran daring.

Pembelajaran daring yang saat ini diberlakukan, berpengaruh pada kegiatan UKGS yang sudah rutin dilaksanakan, sehingga menjadi tidak optimal. Kegiatan UKGS selama pandemi dilaksanakan dengan skrining kesehatan gigi dan mulut dengan formulir yang dibagikan oleh petugas puskesmas kepada orang tua Siswa melalui link google form, sedangkan kegiatan promotif dan preventif yang mestinya diutamakan pada masa pandemi Covid-19, sementara ini vakum.

Pelaksanaan UKGS yang tidak optimal ini, dikarenakan belum adanya persiapan pedoman pelaksanaan UKGS yang mengikuti perubahan pelaksanaan pembelajaran secara daring.  Hal ini perlu mendapat perhatian, mengingat suasana pembelajaran daring dari rumah yang tidak formal seperti pembelajaran tatap muka di sekolah , memungkinkan anak ngemil (mengonsumsi makanan ringan) selama proses pembelajaran,  sehingga risiko karies meningkat bila kondisi tersebut tidak diimbangi dengan pemeliharaan kesehatan rongga mulut yang benar.

Pemimpin di sektor terkait harus berupaya untuk mengoptimalkan pelaksanaan UKGS secara daring, mengikuti pelaksanaan pembelajaran daring selama pandemi Covid-19 guna mencegah terjadinya penyakit rongga mulut anak sekolah.

Meskipun pelaksanaan UKGS secara daring hanya merupakan perubahan metode dari pelaksanaan UKGS secara tatap muka langsung, namun memerlukan pemikiran yang sistematis dalam hal perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi kegiatannya. Karena bisa merupakan inovasi program masing-masing Kabupaten/Kota. Berikut ini merupakan ilustrasi program UKGS daring mulai dari perencanaan hingga evaluasi :

1.   Perencanaan

Pihak-pihak yang terkait, dilibatkan dalam perencanaan program, antara lain programer pelayanan kesehatan dasar Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten, penanggung jawab kesehatan gigi dan mulut Puskesmas serta penanggung jawab kurikulum dan penilaian sekolah dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten. Hal yang direncanakan meliputi :

a.      Panduan UKGS daring, antara lain berisi tentang :

1)     Tahapan skrining kesehatan melalui google form dan alur rujukan bila ada kasus darurat (untuk perencanaan tindakan kuratif)

2)     Materi edukasi pencegahan penyakit rongga mulut berupa video serta gambar dan tulisan (dalam slide power point) yang dikemas dalam link google drive. Isi materi antara lain tentang pentingnya menjaga kesehatan mulut dan gigi, cara menggosok gigi yang baik dan benar, pentingnya  menjaga pola makan serta kumur dengan larutan anti septik.

3)     Tahapan praktek sikat gigi bersama secara daring (preventif)

Tahapan ini berupa instruksi sikat gigi yang baik dan benar. Untuk Siswa, instruksi sikat gigi yang benar ini berupa checklist yang dimuat dalam ‘buku sikat gigi’.

b.      Petugas :

1)     Penanggung jawab : Dokter Gigi Puskesmas

2)     Pelaksana              : Perawat Gigi Puskesmas, Guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Orang tua Siswa

c.      Sasaran              : Siswa Sekolah Tingkat Dasar

d.      Sumber dana dan rincian anggaran :

1)     Sumber dana bisa dari APBD Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

2)     Rincian Anggaran mencakup biaya yang dikeluarkan mulai dari perencanaan sampai evaluasi kegiatan.

2.   Pelaksanaan

a.      Pelatihan untuk petugas secara daring dengan narasumber programer Pelayanan Kesehatan Dasar Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten. Tujuan pelatihan adalah untuk :

1)     Menyamakan persepsi mengenai panduan UKGS daring

2)     Refreshing materi edukasi pencegahan penyakit rongga mulut.

b.      Kegiatan UKGS daring dilaksanakan setiap sebulan sekali dimasukkan pada jadwal kata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan dengan media daring mengikuti media daring yang sudah digunakan untuk pembelajaran sekolah. Follow-up kegiatan UKGS secara daring dapat dilakukan melalui ‘buku sikat gigi’, yang akan diisi setiap hari oleh anak sehabis menyikat giginya dan akan dipantau oleh orang tua siswa serta guru kelas masing-masing siswa. Target yang ingin dicapai adalah anak akan menyikat gigi minimal dua kali sehari yaitu pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur.

3.   Monitoring

Kegiatan monitoring dilaksanakan oleh programer Pelayanan Kesehatan Dasar Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan cara hadir di media daring pelaksanaan UKGS dan atau menghimpun foto serta  rekaman kegiatan yang dikirim oleh petugas pelaksana secara online pada saat kegiatan berlangsung.

4.   Evaluasi

Evaluasi kegiatan dilaksanakan setiap bulan di minggu pertama bulan berikutnya setelah pelaksanaan kegiatan UKGS melalui pertemuan secara daring antara programer (Dinas Kesehatan) dan pelaksana (Puskesmas dan Sekolah). Pelaksana akan melaporkan hasil kegiatan sebelumnya dan akan dievaluasi bersama apakah sudah sesuai dengan tujuan kegiatan atau masih menyimpang. Bila ada penyimpangan, kendala apa yang ditemuai, solusinya bagaimana. Hasil evaluasi akan digunakan untuk perbaikan kegiatan berikutnya.

Awal tahun merupakan saat yang tepat untuk perencanaan program, sehingga program UKGS secara daring ini bisa segera dilaksanakan secara optimal dengan harapan kesehatan rongga mulut anak sekolah tetap terjaga di masa pandemi Covid-19. Rongga mulut sehat, tubuh kuat. (*)

 

 

Dimuat di koran Radar Solo, 15 Januari 2020. Artikel asli dapat diakses

Ilustrasi oleh sains.kompas.com

 

“Optimalisasi Fungsi KTR Sebagai Upaya Menurunkan Angka Perokok Baru” – Tulisan Mahasiswa Prodi S3 IKM di Media Informasi Kesehatan

Oleh : Farid Setyo N

(Dosen Prodi Kesmas FKM Univet Bantara/ Mahasiswa S3 IKM UNS)

 

Merokok merupakan perilaku yang dapat menyebabkan seseorang menderita sakit. Sakit akibat perilaku ini dapat berakibat secara langsung (perokok aktif) maupun secara tidak langsung (perokok pasif). Berbagai macam penyakit ditimbulkan akibat dari perilaku ini, diantaranya kanker paru, kanker mulut, gangguan pada perkembangan janin, penyakit jantung, bahkan sampai dengan stroke. Tentu saja penyakit-penyakit tadi tidak terjadi dalam jangka waktu singkat, diperlukan waktu yang cukup lama untuk terjadinya penyakit-penyakit tersebut. Maka sering sebagian besar perokok mengatakan “saya perokok, dan saat ini saya baik-baik saja”.

Banyak perokok dan keluarga perokok (perokok pasif) yang tidak mengetahui bahwa sebenarnya mereka sudah mengalami gejala penyakit yang disebabkan merokok. Apabila penyakit-penyakit tersebut sudah menyerang hal itu pun sudah terlambat. Merokok tidak hanya memberikan dampak kesehatan yang buruk pada perokok, akan tetapi keluarga terdekat (anak, suami / istri) pun juga dapat terdampak penyakit akibat asap rokok. Sejak tahun 2017 penyakit tidak menular merupakan penyumbang kematian tertinggi, dimana salah satu penyebabnya adalah merokok (IHME, 2020).

Berdasarkan data TCSC IAKMI tahun 2020, prevalensi merokok usia diatas 15 tahun di Indonesia sebesar 32,2 %, dimana hampir 50% provinsi prevalensinya diatas angka rata-rata nasional. Sedangkan proporsi penduduk yang mengonsumsi tembakau baik hisap maupun kunyah pada laki-laki tahun 2018 sebesar 62,9%, sedangkan pada perempuan sebesar 4,8%.Secara keseluruhan jenis kelamin rata-rata penduduk yang mengonsumsi tembakau(hisap dan kunyah) tahun 2018 sebesar 33,8%. Angka-angka tersebut menunjukkan besarnya perokok aktif secara nasional, belum lagi apabila disekitar perokok aktif tersebut juga terdapat perokok pasif. Hal ini tentu saja akan menjadikan angka penyakit akibat rokok menjadi lebih besar, dan akan diiringi dengan besarnya biaya pengobatan penyakit akibat rokok.

Merokok dapat dikatakan sebagai perilaku boros secara ekonomi, akan tetapi prosentase merokok tertinggi justru berada pada penduduk dengan kategori kekayaan terbawah (miskin) yaitu sebesar 82% jika dibandingkan penduduk dengan kategori kekayaan teratas (kaya) sebesar 58,4% (SDKI, 2017). Data tersebut menunjukkan bahwa penduduk dengan tingkat kekayaan rendah tidak memandang rokok sebagai suatu yang memberatkan dalam kehidupannya. Rokok sendiri memiliki peranan dalam tingkat kemiskinan masyarakat karena rokok sebenarnya bukan merupakan bahan makanan pokok, akan tetapi memiliki tingkat konsumsi yang tinggi, bahkan merokok menempati kebutuhan pokok kedua setelah nasi pada masyarakat miskin.

Berdasarkan hasil peneltian dari Pusat Kajian Jaminan Sosial-Universitas Indonesia tahun 2019 diketahui bahwa anak-anak dari orang tua perokok memiliki pertumbuhan berat badan rata-rata yang lebih rendah 1,5 kg apabila dibandingkan dengan keluarga yang orang tua nya bukan perokok. Hal ini menunjukkan bahwa pemenuhan gizi anak-anak dari orang tua perokok belum terpenuhi secara baik, karena alokasi pemenuhan gizi keluarga dialihkan untuk pembelian rokok. Sedangkan pada keluarga yang orang tua nya bukan perokok kebutuhan gizi anak lebih terpenuhi. Tidak terpenuhinya gizi anak selama masa pertumbuhannya akan berpotensi menyebabkan stunting. Stunting merupakan kegagalan proses pertumbuhan pada anak baik tubuh maupun otak akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama. Angka stunting secara nasional sendiri masih diangka 30,8% (Riskesdas, 2018). Terdapat kemungkinan adanya pengaruh orang tua perokok dengan kejadian stunting pada anak (perlu dilakukan penelitian).

Orang yang merokok memiliki risiko tinggi untuk menderita penyakit jantung dan pernapasan, yang apabila dihubungkan dengan pandemi Covid-19 maka orang yang merokok akan memperparah kondisi kesehatan apabila terinfeksi Covid-19. Pada perokok, ACE2 (reseptor Covid-19) dan CD209 sangat signifikan menonjol, maka hal ini akan membuat virus lebih cepat menempel. Inilah alasan mengapa orang yang merokok lebih banyak yang terinfeksi virus, karena

orang yang merokok memiliki reseptor yang lebih banyak (Prof Amin Soebandrio). Sedangkan menurut Zhao, et. Al 2020, orang yang merokok memiliki risiko mengalami keparahan sebesar dua kali lipat dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Menurut Dr Agus Dwi Susanto (Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia), terdapat 4 hal mengapa merokok dapat meningkatkan risiko terinfeksi Covid-19, 1) merokok dapat Merokok menyebabkan gangguan pada sistem imunitas, 2) merokok meningkatkan regulasi reseptor ACE2, 3) merokok menyebabkan terjadinya komorbid, 4) Aktivitas merokok meningkatkan transmisi virus ketubuh melalui media tangan yang sering memegang area mulut saat merokok.

Melepaskan rokok dari genggaman jari jemari mmg sulit dilakukan oleh perokok aktif, hal ini karena rokok mengadung zat adiktif yaitu nikotin. Proses bagaimana seseorang dapat kecanduan (adiksi) terhadap nikotin adalah ketika orang tersebut merokok maka nikotin dalam asap rokok akan merangsang reseptor α4β2 pada otak untuk pelepasan dopamin selanjutnya hormon ini akan memberikan rasa nyaman, tenang, dan rileks. Ketika hormon ini tdk muncul maka tubuh seorang perokok akan mulai merasa gelisah, cemas, dan resah. sehingga perokok tsb mulai merokok kembali utk mendapatkan rasa nyaman, tenang, dan rileks. Merokok merupakan perilaku yg sulit utk dirubah tetapi bisa untuk diubah. Kunci utama berhenti merokok adalah dengan niat.

Merokok dapat dikatakan bagian dari gaya hidup. Orang yang merokok biasanya karena terpengaruh, meniru orang-orang terdekatnya seperti keluarga, teman, lingkungan, dan iklan-iklan rokok. Maka dari itu sebagai upaya untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat mengenai bahaya dari merokok serta dampak akibat merokok perlu dilakukan upaya-upaya edukasi dan advokasi. Edukasi telah banyak dilakukan kepada masyarakat tentang bahaya atau akibat dari merokok, bahkan dalam sebungkus rokok pun telah dicantumkan Pictorial Health Warning (PHW) sebagai bagian dari upaya edukasi tentang bahaya merokok. Namun sepertinya upaya tersebut belum menurunkan angka perokok.

Advokasi telah dilakukan sebagai upaya untuk menurunkan angka perokok baru. Advokasi telah menghasilkan kebijakan diantaranya peraturan bersama antara menteri kesehatan nomor 188/MENKES/PB/I/2011 dan menteri dalam negeri nomor 7 tahun 2011, tentang pedoman pelaksanaan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Pada pasal 1 ayat 1 Peraturan bersama tersebut menjelaskan KTR merupakan ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan atau mempromosikan produk tembakau. Peraturan tersebut tidak berarti membatasi atau pun melarang perokok untuk merokok karena didalam peraturan tersebut juga diatur mengenai tempat khusus yang bisa digunakan bagi perokok untuk merokok, yaitu pada pasal 1 ayat dijelaskan bahwa tempat khusus untuk merokok adalah ruangan yang diperuntukkan khusus untuk kegiatan merokok yang berada di dalam KTR.

Akan tetapi upaya optimalisasi KTR sebagai sarana edukasi, dan pencegahan paparan terhadap iklan-iklan rokok perlu dikaji kembali berdasarkan pernyataan diatas. Hal ini karena masih sering dijumpai perokok merokok di KTR bukan dikawasan khusus merokok sehingga masyarakat sehat masih saja terpapar oleh asap rokok yang berisiko menyebabkan penyakit akibat rokok (pernapasan, kardiovaskular, kanker). Rokok, merokok dan iklan rokok masih ditemukan di KTR hal ini menunjukkan bahwa peraturan ini belum terimplementasi dengan baik sehingga upaya utk menurunkan paparan iklan rokok pun serasa blm efektif. Upaya seperti sosialiasi perlu digencarkan kembali untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang KTR. Tidak hanya sosialisasi saja, upaya monitorig dan evaluasi implementasi kebijakan KTR perlu juga dilakukan. Upaya monitoring dan evaluasi ini dapat melibatkan pihak terkait untuk memberikan teguran, sanksi administratif maupun denda seperti yang sudah diatur dalam peraturan-peraturan tersebut sebagai upaya untuk mengoptimalkan fungsi KTR.

Peraturan bersama ini sepertinya belum dipahami benar oleh masyarakat, meskipun juga telah dibuat pula peraturan turunan (pergub / perwali / perbup) yang mengatur mengenai KTR. Jika peraturan ini dapat terimplementasi dengan optimal serta didukung dengan kerjasama lintas sektor maka bukan hal yang mustahil untuk menekan jumlah angka perokok baru. Masyarakat sehat tetap mendapatkan hak-haknya untuk menghirup udara yang sehat tanpa asap rokok, serta hak merokok bagi perokok pun juga terpenuhi dengan adanya tempat khusus bagi perokok. Harmonisasi ini akan menciptakan toleransi yang sangat baik antara perokok dan masyarakat yang ingin hidup sehat tanpa rokok, sehingga pada akhirnya generasi-geneasi penerus bangsa ini akan menjadi generasi yang kokoh, sehat, dan produktif.

Generasi muda harus dijauhkan dari akses rokok, iklan rokok, dan orang-orang yang merokok. Perilaku merokok pada remaja bisa terbentuk karena paparan iklan rokok yang sangat massif dan menarik. Tidak hanya itu perilaku merokok pada remaja juga akan terbentuk melalui proses pengamatan terhadap orang-orang disekitarnya, misal mengamati anggota keluarganya yang merokok (ayah, paman, saudara laki-laki). Ketika seorang anak mengamati perilaku merokok orang-orang terdekatnya, kemudian memberikan penilaian bahwa merokok bukanlah sesuatu yang salah toh bapak, kakak, paman sy selalu merokok. Persepsi negatif ini mulai tercipta pada remaja sehingga kalau saya merokok pun itu bukan suatu masalah. Hal seperti ini merupakan faktor yg membentuk perilaku merokok. Untuk menghindari terbentuknya perilaku merokok maka sebaiknya remaja dijauhkan dari paparan iklan rokok dan perilaku merokok orang-orang terdekatnya, serta edukasi yang menarik dan komprehensif sehingga remaja paham benar akan bahaya dan penyakit-penyakit yang ditimbulkan dari merokok.

Berdasarkan Global Youth Tobacco Survey tahun 2019, 7 dari 10 pelajar melihat iklan atau promosi rokok saat berkunjung ke tempat-tempat perbelanjaan. Di antara pelajar yang menyaksikan iklan atau promosi rokok tersebut sebanyak 60,6 % nya mencoba untuk membeli rokok dan penjual rokok tidak mencegah atau tetap memberikan rokok meskipun mereka adalah pelajar. Hal ini merupakan permasalahan yang perlu mendapat perhatian serius. Komitmen berbagai pihak diperlukan sebagai upaya untuk menghindarkan remaja dari berbagai macam paparan iklan rokok atau akses untuk membeli rokok. Mengingat remaja merupakan generasi penerus bangsa. Paparan terhadap massif nya iklan dan promosi rokok harus diminimalisir, serta pemberian edukasi kepada para penjual rokok untuk tidak melayani ketika ada pelajar yang akan membeli rokok.

Pelajar merupakan generasi yang penting bagi masa depan bangsa. Pelajar seharusnya sehat, kuat, dan cerdas yg nantinya mampu membawa bangsa ini menjadi bangsa yang kuat secara mental, spirtual, ekonomi dan teknologi. Generasi muda harus dijauhkan dari paparan iklan rokok maupun perilaku merokok itu sendiri. Generasi perokok hanya akan menghasilkan generasi yang tidak produktif dan memberikan beban kesehatan bagi bangsa.

Optimalisasi fungsi KTR secara komprehensif dengan kegiatan edukasi secara berkesinambungan, disertai dgn kerjasama lintas sektor, dan penegakkan peraturan melalui Perda ataupun turuannya merupakan kunci untuk menurunkan angka perokok baru dan pada akhirnya akan menurunkan angka penyakit akibat rokok. Apabila angka penyakit akibat rokok menurun, maka beban kesehatan pun akan berkurang. Sehingga dapat membentuk generasi bangsa yg sehat dan produktif.

Referensi

  1. Institute for Health Metrics and Evaluation 2020 https://vizhub.healthdata.org. Retrieved from http://www.healthdata.org/: https://vizhub.healthdata.org/gbd-compare/
  2. Kementrian kesehatan RI : Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018
  3. Peraturan Bersama Menteri Kesehatan nomor 188/MENKES/PB/I/2011 dan menteri dalam negeri nomor 7 tahun 2011, tentang pedoman pelaksanaan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
  4. BKKBN : Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2017
  5. TCSC IAKMI : Atlas Tembakau Indnesia tahun 2020
  6. WHO : Global Youth Tobacco Survey Indonesia Report 2020.

 

Artikel asli dimuat dalam Media Informasi Kesehatan pada 14 Januari 2021. Artikel dapat diakses disini

 

Pilot Training SUNI-SEA bagi Tenaga Kesehatan dan Kader Posbindu

Kegiatan Pilot Training Tenaga Kesehatan dan Kader Posbindu – Pelatihan Penggunaan Algoritma dalam Rangka Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular di Posbindu Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar ini berlangsung selama tiga hari, meliputi pelatihan bagi tenaga kesehatan pada hari pertama serta pelatihan bagi kader Posbindu pada hari kedua dan ketiga. Sebelum pelatihan ini, seluruh peserta, panitia, dan pembicara telah diwajibkan mengikuti rapid test antigen yang diadakan di Rumah Swab Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar. Pelatihan ini dibuka dengan safety induction oleh Pamogsa Ratri Adha Dhaniar, S.Tr.Keb. selaku Manager Project dan dilanjutkan dengan sambutan oleh Ibu Purwati, SKM., M.Kes. selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar dan didampingi oleh Bapak Warsito, SKM. selaku Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar. Setelah acara dibuka, peserta mengikuti pre-test terlebih dahulu. Pelatihan hari pertama terdiri dari 4 sesi meliputi overview proyek SUNI-SEA oleh Ketua Proyek Penelitian, Prof. Ari Natalia Probandari, dr., MPH., Ph.D.; overview pelatihan oleh Dr. Sumardiyono, SKM., M.Kes.; serta overview fase intervensi dan pengenalan aplikasi algoritma Posbindu oleh Vitri Widyaningsih, dr., MS., Ph.D. Setiap topik ditutup dengan evaluasi dari peserta yang dilakukan melalui diskusi langsung dan pengisian google form. Kegiatan hari pertama ditutup dengan diskusi kelompok terarah dalam dua kelompok besar mengenai evaluasi pelatihan dan pelaksanaan Posbindu. Sebelum meninggalkan lokasi, seluruh peserta juga diminta mengisi lembar post-test melalui google form untuk mengevaluasi tingkat pemahaman peserta setelah mengikuti pelatihan.

Hari kedua dilanjutkan dengan pelatihan bagi kader Posbindu dan tenaga kesehatan. Kegiatan diawali dengan pre-test bagi para kader Posbindu. Pelatihan hari kedua terbagi menjadi lima topik meliputi: overview Pelatihan oleh Dr. Sumardiyono, SKM., M.Kes.; overview hipertensi oleh dr. Stefanus Erdana Putra; overview diabetes mellitus oleh Dr. Ratih Puspita Febrinasari, dr., M.Sc.; pemeriksaan fisik antropometri dan gula darah sewaktu oleh Tantri Yunita Ratna, S.Tr. Keb.; dan pengenalan aplikasi algoritma Posbindu oleh Dr. Eti Poncorini Pamungkasari, dr., M.Pd. Setiap topik juga ditutup dengan evaluasi dari peserta yang dilakukan melalui diskusi langsung dan pengisian google form. Pada hari kedua ini, seluruh peserta juga melakukan simulasi praktek pemeriksaan antropometri dan gula darah sewaktu dengan menerapkan protokol kesehatan untuk pencegahan penyebaran COVID-19. Pelatihan hari kedua ditutup dengan sharing session terkait hambatan dan pelaksanaan Posbindu di era adaptasi kebiasaan baru yang dipimpin oleh Ketua Tim Peneliti Prof. Ari Natalia Probandari, dr., MPH., Ph.D.

Pelatihan hari ketiga dibuka dengan refleksi dan sharing kesan pesan selama menjadi kader Posbindu yang dipimpin oleh Dr. Eti Poncorini Pamungkasari, dr., M.Pd. Sesi dilanjutkan dengan paparan topik komunikasi oleh Khairunissa, S.Fis. Selanjutnya para kader dan tenaga kesehatan melakukan simulasi penerapan algoritma dalam 4 kelompok sesuai Puskesmas masing-masing yang difasilitasi oleh Dr. Sumardiyono, SKM., M.Kes. dan Vitri Widyaningsih, dr., MS., Ph.D. Setelah mendapat feedback dari fasilitator, setiap peserta yang termasuk kader mengikuti post-test untuk menguji pemahaman terhadap seluruh rangkaian materi yang telah diberikan selama dua hari pelatihan. Kegiatan hari ketiga ditutup dengan diskusi kelompok terarah yang dibagi menjadi tiga kelompok (2 kelompok tenaga kesehatan dan 1 kelompok kader). Diskusi ini membahas seputar kebijakan terkait Posbindu, pembiayaan, dan implementasinya di tengah masa pandemi COVID-19, evaluasi dan monitoring program Posbindu (tantangan dan hambatan yang dihadapi selama masa pandemi COVID-19), sistem rujukan terkait penyakit tidak menular yang ditemukan di Posbindu selama masa pandemi, serta masukan yang tepat bagi pelaksanaan program penyakit tidak menular di tengah masa pandemi COVID-19.

 

       

Covid-19, Vaksinasi & Tenaga Kesehatan

Oleh: dr Adji Suwandono, S.H., Sp.F

Ketua IDI Cabang Surakarta, Dosen FK UNS, Mahasiswa Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS

WHO menyampaikan, secara global per tanggal 12 Januari 2021 ini sebanyak 223 negara di dunia terpapar Covid-19, di mana lebih dari 89 juta terkonfirmasi, dengan lebih dari 1,9 juta manusia di dunia meninggal dunia. Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak pandemi ini.

Sudah lebih dari sepuluh bulan lamanya, sejak ditetapkan pemerintah di bulan Maret tahun 2020 silam. Update terakhir tanggal 12 Januari 2021, sebanyak 846.765 penduduk terkonfirmasi positif, angka kesembuhan mencapai 695.807 orang, dan yang meninggal sebanyak 24.645.

Berbagai macam cara dan upaya dilakukan untuk mencegah, menanggulangi, memutus rantai penularan Covid-19 yang semuanya itu sudah diatur dalam tahapan protokol kesehatan panduan tata laksana terkait penanggulangan Covid-19 ini. Pada laman covid19.go.id tanggal 3 Januari 2021 terdapat hasil monitoring kepatuhan protokol kesehatan di 34 provinsi Indonesia.

Berkaitan dengan pemakaian masker terdapat 99 (19.96%) dari 496 kabupaten/kota yang memiliki tingkat kepatuhan memakai masker kurang dari 60%; 118 (23.79%) kab/kota memiliki tingkat kepatuhan memakai masker 61%-75%; 191 (38.51%) kab/kota memiliki tingkat kepatuhan memakai masker 76%-90%; dan 88 (17.74%) kab/kota memiliki tingkat kepatuhan memakai masker >90%.

Data tentang pelaksanaan menjaga jarak dan menghindari kerumunan terdapat 109 (21.98%) dari 496 kabupaten/kota yang memiliki tingkat kepatuhan menjaga jarak dan menghindari kerumunan kurang dari 60%; 147 (29.64%) kab/kota memiliki tingkat kepatuhan menjaga jarak 61%-75%; 173 (34.88%) kab/kota memiliki tingkat kepatuhan menjaga jarak 76%-90%, dan 67 (13.50%) kab/kota memiliki tingkat kepatuhan menjaga jarak >90%.

Hasil monitoring kepatuhan protokol kesehatan tersebut mengindikasikan perlu adanya intervensi lain. Intervensi itu berupa pemberian vaksinasi. Vaksinasi Covid-19 bertujuan untuk mengurangi transmisi/penularan Covid-19, menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat Covid-19, mencapai kekebalan kelompok di masyarakat (herd immunity) dan melindungi masyarakat dari Covid-19 agar tetap produktif secara sosial dan ekonomi.

Kekebalan kelompok hanya dapat terbentuk apabila cakupan vaksinasi tinggi dan merata di seluruh wilayah. Upaya pencegahan melalui pemberian program vaksinasi jika dinilai dari sisi ekonomi, akan jauh lebih hemat biaya, apabila dibandingkan dengan upaya pengobatan.

Sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Nomor HK.02.02/4/ 1 /2021Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), pelayanan vaksinasi Covid-19 dilaksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Yaitu dengan menerapkan upaya Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) dan menjaga jarak aman 1-2 meter, sesuai dengan Petunjuk Teknis Pelayanan Vaksinasi Pada Masa Pandemi Covid-19.

Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan puskesmas harus melakukan advokasi kepada pemangku kebijakan setempat, serta berkoordinasi dengan lintas program, dan lintas sektor terkait, termasuk organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, tokoh masyarakat dan seluruh komponen masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan pelayanan vaksinasi Covid-19. Petugas kesehatan diharapkan dapat melakukan upaya komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) kepada masyarakat serta memantau status vaksinasi setiap sasaran yang ada di wilayah kerjanya untuk memastikan setiap sasaran mendapatkan vaksinasi Covid-19 lengkap sesuai dengan yang dianjurkan.

Vaksinasi Covid-19 dilaksanakan dalam empat tahapan mempertimbangkan ketersediaan, waktu kedatangan dan profil keamanan vaksin. Kelompok prioritas penerima vaksin adalah penduduk yang berdomisili di Indonesia yang berusia ≥ 18 tahun. Kelompok penduduk berusia di bawah 18 tahun dapat diberikan vaksinasi apabila telah tersedia data keamanan vaksin yang memadai dan persetujuan penggunaan pada masa darurat (emergency use authorization) atau penerbitan nomor izin edar (NIE) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Tahapan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 dilaksanakan sebagai berikut :

1.   Tahap 1 dengan waktu pelaksanaan Januari-April 2021.

Sasaran vaksinasi Covid-19 tahap 1 adalah tenaga kesehatan, asisten tenaga kesehatan, tenaga penunjang serta mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan profesi kedokteran yang bekerja pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

2. Tahap 2 dengan waktu pelaksanaan Januari-April 2021

Sasaran vaksinasi Covid-19 tahap 2 adalah:

a.      Petugas pelayanan publik yaitu Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia, aparat hukum, dan petugas pelayanan publik lainnya yang meliputi petugas di bandara/pelabuhan/stasiun/terminal, perbankan, perusahaan listrik negara, dan perusahaan daerah air minum, serta petugas lain yang terlibat secara langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat.

b.      Kelompok usia lanjut (≥ 60 tahun).

3. Tahap 3 dengan waktu pelaksanaan April 2021-Maret 2022

Sasaran vaksinasi Covid-19 tahap 3 adalah masyarakat rentan dari aspek geospasial, sosial, dan ekonomi.

4. Tahap 4 dengan waktu pelaksanaan April 2021-Maret 2022

Sasaran vaksinasi tahap empat adalah masyarakat dan pelaku perekonomian lainnya dengan pendekatan kluster sesuai dengan ketersediaan vaksin.

Prioritas yang akan divaksinasi menurut Roadmap WHO Strategic Advisory Group of Experts on Immunization (SAGE) adalah:

1.      Petugas kesehatan yang berisiko tinggi hingga sangat tinggi untuk terinfeksi dan menularkan SARS-CoV-2 dalam komunitas.

2.      Kelompok dengan risiko kematian atau penyakit yang berat (komorbid). Indikasi pemberian disesuaikan dengan profil keamanan masing-masing vaksin.

3.      Kelompok sosial / pekerjaan yang berisiko tinggi tertular dan menularkan infeksi karena mereka tidak dapat melakukan jaga jarak secara efektif (petugas publik).

Sesuai dengan tahapan tersebut, para tenaga kesehatan dan tenaga medis di Solo, termasuk dokter yang tergabung dalam keanggotaan IDI Cabang Surakarta menjadi sasaran vaksinasi Covid-19 tahap awal yang rencana dilakukan 14 Januari 2021. Sebab, intensitas para dokter ini sangat tinggi dengan tiap hari bertemu dengan para pasien suspect ataupun yang terkonfirmasi positif Covid-19.

IDI Cabang Surakarta mendukung maklumat dan arahan Pengurus Besar IDI yang mengimbau agar seluruh dokter anggota IDI mengikuti program vaksinasi Covid-19. Agar terbentuk kekebalan tubuh untuk mencegah risiko mudah terinfeksi Covid-19. Agar menghentikan polemik tentang vaksinasi Covid-19 karena prosedur keilmuan melalui uji klinis dan penilaian oleh otoritas Badan POM dan MUI sudah dinyatakan aman, efektif, suci dan halal.

Kemudian, agar seluruh dokter anggota IDI tetap berhati-hati dan waspada dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, khususnya dalam menjalankan praktik kedokteran untuk senantiasa disiplin menaati protokol kesehatan dan menjalankan Pedoman Standar Perlindungan Dokter di Era Covid-19. Agar seluruh dokter anggota IDI berpartisipasi membantu pelaksanaan vaksinasi di seluruh daerah di Indonesia dengan mempersiapkan diri menjadi tenaga penyuntikan vaksinasi (vaksinator).

Selanjutnya, monitoring dan evaluasi program vaksinasi dilakukan sebelum, selama, dan sesudah pelaksanaan vaksinasi wajib dilaksanakan oleh Tim Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19. Demi keberhasilan penanggulangan Pandemi Covid-19 di Indonesia. Indonesia Bisa, Indonesia Sehat. (*)

(rs/ria/per/JPR)

 

Artikel asli dimuat di radarsolo.jawapos.com pada 13 Januari 2021 dan dapat di akses disini

Angka Kejadian Stunting Tetap Tinggi, Mahasiswa S3 IKM Menulis “Medsos Media Kampanye Percepatan Cegah Stunting” di Koran Kedaulatan Rakyat

Selain aktif melakukan riset, Mahasiswa Prodi S3 IKM juga aktif menulis di media sebagai wadah disseminasi hasil riset dan perkuliahan pada masyarakat. “Medsos Media Kampanye Percepatan Cegah Stunting” merupakan tulisan dari Ida Nursanti, Mahasiswa Prodi S3 IKM UNS yang dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat pada 6 Januari 2020

“Berpikir Sistem dalam Penanggulangan COVID-19” – Opini Mahasiswa Prodi S3 IKM dalam Harian Nasional

KEDIRI (HN) – Indonesia telah mengalami pandemi COVID-19 selama hampir 12 bulan. Sejak awal pandemi, pemerintah telah membentuk tim Satgas COVID-19. Seperti tertuang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2020 tentang Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 di Lingkungan Pemerintah Daerah, Pasal 2 berbunyi “Pemerintah Daerah perlu memprioritaskan penggunaan APBD untuk antisipasi dan penanganan dampak penularan COVID-19” serta pasal 3 yang berbunyi “untuk mengantisipasi dan menangani dampak penularan COVID-19, Kepala Daerah membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Daerah berdasarkan pertimbangan dan rekomendasi ketua pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 sesuai keputusan Presiden mengenai Gugus Tugas Percepatan COVID-19”.

Artinya penanggulangan COVID-19 melalui Satgas COVID-19 telah dilakukan secara desentralisasi di seluruh daerah di Indonesia dan berkoordinasi secara nasional. Dan melihat isi Permendagri 20 Tahun 2020, penanganan COVID-19 menjadi prioritas masalah kesehatan yang saat ini menjadi urgen untuk ditangani.

Keputusan ini karena pandemi COVID-19 telah memberikan dampak besar bagi Indonesia. Dampak yang sangat terlihat nyata adalah dampak ekonomi. Selain itu, dampak sosial dari penderita COVID-19 dan nakes, seperti stigma, penurunan kualitas hidup, dan lain lain.

Penyakit COVID-19 dengan tingkat penyebaran yang cepat dan dapat mengakibatkan kematian menjadi salah satu alasan penanggulangannya menjadi prioritas saat ini.

Dalam penanggulangan suatu penyakit diharapkan seorang pengambil keputusan program dapat berpikir sistem. Seperti penanggulangan COVID-19, meskipun masuk ranah bidang kesehatan, namun dalam penanganannya harus merangkul berbagai lintas sektor untuk berkoordinasi.

Memerlukan effort cukup besar bagi seorang pemimpin untuk menyatukan pemangku kebijakan dalam lintas sektor serta perpanjangan tangan informasi ke bawah untuk menjadi satu tujuan dan komitmen dalam penanggulangan COVID-19.

Koordinasi lintas sektor dilaksanakan sejak proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pemantauan, pengendalian, dan evaluasi program. Dalam proses perencanaan program perlu alur pikir siklus pemecahan masalah, dengan langkah-langkah:

  1. Analisa Situasi
  2. Identifikasi masalah
  3. Menetapkan prioritas masalah
  4. Menetapkan tujuan
  5.    Melakukan analisis untuk memilih alternatif kegiatan terbaik
  6. Menyusun rencana sumber daya menjadi rencana operasional

Seluruh langkah di atas harus dilakukan sistematis. Analisa situasi adalah langkah awal dalam perencanaan yang harus dijalankan dengan baik karena akan berpengaruh pada tahap-tahap selanjutnya.

Caranya, dengan melihat data penyebaran kasus, melakukan pemetaan kasus, serta memperhatikan potensi yang ada di setiap daerah untuk dapat membantu penanggulangan COVID-19. Misalnya budaya saling membantu di suatu daerah. Maka dalam hal ini sangat diperlukan koordinasi dengan para stakeholder yang dekat dengan masyarakat setempat.

Dalam proses identifikasi masalah dalam penanggulangan COVID-19, yaitu masalah-masalah yang ditimbulkan karena pandemi COVID-19 misalnya stigma pada tenaga kesehatan, penurunan kualitas hidup dan masalah yang timbul dalam pelaksanaan penanggulangan COVID-19 seperti masalah ketidakpatuhan masyarakat dalam protokol kesehatan.

Sehingga dapat diperoleh gambaran tentang masalah kesehatan maupun non-kesehatan yang ada serta faktor-faktor yang memengaruhi masalah tersebut, yang merupakan tujuan dari analisis ini.

Pada akhirnya akan diperoleh hasil dari analisis ini yang merupakan titik tolak perencanaan penanggulangan COVID-19  terpadu. Dalam langkah selanjutnya diikuti kegiatan untuk merumuskan masalah secara jelas, sekaligus menentukan prioritas masalah-masalah tersebut.

Yang dimaksud masalah dalam perencanaan penanggulangan COVID-19 tidak terbatas pada masalah gangguan kesehatan saja. Akan tetapi meliputi semua faktor yang memengaruhi kesehatan penduduk (lingkungan, perilaku, kependudukan, dan pelayanan kesehatan).

Kemudian dilakukan prioritas masalah. Dalam menentukan prioritas masalah harus dilaksanakan dengan baik dan melibatkan seluruh unsur terkait, termasuk masyarakat. Sehingga masalah yang ditetapkan untuk diatasi benar-benar masalah dari masyarakat.

Sehingga dalam pelakasanaan penanggulangan COVID-19, masyarakat dapat berperan aktif di dalamnya dan dapat menyusun tujuan dengan baik sesuai kebutuhan.

Dalam menyusun alternatif pemecahan masalah dalam penanggulangan COVID-19 dengan berpikir kreatif dan menyelesaikan berbagai masalah yang ada dengan nmenemukan akar masalah. Misalnya terjadi stigma pada tenaga kesehatan dan penderita COVID-19 harus dilakukan penelusuran mengapa terjadi stigma di suatu masyarakat. Misalkan dikarenakan ketakutan masyarakat dan berita hoax di tengah masyarakat.

Untuk mengatasi hal ini, perlu pendekatan pada tokoh masyarakat yang dipercaya untuk membantu mengedukasi dan mengarahkan masyarakat.

Contoh lain masalah ketidakpatuhan masyarakat dalam menggunakan masker. Di setiap daerah mungkin akan sama masalahnya namun berbeda penyebab masalahnya. Di suatu daerah, ketidakpatuhan dikarenakan memang masyarakat tersebut tidak memiliki masker dan tidak mampu membeli masker. Di tempat lain penyebab bisa berbeda, mungkin masyarakat mampu membeli masker namun merasa tidak nyaman menggunakan masker. Atau merasa tidak percaya dengan COVID-19.

Perbedaan penyebab masalah akan berbeda pula treatment yang diberikan oleh tim penanggulangan COVID-19. Hal ini terkesan rumit. Tetapi dengan berpikir sistematis dan tepat sasaran akan mempermudah pencapaian tujuan dalam penanggulangan COVID-19.

Dalam tahap terakhir, proses perencanaan yaitu menyusun rencana sumber daya menjadi rencana operasional, yaitu dalam bentuk:

  1. Kebijakan. Merupakan suatu pedoman umum dalam pengambilan keputusan
  2. Prosedur standar. Implementasi kebijakan yang dilakukan melalui garis pedoman lebih detail
  3. Peraturan. Pernyataan bahwa suatu tindakan harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan dalam situasi tertentu

Rencana kegiatan atau rencana operasional pada umumnya mencakup tiga tahap pokok, yakni:

  1. Rencana kegiatan pada tahap persiapan, yakni kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebelum kegiatan pokok dilaksanakan. Misalnya rapat-rapat koordinasi, perizinan, dan sebagainya
  2. Rencana kegiatan pada tahap pelaksanaan, yakni kegiatan pokok program yang bersangkutan
  3. Rencana kegiatan pada tahap penilaian, yakni kegiatan untuk mengevaluasi seluruh kegiatan dalam rangka pencapaian program tersebut

Pada tahap kedua yaitu pengorganisasian penanggulangan COVID-19. Selain ada Satgas COVID-19, perlu ditambahkan tim pendukung di lapangan, yang dekat dengan masyarakat. Misalnya kepala desa/kelurahan dan dibantu timnya (Ketua RT/RW). Keikutsertaan mereka akan membantu proses penemuan kasus baru, mengatasi masalah stigma, dan dampak yang ditimbulkan oleh COVID-19.

Ketakutan masyarakat untuk di-tracing karena takut dampak sosial serta ekonomi yang timbul jika masuk kelompok yang perlu diisolasi, perlu segera diatasi. Caranya, dengan komunikasi yang baik dan efektif antara pelaksana program dengan masyarakat.

Oleh sebab itu, Satgas COVID-19 sangat perlu tim yang bergerak langsung pada masyarakat yang menjadi perpanjangan tangan antara Satgas COVID-19 dan masyarakat. Mereka harus mampu mejelaskan, mengarahkan, dan menampung aspirasi masyarakat, termasuk apa yang dibutuhkan masyarakat selama pandemi COVID-19.

Pada tahap penggerakan harus bersifat fleksibel. Perubahan sosial dalam masyarakat sangatlah cepat di era 4.0 saat ini. Semakin tinggi literasi data masyarakat, masalah yang masuk perencanaan mungkin akan ganti dengan masalah lain.

Oleh karena itu, tahap penggerakan dalam pelaksanaan penanggulangan COVID-19 harus terus mengikuti perubahan di dalam masyarakat. Masalah-masalah baru yang timbul harus segera diselesaikan. Misalkan terjadi perubahan kondisi saat lonjakan mobilisasi masyarakat dikarenakan tingkat kejenuhan masyarakat untuk tetap di rumah. Seperti menyebabkan banyak masyarakat berwisata sehingga diperlukan kebijakan baru untuk menanggulangi masalah ini dengan koordinasi melalui dinas terkait.

Misalkan pembatasan masuk wilayah daerah wisata dengan mewajibkan test antigen swab, koordinasi dengan satgas COVID-19 untuk monitoring kepatuhan protokol kesehatan, dan lainnya.

Adapun keresahan masyarakat terhadap perubahan kebijakan harus ditangani dengan penjelasan dan pengarahan langsung melalui tim yang telah ditunjuk untuk langsung menjelaskan pada masyarakat. Koordinasi tidak harus secara langsung, tapi juga melalui media sosial, seperti grup WhatsAppTelegram, pertemuan rutin melalui media zoom meeting, dan lainnya. Komunikasi tidak bisa dilakukan hanya sekali, namun juga rutin sekaligus untuk memonitoring perkembangan di masyarakat.

Pada tahap pemantauan dan pengendalian bertujuan meningkatkan efisiensi dan efektivitas dari program penanggulangan COVID-19. Pemantauan dilakukan berdasarkan target dan kegiatan yang telah direncanakan selama proses program berlangsung. Dalam penanggulangan COVID-19, tujuan utama adalah penekanan penyebaran COVID-19 dan peningkatkan tingkat kesembuhan pasien COVID-19.

Pada tahap evaluasi, hasil pengukuran capaian kinerja selama waktu berjalan, yang berkontribusi terhadap outcome yang ditetapkan dalam rencana strategis dan rencana operasional.

Evaluasi capaian kinerja dilakukan, antara lain dengan analisis membandingkan antara apa yang direncanakan dengan apa yang dihasilkan. Disertai dengan tingkat capaian dalam ukuran kuantitatif yang tertera dalam penetapan indikator yang terdiri atas indikator input dan indikator output . Dalam evaluasi, kita dapat menilai efisiensi, efektivitas, dan dampak dari program penanggulangan COVID-19.

Penulis : Reny Nugraheni, S.KM.,MM.,M.Kes

Dosen S1 Kesehatan Masyarakat (Kebijakan dan Manajemen Kesehatan) – Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri dan mahasiswi S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo


Reportase : Didik Purwanto

Editor : Didik Purwanto

 

Tulisan ini dimuat di harnas.co pada 12 Januari 2020

Artikel lengkap dapat dilihat pada tautan ini

Ujian Seminar Kemajuan Riset Mahasiswa a.n Siti Hamidah

Ujian Seminar Kemajuan Riset Mahasiswa a.n Siti Hamidah, kegiatan dilaksanakan pada 5 januari 2021 via Zoom dengan judul disertasi :

“Dukungan Organisasi Wanita Keagamaan (Aisyiyah) untuk Meningkatkan Stimulasi dan Perilaku Pemberian ASI Ekslusif”

para penguji, sebagai berikut:

  1. Dr. Isna Qadrijati,dr, M. Kes
  2. Prof. Bhisma Murti, Dr, MPH, M.SC, Ph,D
  3. Prof. Dr. Hartono Salimo, dr.,Sp.A (K)
  4. Dr. Sri Mulyani, S.Kep.Ns.,M.Kes
  5. Prof.Dr. Djohar Ismail. MPH, Ph.D, dr, Sp A (K)
  6. Dr. Anik Lestari, SKM, M.Kes

Mengulas Dana Desa Untuk Pencegahan Stunting, Karya Mahasiswa S3 IKM Dimuat di Koran Solo Pos

Mahasiswa Prodi S3 IKM beraktif berkontribusi dalam pencegahan stunting yang masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. “Dana Desa Untuk Pencegahan Stunting” merupakan tulisan dari Sri Mulyanti di koran Solo Pos, terbit sabtu 2 Januari 2021. Untuk lebih lengkap, cek tulisan berikut:

SUNI-SEA TRAINING IN QUALITATIVE RESEARCH METHODS

Scalling-up NCD Interventions in South-East Asia (SUNI-SEA) Indonesia bersama Program Studi Kedokteran dan Program Doktoral Ilmu Kesehatan Masyarakat  Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret telah menyelenggarakan pelatihan penelitian metode kualitatif selama dua hari yaitu pada hari Senin, 7 Desember 2020 dan Rabu, 16 Desember 2020 melalui aplikasi zoom. Pelatihan menghadirkan dua narasumber yaitu Manna Alma dari Universitas Groningen dan Adriana Plskova dari Universitas Trnavska, dengan empat fasilitator yaitu Prof. Ari Natalia Probandari, dr., MPH., Ph.D.; Vitri Widyaningsih, dr., MS., Ph.D.; Dr. Eti Poncorini Pamungkasari, dr., M.Pd.; dan Bulan Kakanita Hermasari, dr., M.Med.Ed. Pelatihan terdiri dari interaktif workshop, in-depth interview, dan Focused Group Discussion (FGD). Pelatihan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk berkomunikasi secara langsung kepada pembicara.

Pelatihan ini menghadirkan wawasan baru bagi para peserta, khususnya untuk sebagian peserta yang belum pernah melakukan penelitian kualitatif. Dengan adanya pelatihan selama dua hari ini, diharapkan dapat memberikan semangat kepada peserta untuk mulai melakukan penelitian dengan metode kualitatif.

    

Community Empowerment for manaGement And reHabilitation of COVID-19 (CEGAH COVID-19)

Setelah melakukan penyusunan kuisioner dan analisis situasi, tim peneliti CEGAH COVID-19 bekerja sama dengan mahasiswa dan dosen program studi S3 Ilmu kesehatan Masyarakat Universitas Sebelas Maret serta jajaran pemerintah daerah Kabupaten Klaten melakukan focused group discussion (FGD) yang dilaksanakan pada hari Minggu, 13 Desember 2020 pukul 20.00 sd 22.00 WIB di Balai Desa Belangwetan, Klaten Utara. Tim peneliti terdiri dari 10 orang yang diketuai oleh Prof. Ari Natalia Probandari, dr., MPH., Ph.D. Acara ini dibuka oleh Kepala Desa Belangwetan dan dihadiri oleh beberapa perangkat desa lainnya.

Sejumlah 33 warga desa yang hadir dalam acara ini dibagi menjadi empat kelompok diskusi yaitu kelompok perangkat desa, kelompok ibu rumah tangga, kelompok kesehatan, dan kelompok tani. Dalam diskusi ini didapatkan temuan bahwa Desa Belangwetan masih menjadi salah satu desa dengan jumlah kasus COVID-19 tertinggi di Kabupaten Klaten. Hal ini menyebabkan berbagai dampak dalam bidang ekonomi, kesehatan, sosial, maupun kualitas hidup masyarakat. Tingkat pemahaman mengenai COVID-19, sikap, dan kepatuhan masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan juga masih bervariasi. Setiap temuan dalam in-depth interview dan focused group discussion telah dicatat sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan desain intervensi yang cocok.

Dosen S3 IKM Menjadi Fasilitator dalam Kajian Evaluasi Implementasi Formularium Nasional (Fornas) di Rumah Sakit

Pada hari Senin dan Selasa, 14-15 Desember 2020, salah satu dosen program studi S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta, Dr. dr. Ratih Puspita Febrinasari, M.Sc. menjadi salah satu fasilitator dalam diskusi panel Kajian Evaluasi Implementasi Formularium Nasional (Fornas) di Rumah Sakit Regional Barat dan Timur yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kegiatan ini diadakan sebagai wujud penerapan Permenkes Nomor 54 Tahun 2018 tentang Penyusunan dan Penerapan Formularium Nasional dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan, di mana penerapan Fornas perlu dipantau dan dievaluasi untuk menilai ketaatan dan dampak penerapan Fornas dalam penyelenggaraan JKN.

Acara yang diadakan secara daring selama dua hari dari pukul 08.30-16.00 melalui aplikasi Zoom ini dihadiri  oleh Deputi Direksi Bidang Jaminan Pembiayaan Kesehatan Rujukan BPJS, Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudy, SpFK (Ketua Komnas Penyusunan Fornas), Prof. Dr. apt. Dra. Erna Kristin, M.Si (Wakil Ketua Komnas Penyusunan Fornas), Dr. dr. Erwin Astha Triyono, Sp.PD-KPTI., FINASIM (Wakil Ketua Komnas Penyusunan Fornas), Dr. dr. Rizaldy Taslim Pinzon, Sp.S(K)., M.Epid. (Tim Ahli Komnas Penyusunan Fornas), tim Pengkaji dari Universitas Gadjah Mada, serta beberapa perwakilan dari bagian farmasi dan pelayanan rumah sakit yang ada di regional barat dan timur Indonesia.

 

Dosen Program Studi S3 IKM Menjadi Moderator pada Seminar Daring “The Importance of Big Data in Improving the Quality of Healthcare“

Dr. dr. Ratih Puspita Febrinasari, M.Sc, dosen Program Studi S3 IKM menjadi moderator sesi diskusi pada Seminar Daring “The Importance of Big Data in Improving the Quality of Healthcare“.

Setiap hari sejumlah besar data diproduksi oleh sistem layanan kesehatan, yang mempunyai potensi untuk digunakan mendukung pengambilan kebijakan di bidang kesehatan. Istilah big data sering digunakan untuk menyebut data ini. Sumber-sumber untuk big data bisa berasal dari studi-studi klinis yang telah atau sedang dilakukan ataupun dari data real world dari pasien yang diambil secara rutin.

Kesadaran akan pentingnya big data dalam peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan berbagai isu terkait penggunaan big data ini perlu dimiliki oleh seluruh pemproduksi dan pengguna big data. Online Meeting ini diadakan untuk berdiskusi tentang kedua hal ini, dan diharapkan pertemuan ini bisa menjadi cikal bakal dari adanya big data yang memadai dan berkualitas baik untuk digunakan oleh berbagai pihak dalam rangka meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat Indonesia.

Dr. Ratih memandu sesi diskusi yang membahas Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS Online), Database Asuransi Kesehatan, Sistem Informasi di Rumah Sakit, Penggunaan Data di Rumah Sakit untuk Melakukan HTA, serta Penggunaan Big Data untuk Penelitian Disertasi.

Seminar ini dihadiri perwakilan Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, Badan POM, PERSI, IDI, IAI, Akademisi, IPMG, dan GP Farmasi

Seminar Daring “The Importance of Big Data in Improving the Quality of Healthcare”

Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM menyelenggarakan seminar daring dengan tema “The Importance of Big Data in Improving the Quality of Healthcare”. Seminar ini merupakan pembuka dari rangkaian seminar yang digelar selama tiga bulan ke depan hingga Januari 2021 dalam bentuk seminar daring via Zoom Meetings dan livestreaming.

Seminar pertama diselenggarakan pada:
Hari, tanggal: Sabtu, 28 November 2020
Waktu: pkl 13.55 – 17.00 WIB

Peserta seminar tidak dipungut biaya atau gratis dan tersedia E-sertifikat.

Tautan Pendaftaran
ugm.id/BIGDATA2020

Narahubung:
dr Sudi
HP: 082328201695

Seminar Hasil Disertasi Mahasiswa S3 IKM UNS a/n Yessy Nur Endah Sary NIM T511708006

Seminar Hasil Disertasi Mahasiswa S3 IKM UNS a.n. Yessy Nur Endah Sary NIM T511708006, dengan judul proposal disertasi “Peran Kader Kesehatan Melalui Modul Cegah Pernikahan Remaja (Cenikma) sebagai Upaya Mendukung Ayah Mencegah Pernikahan Dini Remaja Daerah Pesisir”.

Dilaksanakan pada hari Senin, 18 November 2020 vi Zoom. Dengan penguji :

  1. Prof. Dr. Harsono Salimo, dr, Sp.A (K)
  2. Dr. Sri Mulyani, S.Kep, Ns, M.Kes
  3. Dr.dr. Bagoes Widjarnarko, MPH
  4. Dr. Bagoes Widjanarko, dr, MPH
  5. Dr. Tri Rejeki Andayani, S.Psi, M.Psi

 

Workshop Penguatan E-Learning dan Pengembangan Course Epidemiologi berbasis Aplikasi (Epi-SMart)

Hari Rabu, 25 November 2020 telah berlangsung kegiatan Workshop Penguatan E-Learning dan Pengembangan Course Epidemiologi berbasis Aplikasi (Epi-SMart) secara daring. Acara ini berlangsung melalui platform zoom dan dihadiri oleh 22 partisipan dan 4 orang narasumber. Acara ini merupakan bagian dari proyek penelitian HITIHE (Health Information and Technology for Improved Health Education in South-East Asia) yang merupakan kerja sama dengan Institute of Tropical Medicine Antwerp Belgia.

Konsep dasar yang dibangun dari proyek ini adalah tercapainya akses universal ke informasi digital di bidang kesehatan melalui dukungan dua layanan universitas yang inovatif yaitu staf pendukung techno-pedagogical dan pustakawan kesehatan. Proyek penelitian ini berfokus pada inovasi layanan dukungan Perguruan Tinggi dengan peluncuran WikiTropica sebagai sumber informasi digital penting untuk pengobatan tropis. Proyek ini berlangsung di dua negar di Asia Tenggara, yaitu Indonesia dan Kamboja. Anggota konsorsium yang berasal dari Indonesia adalah Universitas Sebelas Maret dan Universitas Gadjah Mada.

Pertemuan yang berlangsung dari pukul 12.30-14.45 ini dibuka dengan sambutan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Paramasari Dirgahayu, dr., Ph.D. dan dilanjutkan paparan pengenalan proyek oleh Dr. Eti Poncorini Pamungkasari, dr., M.Pd. serta paparan pengenalan aplikasi Epi-SMart oleh Vitri Widyaningsih, dr., MS., Ph.D. Acara dilanjutkan dengan pembahasan dan masukan oleh 4 orang narasumber dan partisipan yang dipandu oleh Bulan Kakanita Hermasari, dr., M.Med.Ed. Narasumber yang memberikan masukan dalam diskusi ini meliputi : dr. Kinik Darsono, M.Pd.Ked; dr. Hat Sukarmadani; dr. Aji Danarto; dr. Farahdila Mirshanti, MPH.; ketua Unit Pendidikan Kedokteran Dr. Veronika Ika Budiastuti, dr., M.Pd.; serta beberapa partisipan lainnya. Acara ini ditutup dengan simpulan oleh Prof. Ari Natalia Probandari, dr., MPH., Ph.D.

Kick-Off Meeting Pilot Project Fase Prospektif SUNI-SEA

Pada hari Rabu, 25 November 2020 telah dilakukan Kick-Off Meeting Persiapan Pilot Project Fase Prospektif (Intervensi) dari Penelitian SUNI-SEA (Scaling Up Non-communicable Disease Intervention in South East Asia) yang dilakukan di Aula Anggrek Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar.

Acara dibuka sekitar pukul 08.30 oleh Plt. Kepala Dinas Kabupaten Karanganyar, Purwati, SKM., M.Kes. Acara dilanjutkan dengan paparan pengenalan proyek oleh ketua penelitian Prof. Ari Natalia Probandari, dr., MPH., Ph.D. dan paparan rencana fase intervensi oleh Vitri Widyaningsih, dr., MS., Ph.D. Sesi ditutup dengan diskusi bersama para pemegang program PTM (Penyakit Tidak Menular) Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar dan menghasilkan kesimpulan bahwa rangkaian proyek fase intervensi mendapat dukungan penuh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar dan akan mulai diselenggarakan pada bulan Januari 2021.

Dalam acara ini, hadir Kabid P2P Dinkes Kabupaten Karanganyar Warsito, SKM. dan Kasie PTM Dinkes Kabupaten Karanganyar Untari Tri Wardani, SKM., M.Kes. Selain itu, beberapa staf dari bagian P2P juga ikut hadir seperti Eko Prabowo, SKM.; Emma Purwantiningsih, SKM; Shelsa Arinindya, S. Psi dan Werdiningsih. Anggota tim penelitian yang lain dari Universitas Sebelas Maret juga bergabung dalam kegiatan ini baik secara daring maupun luring, seperti Dr. Ratih Puspita Febrinasari, dr, M.Sc.; Dr. Eti Poncorini Pamungkasari, dr., M.Pd.; Dr. Sumardiyono, SKM., M.Kes.; Stefanus Erdana Putra, dr; Muhammad Hafizhan, dr; Khairunissa, S.Fis.; dan Tantri Yunita Rahma, S.Tr.Keb.

Pertemuan Rutin Konsorsium SUNI-SEA

Konsorsium SUNI-SEA (Scaling Up Non-communicable Disease Intervention in South East Asia) menyelenggarakan pertemuan rutin yang membahas persiapan fase prospektif dan juga laporan rutin bulanan pada hari Senin, 22 November 2020 pukul 14.00-18.00 melalui platform Webex.

SUNI-SEA merupakan penelitian kolaborasi beberapa institusi dan negara yang dilaksanakan di Indonesia, Vietnam, dan Myanmar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular, terutama hipertensi dan diabetes mellitus.

Tim Indonesia diketuai oleh Prof. Ari Probandari, dr., MPH., Ph.D, dengan tim peneliti antara lain Dr. Eti Poncorini Pamungkasari., dr., M.Pd, Vitri Widyaningsih., dr., MS., Ph.D, Dr. Ratih Puspita Febrinasari., dr., MSc., Balgis, dr, MSc CM-FM, Sp.Ak, AIFM, Dr. Sumardiyono, SKM., M.Kes., dan Yusuf Ari Mashuri, dr., M.Sc.

Pertemuan ini dihadiri oleh seluruh anggota konsorsium penelitian SUNI-SEA, yang terdiri dari University Medical Center Groningen (Netherlands, Coordinator) University of Groningen (Netherlands), University of Passau (Germany), Trnava University (Slovak Republic), HelpAge International (UK), Thai Nguyen University (Vietnam), Health Strategy and Policy Institute, Vietnam, dan Universitas Sebelas Maret (Indonesia).

Press Rilis Kegiatan Webinar Kesehatan Mental Pada Remaja

 

Rabu, 28 Oktober 2020- Research Group Disease Control Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret telah melaksanakan program pengabdian dengan mengimplementasikan dan memberikan konstribusi kepada masyarakat luas melalui media sosial dengan mengadakan workshop bertemakan “Kesehatan Mental pada Remaja”. Workshop ini diikuti oleh 185 pendaftar dari berbagai wilayah di Indonesia secara daring melalui media aplikasi zoom dengan pendaftar Siswa dengan usia remaja dan Guru sebagai pendamping siswa di sekolah serta masyarakat umum yang tertarik dengan isu Kesehatan mental remaja. Pelaksanaan workshop lebih menarik lagi karena menghadirkan pembicara yang mahir dalam bidang Kesehatan mental yaitu Ifa Hanifah Misbach,S.Psi,MA,Psikolog lulusan dari S2 Master Educational Psychology in Cognition-Learning-Instruction-Technology Program, University of Connecticut, USA dan merupakan adik dari Gubenur Jawa Barat Dr. H. Mochamad Ridwan Kamil, S.T., M.U.D.

Dalam sesi workshop yang dilakukan sangat menarik, membahas mengenai isu Kesehatan mental pada remaja mulai dari ciri-ciri sifat dan sikap remaja, masalah yang sering dihadapi oleh remaja, Tindakan bullying yang dilakukan dan diterima oleh remaja pada sebelum pandemi covid-19 dan saat era pandemi covid-19, cara mengatasi adanya tindakan tidak menyenangkan yang diterima oleh remaja yang membuat permasalah mengenai gangguan mental pada remaja, dan lain sebagainya. Peserta yang mengikuti workshop ini sangat antusias dengan adanya interaktif antara ppembicara dan penonton serta adanya hadiah menarik dari panitia bagi penonton yang memperhatikan simakan materi yang disampaikan. Dari diadakannya workshop mengenai Kesehatan mental pada remaja diharapkan peserta  dapat mengetahui  permasalahan Kesehatan mental yang dapat mengganggu perkembangan remaja, serta  dapat mengetahui cara merefleksikan diri agar tidak terjadi permasalahan mengenai Kesehatan mental.

Press Rilis Kegiatan Sangon Semar

Sanggar Online Sebelas Maret  yang biasa disingkat dengan SANGON SEMAR merupakan sanggar tari dengan berbasis online yang dilakukan oleh tim penelitian dan pengabdian Research Group Disease Control Fakultas Kedokteran Sebelas Maret. Sanggar Online ini dilakukan sebagai implementasi pengabdian dengan menyeimbangkan antara kebudayaan dan kesehatan pada anak-anak. SANGON SEMAR melaksanakan kegiatan setiap Minggu dengan melakukan latihan hari rampak bekerja sama dengan pelatih tari dari sanggar tari sang citra. Latihan tari diikuti oleh 40 anak yang dipandu dalam proses latihan tari secara dari dengan aplikasi zoom.

 

Anak-anak yang mengikuti latihan tari sangat antusias dengan tari rampak yang menyenangkan. Pada hari terakhir latihan tari kami bersama pelatih mengadakan unjuk bakat dari latihan tari rampak yang diikuti oleh seluruh peserta. Dalam latihan terakhir yang diadakan pada tanggal 24 Oktober 2020 peserta menunjukkan hasil latihan tarinya dengan menggunakan pakaian adat, hal ini membuat latihan tari menjadi semakin menyenangkan bagi anak-anak, sehingga implementasi kebudayaan dapat tercapai dan kesehatan mental anak pun menjadi positif karena hari-harinya diisi dengan sesuatu yang positif dan menyenangkan dengan berlatih bersama SANGON SEMAR.

Dosen S3 IKM UNS Dr. Sumardiyono, S.KM, M.Kes Beserta Tim Pengabdi RG Integrated Disease Management dan RG Disease Control, Mengadakan Pengabdian Kepada Masyarakat di Puskesmas Purwodiningratan dan Puskesmas Banyuanyar, Surakarta

Puskesmas merupakan garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya. Berdasarkan Undang Undang No. 1 Tahun 1970 Puskesmas tergolong tempat kerja yang memiliki risiko bahaya terhadap keselamatan dan kesehatan kerja bagi yang beraktivitas di tempat tersebut, misalnya bahaya penularan Covid-19, kejadian kebakaran, dan gempa bumi.

Dalam memberikan bantuan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di Puskesmas, Tim Pengabdi RG Integrated Disease Management dan RG Disease Control yang diketuai oleh Dr. Sumardiyono, S.KM, M.Kes., dengan anggota Vitri Widyaningsih, dr., M.S., Ph.D., Dr. Isna Qadrijati, dr., M.Kes., Balgis, dr., MSc, CM,FM., dan Widana Primaningtyas, dr., M.K.M. mengadakan pengabdian kepada masyarakat dengan tema revitalisasi model pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja melalui program HIRADC di puskesmas Purwodiningratan Surakarta dan Puskesmas Banyuanyar Surakarta yang pada bulan Agustus sampai September 2020. Kegiatan ini sangat didukung oleh Kepala Puskesmas Purwodiningratan, dr. Farahdilla Mirshanti, M.P.H, dan Kepala Puskesmas Banyuanyar, dr. Aji Danarto.

Hasil dari pengabdian kepada masyarakat ini berupa 3 buah video edukasi yang disumbangkan ke Puskesmas mitra yaitu Profil K3 Puskesmas, Safety Induction, dan Program HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control) Puskesmas. Video tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengedukasi keselamatan dan kesehatan kerja bagi yang beraktivitas di Puskesmas Purwodiningratan dan Puskesmas Banyuanyar, sehingga lebih memahami akan pentingnya K3 bagi para pegawai, tamu, pengunjung, maupun pasien yang beraktivitas di Puskesmas Purwodiningratan dan Puskesmas Banyuanyar Surakarta. Selain video, tim pengabdi juga memberikan bantuan kepada Puskesmas Purwodiningratan dan Puskesmas Banyuanyar berupa seperangkat alat pelindung diri dalam rangka pencegahan terhadap penularan Covid-19 bagi para petugas medis berupa baju kerja, apron, dan handscoon yang bermanfaat bagi petugas medis di Puskesmas.

Kuliah Tamu di University of Canberra oleh Dosen S3 IKM UNS

BGL Indonesia Program Seminar

 

Child Malnutrition in Indonesia: A multilevel analyses of stunting

 

Dr Tri Mulyaningsih1, Dr Vitri Widyaningsih2

 

Affiliations:

1. Department of Economics, Faculty of Economics and Business, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 57126, Indonesia

2. Department of Public Health and Preventive Medicine, Faculty of Medicine, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 57126, Indonesia

 

Date: Wednesday, 28 October 2020

Time: 2:00 – 3:00 PM Canberra, Melbourne, Sydney or 10:00-11:00 AM WIB, Indonesia

About the Speakers

Tri Mulyaningsih is a Lecturer in Faculty of Economics and Business, Universitas Sebelas Maret. She completed her PhD in Economics from the University of Canberra in 2014. Currently, she is the coordinator of the Doctoral Program in Economics and Head of Applied Microeconomic Research Group at the University. She is actively involved in international research collaboration on skills, human capital, and issues in health economics.

Vitri Widyaningsih is a Lecturer in Faculty of Medicine, Universitas Sebelas Maret (UNS). She finished her Master and PhD in Epidemiology as well as Graduate Certificate in Program Evaluation at Michigan State University. As a social epidemiologist, her research focuses on investigating social determinants of health for non-communicable diseases (NCDs) and occupational diseases, including mental health, as well as maternal and child health.

 

Abstract

 

This study investigated the determinants of child malnutrition in Indonesia using a multilevel mixed effects analysis of child stunting that is prevalent in the country. This study is the outcome of a collaboration between University of Canberra and Universitas Sebelas Maret. We analysed the 4th and 5th waves of the Indonesian Family Life Surveys (IFLS), conducted between 2007 and 2015 in 13 provinces. Data from 8,045 children aged 0-60 months were analyzed. In order to account for the clustering of children within households and households within regions, the study employed a Multilevel Mixed Effect Regression analysis. The results reveal that there are rural/urban differences in the prevalence of malnutrition in Indonesia. Stunting and wasting are more prevalent in rural areas (31.3% and 5.2%) compared to urban areas (22.3% and 4.3%). Whereas the prevalence of overweight is higher in urban areas (6.8%), compared to rural areas (5.2%). Additionally, there are significant differences by economic factors between children from poorer and affluent families. Our analysis shows while the stunting in Indonesia significantly varied by provinces, sub-districts and households, household level differences accounted for maximum level of variations in child stunting. The study highlights that there is scope for specific and comprehensive intervention segregated by household level socioeconomic factors that may improve the nutritional status of children in Indonesia.

Kepala Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS Prof. Ari Probandari Mengisi Acara Kuliah Umum FKM UNDIP

Kepala Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS Prof. Ari Probandari Mengisi Acara Kuliah Umum Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

dengan topik : metode systematic review pada penelitian kesehatan

kegiatan berlangsung pada sabtu, 17 oktober 2020, pukul 09.00 s.d 12.oo wib via microsoft teams

PERAN PRODI S3 IKM UNS DALAM MEWUJUDKAN UNS KAMPUS SEHAT

Universitas Sebelas Maret bertekad mewujudkan kampus sehat. Peluncuran program kampus sehat dilakukan di UNS pada November 2019. Program  diikuti dengan berbagai kegiatan yang mendukung upaya peningkatan kesehatan di kampus, termasuk olahraga, penciptaan lingkungan hijau dan bersih, serta pelayanan kesehatan.Tekad itu terungkap melalui webinar nasional bertajuk Go Green to Health Promoting University, Sabtu (17/10/2020).

Wakil Rektor UNS, Prof. Kuncoro Diharjo, mengatakan Program Health Promoting University ini merupakan salah satu upaya promosi kesehatan berbasis lingkungan yang menerapkan pendekatan sosio-ekologis.

“Tujuannya adalah menciptakan lingkungan pembelajaran dan budaya organisasi yang meningkatkan derajat kesehatan, kesejahteraan dan kualitas hidup peserta didik, staf maupun masyarakat sekitar sehingga terbentuk komunitas sehat di kampus,” ujar Prof. Kuncoro

Keynote Speaker dalam webinar ini adalah Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, dr. Kirana Pritasari, MHQI. Kirana memaparkan Health Promoting University yang merupakan program dari Kementerian Kesehatan.

Menurutnya perguruan tinggi merupakan institusi terkemuka di masyarakat yang memiliki peran penting dalam membangun kapasitas sumber daya manusia, menjadi pemimpin sosial yang sesuai dan dapat diterima untuk mempromosikan kesehatan pada masyarakat.

Dengan demikian, universitas merupakan institusi besar yang memiliki potensi untuk melindungi dan meningkatkan kesehatan mahasiswa, staf, dan masyarakat sekitarnya. Universitas memiliki mahasiswa yang nantinya akan menjadi tenaga profesional serta pembuat kebijakan yang dapat memberikan pengaruh berarti bagi kesehatan masyarakat.

Dr. Vitri M.S., PhD, dosen di Prodi S3 IKM FK UNS memaparkan strategi promosi kesehatan menuju kampus sehat. Sedangkan Tawang dari Sinar Mas Peduli, memaparkan berbagai kegiatan yang dilakukan Sinar Mas Peduli mulai dari Sabang sampai Merauke yang bekerja sama dengan berbagai stakeholder dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat.

Selanjutnya Dr. Agung Wibowo dosen di Fakultas Pertanian lebih menekankan peran mahasiswa di dalam mewujudkan kampus sehat maupun mempromosikan pola hidup sehat melalui Kuliah Kerja Nyata.

 

Kajian Pelayanan Penyakit Akbiat Kerja Faktor Ergonomi

Tim peneliti Universitas Sebelas Maret bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah melakukan kajian pelayanan Penyakit Akibat Kerja (PAK) faktor ergonomic. Setelah melakukan analisis situasi, diskusi, dan workshop dengan stakeholder terkait, maka dilakukan proses pengambilan data. Kegiatan pengambilan data dilaksanakan pada tanggal 5, 9 dan 13 Oktober 2020. Tim peneliti terdiri dari 5 orang yang diketuai oleh dr. Vitri Widyaningsih, MS., Ph.D beserta pendamping dari pihak perusahaan melakukan wawancara sekaligus uji coba aplikasi pelayanan PAK faktor ergonomi langsung kepada pekerja di perusahaan manufaktur wilayah Surakarta dan Boyolali

Sebanyak kurang lebih 75 pekerja telah melakukan proses input data hingga mendapatkan hasil pengukuran faktor risiko ergonomic melalui aplikasi yang dikembangkan oleh tim peneliti. Aplikasi ini dapat digunakan baik sebagai self assessment oleh pekerja, maupun sebagai media monitoring evaluasi oleh HEG atau dokter perusahaan. Fitur dalam aplikasi ini terdiri dari data umum untuk menilai faktor risiko umum yang ada, REBA, OWAS, RULA, pengukuran stress kerja dan kualitas hidup. Hasil pengukuran bisa langsung dilihat oleh pekerja, dilengkapi dengan materi edukasi yang sesuai dengan kondisi pekerja. Diharapkan pelayanan PAK terkhususnya bidang ergonomic menjadi lebih mudah diakses oleh perkeja melalui aplikasi ini.

Workshop Diseminasi Hasil dan Kick-Off Meeting Fase Intervensi SUNI-SEA

Salah satu tanggung jawab peneliti adalah memastikan bahwa hasil penelitian tidak berhenti di publikasi dan naskah akademik. Pada Rabu, 14 Oktober 2020, kami berdiskusi dengan stakeholder tentang hasil penelitian dan rencana intervensi untuk pengendalian penyakit tidak menular di Indonesia secara daring melalui aplikasi Zoom.

Workshop Diseminasi Hasil dan Kick-Off Meeting Fase Intervensi SUNI-SEA dilakukan bersama Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Achmad Yurianto, Kepala Sub Direktorat Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolik Kementrian Kesehatan, dr.Lily Banonah Rivai, M.Epid, serta Kepala Sub Direktorat Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Kementrian Kesehatan, dr. Ratna Budi Hapsari, MKM. Acara ini juga dihadiri stakeholder 8 Kabupaten/Kota (Medan, Deli Serdang, Batang, Semarang, Surakarta, Kediri, Jember, dan Karanganyar), serta perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi yang terkait (Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan Jawa Timur).

Kegiatan ini dibuka oleh Prof. Dr. Reviono, dr., Sp.P (K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Selanjutnya, sesi pertama dengan moderator oleh Dr. Sumardiyono, SKM., M.Kes. diisi dengan paparan tentang Program Penyakit Tidak Menular di Era Adaptasi Kebiasaan Baru oleh dr. Achmad Yurianto. Pada sesi kedua, dilakukan diseminasi hasil studi fase retrospektif oleh Vitri Widyaningsih., dr., MS., Ph.D yang dilanjutkan dengan pemaparan rencana studi fase prospektif oleh Ketua Tim Penelitian SUNI-SEA, Prof. Ari Natalia Probandari, dr., MPH., Ph.D. Acara kemudian ditutup dengan diskusi, tanya jawab, serta masukan dari stakeholder.

Workshop Program Kesehatan Mental pada Remaja, Guru dan Siswa Bekerjasama dengan Puskesmas Ngoresan

Pada tanggal 8 September 2020 bertempat di Aula Keluran Jebres, team project pengabdian masyarakat dari Fakultas Kedokteran yang diketuai oleh Vitri Widyaningsih,dr.,MS.,Ph.D sekaligus pada kegiatan Workshop Program Kesehatan Mental pada Remaja,Guru dan Siswa menjadi narasumber dalam kegiatan workshop tersebut dengan topic yang mungkin cukup baru yaitu “Peningkatan Kesehatan Mental di Era Pandemi”, di era pandemi seperti ini ternyata cukup banyak hal yang dapat menganggu kesehatan mental terkhususnya bagi remaja atau pelajar. Kegiatan workshop ini dilakukan secara offline atau tatap muka secara langsung dengan tidak meninggalkan anjuran pemerintah untuk menerapkan protokol kesehatan dalam kegiatan ini dihadiri oleh 8 sekolah binaan dari puskesmas Ngoresan baik dari jenjang SMP maupun SMA/K namun untuk Forum Group Discussion (FGD) tetap dilaksanakan secara online melalui Whatsapp Group yang di fasilitator i oleh dr. Balgis, dr. Heni dan juga dr. Seto dimana antusiasme para Guru, Siswa dan juga tenaga medis sangat luar biasa dan kooperatif.

 

[NATIONAL WEBINAR] Go Green to Health Promoting University National Webinar

Green campus didefinisikan sebagai kampus yang berwawasan lingkungan, yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan lingkungan ke dalam kebijakan, manajemen, dan kegiatan tridharma perguruan tinggi. Green campus juga harus menjadi contoh implementasi pengintegrasian ilmu lingkungan dalam semua aspek manajemen dan praktek pembangunan berkelanjutan.

Webinar ini bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan dan terwujudnya sinergisitas kampus dalam upaya promotif dan preventif hidup sehat untuk turut serta berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam mengurangi Pemanasan Global.

Mari ikuti Webinar Nasional Green Campus kali ini dengan tema:
“Strategi Menyongsong Kampus Sehat Ramah Lingkungan.”

SAVE THE DATE 👇
🗓️ Sabtu, 17 Oktober 2020
🕑 Pukul 08.20 s.d. 11.45 WIB
📍 Zoom Meeting

🗣️ KEYNOTE SPEAKER
dr. Kirana Prihastini, MQIH
Dirjen Kesehatan Masyarakat kemenkes RI

🗣️ PEMBICARA
1. Vitri Widyaningsih, dr., M.S., Ph.D.
(Akademisi/Dosen Fakultas Kedokteran UNS)
2. Tawang Sotya Djati, S.P
(Koordinator Yayasan Tzu chi Sinarmas)
3. Dr. Agung Wibowo, S.P., M.Si
(Akademisi/Dosen Fakultas Pertanian UNS)

🎙️ MODERATOR
dr. Andri Putranto, M.Si.
Akademisi/Dosen Fakultas Kedokteran UNS

🏆 FASILITAS
1. Free Registration
2. E-Certificate
3. Ilmu yang bermanfaat
4. Doorpize
5. Pulsa (bagi mahasiswa UNS)

📌 Syarat dan Ketentuan
▶️ Terbuka untuk umum
▶️ Mengisi link pendaftaran bit.ly/KampusSehatUNS
▶️ Join grup WhatsApp Webinar Kampus Sehat
▶️ Mengunggah twibbon Kampus Sehat di sosial media
▶️ Pendaftaran terakhir Jumat, 16 Oktober 2020 pukul 12.00 WIB

Contact Person:
☎ http://wa.me/6285647094455 | Hanung
☎ http://wa.me/6282299271756 | Sri Hartini
______

#KampusSehatUNS
#GoGreen
#HealthPromotingUniversity
#UniversitasSebelasMaret
#UNS

Pertemuan Konsorsium SUNI SEA

SUNISEA (Scaling Up Noncommunicable Disease Intervention in South East Asia) menyelenggarakan pertemuan konsorsium membahas persiapan fase prospektif pada tanggal 6 Oktober 2020. SUNISEA yang merupakan penelitian kolaborasi beberapa institusi dan negara, dan dilaksanakan di Indonesia, Vietnam dan Myanmar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular, terutama hipertensi dan obesitas.

Tim Indonesia diketuai oleh Prof. Ari Probandari, dr., MPH., Ph.D, dengan tim peneliti antara lain Dr. Eti Poncorini Pamungkasari., dr., M.Pd, Vitri Widyaningsih., dr., MS., Ph.D, Dr. Ratih Puspita Febrinasari., dr., MSc., Balgis, dr, MSc CM-FM, Sp.Ak, AIFM, Dr. Sumardiyono, SKM., M.Kes., dan Yusuf Ari Mashuri, dr., M.Sc.

Pertemuan ini dihadiri oleh seluruh konsorsium penelitian SUNISEA, yang terdiri dari University Medical Center Groningen (Netherlands, Coordinator) University of Groningen (Netherlands), University of Passau (Germany), Trnava University (Slovak Republic), HelpAge International (UK), Thai Nguyen University (Vietnam), Health Strategy and Policy Institute, Vietnam, dan Universitas Sebelas Maret (Indonesia).

Dosen Fakultas Kedokteran UNS, Vitri Widyaningsih, mendapatkan award untuk menghadiri The Sixth Global Symposium on Health Systems Research

Dosen Fakultas Kedokteran UNS, Vitri Widyaningsih, mendapatkan award untuk menghadiri The Sixth Global Symposium on Health Systems Research. Tema dari simposium tahun ini adalah ” Re-imagining health systems for better health and social justice” dan akan dilaksanakan pada 8-12 November 2020, secara virtual. Konferensi ini dihadiri oleh praktisi dan peneliti dari seluruh dunia, yang akan mempesentasikan penelitiannya dalam bidang sistem kesehatan. Pada kegiatan ini, dr. Vitri akan mempresentasikan hasil penelitian yang tengah dilakukan mengenai program skrining penyakit tidak menular di Indonesia, yang diketuai oleh Prof. Ari Probandari., dr., MPH., Ph.D, yaitu SUNISEA (Scaling-up NCD Interventions in South-East Asia).

 

 

Dr. Ratih Puspita,dr.,M.Sc Dosen Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS  menjadi narasumber dalam Webinar Nasional

Dr. Ratih Puspita,dr.,M.Sc Dosen Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS  menjadi narasumber dalam webinar nasional “satukan bangsa wujudkan indonesia sehat tanpa narkoba” be productive and positive without drugs. kegiatan berlangsung pada sabtu, 26 september 2020 pukul 08.00-12.30.WIB via zoom

Workshop Penulisan Artikel Pada Jurnal International Bereputasi oleh DR. I Made Ady Wirawan, MPH, ACCAM, PhD

Kegiatan Workshop oleh Program Studi Kesehatan Masyarakat. Program Doktor (S3), dengan pemberi materi yaitu DR. I Made Ady Wirawan, MPH, ACCAM, PhD, Universitas Udayana

tema kuliah pakar ini adalah Penulisan Artikel Pada Jurnal International Bereputasi yang dilaksanakan pada Rabu, 23 September 2020, pukul 10.00-12.00 WIB via Zoom

Kuliah Pakar “Meta-Analysis” oleh DR. Luh Putu Lila Wulandari, MSC, PhD (Cand)

Kegiatan Kuliah Pakar oleh Program Studi Kesehatan Masyarakat. Program Doktor (S3), dengan pemberi materi yaitu DR. Luh Putu Lila Wulandari, MSC, PhD (Cand) dari Kirby Insitute, Sidney, Australia

tema kuliah pakar ini adalah Meta-Analysis yang dilaksanakan pada Jum’at, 25 September 2020, pukul 08.00-11.00 WIB via Zoom

Ujian Kelayakan Disertasi Mahasiswa a.n Ida Untari

Ujian Kelayakan disertasi Mahasiswa S3 IKM UNS atas nama Ida Untari, NIM T511608004, dengan judul “Program TEKEN (Telaten, ELing  Kenangan, Etung lan seNeng) untuk meningkatkan fungsi kognitif pada lansia.

Telah dilaksanakan pada hari Jumat, 18 September 2020 pukul 14.00 s/d selesai Via zoom

Dosen penguji :

  1. Prof. Ari Natalia Probandari, dr, MPH, PhD
  2. Dr. Isna Qadrijati, dr, M.Kes
  3. Prof. Dr. A.A. Subijanto, dr, MS
  4. Rossi Sanusi, dr, MPA, PhD
  5. Dr. Diah Kurnia Mirawati, dr, Sp.S

Kuliah Perdana Program Studi Kesehatan Masyarakat Program Doktor UNS 2020

Kuliah Perdana Program Studi Kesehatan Masyarakat Program Doktor UNS 2020

kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang selalu dilakukan untuk menembah hasanah keilmuaan serta menanamkan penelitian sebagai rutinitas. kegiatan dilaksanakan via Zoom pada tanggal 17 september 2020

Mahasiswa S3 IKM UNS Menerima Hibah Penelitian

Mahasiswa S3 IKM UNS Menerima Hibah Penelitian

a.n Ida Untari dengan judul faktor-faktor yang memperaguhi ketaatan warga muhammadiyah dalam menjalankan kebijakan tuntutan ibadah di tengah pandemi covid-19, hibah ini diberikan oleh Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah

 

Rapat Koordinasi Awal Semester Agustus-Februari 2020/2021 Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS

Rapat Koordinasi pengelola Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap awal dan akhir semester.  pada tanggal 26 Agustus 2020 dilaksanakan rapat koordinasi Awal Semester Agustus-Februari 2020/2021 Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS via Zoom

 

Kepala Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS Prof Ari Probandari mengisi Pre event INA-TIME 2020

 

Kepala Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS Prof Ari Probandari mengisi Pre event INA-TIME 2020 Virtual conference Indonesia Jetset TB research meeting “Challenges and Oppurtunity for TB & COVID-19 Research collaboration”

kegiatan dilaksanakan pada 27 agusutus 2020, pukul 01.00 pm

Alumni menjadi Narasumber Webinar FK Universitas Muhammadiyah Surakarta

 

kiprah alumni untuk menyebarluaskan ilmunya merupakan salah satu harapan dari prodi S3 IKM UNS, Dr. dr. Burhannudin Ichsan, M.Med. Ed,. M. Kes merupakan alumni yang baru saja di wisuda mengisi Webinar FK Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan tema penelitian kedokteran keluarga dan komunitas pada masa pandemi COVID-19

kegiatan dilaksanakan pada minggu, 30 agustus 2020 , pukul 09.00 wib via Zoom

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS dr. Agus Hidayat, Sp.P. FISR menjadi narasumber perawatan paliatif pada era normal baru

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS dr. Agus Hidayat, Sp.P. FISR menjadi narasumber pada acara webinar nasional dan virtual oral presentation dengan tema pemenuhan kebutuhan dasar dalam perawata paliatif pada era normal baru.

kegiatan berlangsung pada rabu 16 Agusuts 2020

09.00 WIB live via Zoom

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS Farida Hidayati. S. Psi.,M.Si menjadi Narasumber Manajemen Cabin Fever

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS Farida Hidayati. S. Psi.,M.Si menjadi Narasumber dalam acara webinar menyambut kemerdekaan RI ke 75 dengan tema Manajemen Cabin Fever. Optimalisasi peran ibu dalam meningkatkan keharmonisan keluarga

kegiatan berlangsung pada rabu 12 Agusuts 2020

09.00-12.00 WIB live via Zoom

Monitoring Progress Report Mahasiswa Angkatan 2016, 2017 dan 2018

Meningkatkan proses penyelesaian disertasi tanpa mengurangi kualitasnya dan mempercepat proses lulusnya mahasiswa, maka prodi S3 IKM UNS dan tim promotor serta mahasiswa mengadakan pertemuan pada :

Hari/tanggal : Selasa, 14 Juli 2020
Waktu : 09.00 – 12.00 WIB
Tempat : Ruang masing-masing via zoom

link undangan : undangan-2_Rev_VW new

dengan berlangsungnya kegiatan ini bisa memberikan semangat serta motivasi untuk menyelesaikan disertasi.

 

Dosen S3 IKM UNS mengisi Webiner EPIDEMIOLOGI FKM UNEJ

Dosen S3 IKM UNS

Vitri Widyaningsih, dr., MS., PhD. mengisi WEBINAR EPIDEMIOLOGI FKM UNEJ SERI I dengan tema “Opportunity of Epidemiology Research in Pandemic Periode”

Topik : Penggunaan Data Sekunder Dalam Penelitian Epidemiologi.

kegiatan dilaksanakan pada Hari : Senin, 27 Juli 2020, Waktu : 09.00-11.00 WIB, Via : Zoom

 

?Registration by Google Form, klik:
https://bit.ly/EpidFKMUnej

 

Sosialisasi Program Studi

Program Studi Kesehatan Masyarakat Program Doktor Universitas Sebelas Maret berkontribusi dalam acara Sosialisasi Program Studi yang diselenggarakan oleh SPMB UNS secara online. Kegiatan tersebut dapat diakses melalui: https://www.youtube.com/watch?v=SsCH3F6kuCE

Ujian Proposal Disertasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a.n. Sukismanto NIM T511808005

Ujian Proposal Disertasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a.n. Sukismanto NIM T511808005 telah dilaksanakan pada hari Jumat, 26 Juni 2020 pukul 13.00 s/d 15.00 via Zoom Meeting.

Judul proposal disertasi  “Peran Peer Support dan Family Support terhadap Pengetahuan, Sikap, dan Pelaksanaan Kesehatan Kerja Pengolah Batu Kapur di Kabupaten Gunung Kidul”.

Dengan penguji :

  1. Dr. Isna  Qadrijati, dr.,M.Kes
  2. Prof. Dr. Hartono, dr, M.Si
  3. Dr Sumardiyono, SKM, MKes
  4. Dr. Tri Rejeki Andayani, S.Psi, M.Si
  5. Dr. Yuliani Setyaningsih, SKM, M.Kes

Mahasiswa S3 IKM UNS a/n Sri Mintarsih,S.Kep.,Ns.,M.Kes Memberikan Edukasi Kepada Masyarakat Melalui Siaran Radio di Mentari FM Solo

Pandemi Covid-19 di Indonesia pada pertengahan bulan Maret 2020, tepat nya tanggal 14 Maret 2020 yang lalu. Pengumuman dari pemerintah tentang Kejadian Luar Biasa (KLB) ini dievaluasi sampai 14 hari ke depan. Tanggal 28 Maret 2020, pandemi Covid-19 ini belum berlalu. Akhirnya di evaluasi lagi 14 hari ke depan.

Perkembangan kasus Covid-19 tetap belum mereda, akhirnya beberapa mahasiswa memutuskan untuk pulang ke kampung halaman masing-masing. Kegiatan kegiatan yang telah direncanakan berubah dan ditunda, baik kegiatan akademis maupun non akademis. Wabah pandemi Covid-19 ini menyebabkan dampak di seluruh sektor kehidupan, salah satunya adalah dampak ke mahasiswa yang tengah menjalani proses belajar pada masa semester genap TA 2019/2020.  Pandemi Covid-19 ini sangat mempengaruhi seluruh aktivitas masyarakat, demikian juga dalam dunia pendidikan, khususnya mahasiswa juga berdampak langsung akibat  pandemi ini yaitu dengan diliburkan dari seluruh berbagai  kegiatan  di seluruh tanah air dan dialihkan dari pembelajaran tatap muka menjadi E-learning (daring).

Hal ini  membuat mahasiswa harus cepat dapat beradaptasi dengan cerdas dan cepat. Dampak tersebut menjadikan mahasiswa menjadi kurang nyaman karena berubahnya sistem dalam pembelajaran, namun walaupun demikian sebagai mahasiswa kita perlu untuk mengambil sisi positif dari setiap peristiwa terjadi.

Sistem pembelajaran E-learning untuk mahasiswa, mau tidak mau, harus dan bisa  belajar dari rumah atau tempat tinggal masing-masing. Para mahasiswa, setelah mendapat pengumuman mengenai perkuliahan yang di lakukan dengan sistem E-learning (daring), sebagian besar mahasiswa rantau kembali ke rumah di kampung halamannya mereka masing-masing, ada beberapa beberapa mahasiswa masih ada yang memilih untuk menetap di tempat kost. Sebenarnya memilih untuk tetap tinggal di tempat kost merupakan pilihan tepat,  baik dan sesuai dengan anjuran pemerintah untuk mencegah penyebaran virus ini. Namun, karena semua tidak tahu, kapan pandemi ini akan berakhit, memlih  berkumpul dengan keluarga (pulang kampung) adalah kerinduan bagi kebanyakan mahasiswa rantau yang sering homesick, apalagi setelah pandemi ini berlangsung selama 6 minggu, disambung dengan  datangnya bulan ramadhan dan sekalian dilanjutkan libur Idul Fitri, sehingga para mahasiswa semakin kuat keinginan dan dorongan dari orang tua untuk pulang kampung.

Setelah pulang kampung, mereka mengikuti protokol yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat. Sisi positif pandemi Covid-19 ini juga membuat para mahasiswa dapat berkumpul dengan keluarga  dengan alokasi waktu yang panjang , yang mungkin biasanya waktu dihabiskan untuk kegiatan akademik maupun non-akademik di kampus.

Setelah berjalan beberapa minggu wabah pandemi ini, mahasiswa sudah dapat beradaptasi dan menyesuaikan dengan baik, kegiatan-kegiatan kemahasiswaan dilakukan melalui daring/online. Pelatihan organisasi, diskusi online, telah menjadi familier sekali bagi mereka, sehingga kegiatan-kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tetap dapat berjalan dengan baik. Ketahanan mahasiswa ini, meliputi 2 hal, ketahanan fisik dan psikologis. Ketahanan fisik, bagaimana menyiakan stamina, daya tahan tubuh dan imunitas tubuh agar tetap selalu fit dalam masa pandemi dan era new normal ini. Sedangkan ketahanan psikologi, bagaimana mahasiswa mudah beradaptasi dengan cepat dan cerdas, tidak panik, tidak stress dan tidak cemas.

Pesan-pesan/tips untuk tetap bisa eksis dan kreatif di masa pandemi ini adalah, (1) Tetap semangat & selalu positif thingking, (2) Tetap kreatif dan selalu ingin tahu akan informasi-informasi baru, (3) Meningkatkan kegiatan-kegiata sosial/jiwa relawan/kerja sama, saling membantu walau secara online, bila harus secara luring, harus memenuhi ketentuan/protokol yang ada, (4) Memanfaatkan media tutorial yang ada di media sosial, menyalurkan bakat positif yang sesuai, (5) Tetap belajar dengan rajin dan tekut, menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan menyelesaikan tugas akhir, agar bisa wisuda tepat waktu, walaupun wisudanya secara daring, (6) Semakin meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Alloh SWT dengan cara meningkatkan kualitas ibadahnya.  Semoga pandemi ini segera berlalu, agar kita semua, bisa beraktifitas kembali seperti sedia kala. Aamin.

 

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS dr Adji Suwandono, S.H, Sp.F, menjadi Narasumber dalam Inhouse Training di RS Brayat Minulya

RS Brayat Minulya Surakarta pada hari Rabu 9 Juni 2020, di Aula RS mengadakan pelatihan inhouse training bagi dokter, perawat dan karyawan RS dengan tema Penatalaksanaan Jenazah COVID-19/Terduga COVID-19. Hadir sebagai narasumber, dr. Adji Suwandono, S.H., Sp..F. Dosen FK UNS, Mahasiswa S3 IKM UNS bersama tim pemulasara RS UNS. Dalam inhouse training ini dibahas dan didiskusikan penatalaksanaan Jenazah yg meninggal dunia di RS, dari ruang perawatan, menuju ruang rawat jenazah kemudian transportasinya hingga dituntaskan di pemakaman. Dilanjutkan dengan hands on tata cara rukti jenazah dengan menggunakan media manequin. Pelatihan ini dilakukan dengan meenerapkan protokol kesehatan (memakai masker, cuci tangan sebelum dan sesudah pelatihan, dan physical distancing).

Dosen Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS Vitri Widyaningsih, dr, MS, Ph.D menjadi narasumber dalam Webinar Research Series  – Identifikasi Data Sekunder untuk Penelitian Kesehatan

Dosen Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS Vitri Widyaningsih, dr, MS, Ph.D menjadi narasumber dalam Webinar Research Series  – Identifikasi Data Sekunder untuk Penelitian Kesehatan pada hari Jumat, 29 Mei 2020 pukul 09.00-11.00 WIB.

 

Prof. Ari Probandari menjadi kolaborator dalam COVID-19 Surveillance, Evaluation and Research Program

Prof. Ari Probandari menjadi kolaborator dalam COVID-19 Surveillance, Evaluation and Research Program. Artikel penelitiannya dipublikasikan dalam website berikut ini :

https://kirby.unsw.edu.au/project/understanding-role-community-pharmacies-and-drug-stores-during-covid-19-outbreak-indonesia

 

 

Kepala Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS Prof. Ari Probandari, dr, MPH, PhD menjadi narasumber kuliah tamu di Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP

Kepala Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS Prof. Ari Probandari, dr, MPH, PhD menjadi narasumber kuliah tamu di Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP. Kegiatannya hari ini: Sabtu, 16 Mei 2020 jam 10-12.30. dengan materi mengenai “Pendekatan Riset Epidemiologi Pada Penyakit Infeksi Dan Non Infeksi Sebagai Imbas Kebijakan Penanggulan Covid-19″ di Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP”

Ujian Kelayakan Mahasiswa A.N Burhannudin Ichsan

Ujian Kelayakan Mahasiswa S3 IKM UNS atas nama , NIM T511608002, dengan judul “Efektivitas Program Peer Support dengan Dukungan Nenek dalam Mengubah Perilaku Ibu-Ibu Menyusui”.
Telah dilaksanakan pada hari Jumat, 15 Mei 2020 pukul 14.30 s/d selesai di Via ZOOM.
Dosen penguji :
  1. Prof. Dr. A.A. Subijanto, dr, MS
  2. Ari Natalia Probandari, dr, MPH, PhD
  3. Dr. Eti Poncorini Pamungkasari, dr, M.Pd
  4. Prof. Dr. Harsono Salimo,  dr, Sp.A (K)
  5. Dr. Sri Mulyani.,S. Kep.,Ns.,M. Kep
  6. Prof. dr. Djauhar Ismail, MPH.,SPA(K).,PhD

Pertemuan Koordinasi S3 IKM UNS dan Dinas Kesehatan untuk Penanggulangan COVID-19 di Klaten

Pada tanggal 8 Mei 2020, telah dilakukan koordinasi dan diskusi melalui zoom online dengan peserta yang dihadiri oleh Dinas Kesehatan Klaten, mahasiswa s3 prodi IKM UNS TA 2019/2020, dan dosen pembimbing.
Pada pertemuan ini dilakukan presentasi oleh 3 kelompok tentang rencana pengabdian dan penelitian penanggulangan covid 19 di Klaten yang terintegrasi dalam mata kuliah pengendalian penyakit dengan koordinator MK. Dr. Sri Mulyani, S.Kep. M.Kes. Pihak DKK Klaten menyambut baik kegiatan ini, karena waktu yang tepat untuk mengetahui data-data yang diperlukan dalam penanggulang covid 19. Kegiatan akan dilakukan mulai bulan Mei sampai Juni 2020, dan akan dilakukan di lokasi/kecamatan terdampak di Klaten, dengan sasaran yang berbeda yaitu masyarakat, perangkat dan FKTP. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan informasi yang komprehensif, sehingga kegiatan pencegahan COVID-19 yang dilakukan dapat lebih terarah dan efektif.

 

 

 

 

Tim Peneliti SUNISEA Indonesia Memaparkan Konsep Fase Prospective Pada Pertemuan Konsorsium Secara Online

Tim peneliti SUNISEA (Scaling Up Noncommunicable Disease Intervention in South East Asia) Indonesia, yang terdiri dari Dosen Fakultas Kedokteran dan S3 IKM FK UNS, memaparkan konsep fase prospective pada pertemuan konsorsium yang dilaksanakan pada hari Rabu 6 Mei 2020 secara online. Pertemuan ini dihadiri oleh seluruh konsorsium penelitian SUNISEA, yang terdiri dari University Medical Center Groningen (Netherlands, Coordinator) University of Groningen (Netherlands), University of Passau (Germany), Trnava University (Slovak Republic), HelpAge International (UK), Thai Nguyen University (Vietnam), Health Strategy and Policy Institute, Vietnam, dan Universitas Sebelas Maret (Indonesia). Ketua Prodi S3 IKM, Prof. Ari Probandari, dr., MPH., Ph.D menjadi principal investigator untuk Indonesia, dengan lokasi penelitian untuk fase prospective meliputi 4 kabupaten/kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Penelitian 4 tahun ini meliputi fase retrospective dan prospective. Dimana fase prospective bertujuan untuk meningkatkan efektivitas implementasi program skrining dan referral untuk penyakit tidak menular di Indonesia.

Dosen S3 IKM dan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, kembali mendapatkan hibah penelitian dengan skema Program Kerja Sama Perguruan Tinggi

Dosen S3 IKM dan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, kembali mendapatkan hibah penelitian dengan skema Program Kerja Sama Perguruan Tinggi dengan Kementrian Kesehatan RI. Pada tahun 2020 ini, UNS akan melaksanakan kegiatan penguatan evidence based penyakit akibat kerja faktor ergonomi di sektor manufaktur. Program kerjasama ini diawali dengan Kick-off meeting, yang dilaksanakan pada tanggal 21 April 2020, yang dihadiri oleh Vitri Widyaningsih, dr., MS., Ph.D, serta Dr. Sumardiyono, SKM., M.Kes sebagai tim peneliti. Penelitian ini merupakan kerjasama lanjutan, setelah pada tahun 2019 dilaksanakan Kajian pelayanan penyakit akibat kerja pada era SJSN.

 

Kepala Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS Prof. Ari Probandari, dr, MPH, PhD menjadi narasumber dalam Workshop Penelitian tentang Akreditasi Rumah Sakit tahap II

Kepala Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS Prof. Ari Probandari, dr, MPH, PhD menjadi narasumber dalam Workshop Penelitian tentang Akreditasi Rumah Sakit tahap II. Acara ini diselenggarakan dalam webinar pada tanggal 28 April 2020. Materi yang disampaikan yaitu “Dasar-Dasar Penyusunan Proposal Penelitian”.

Ujian Proposal Disertasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a.n. Indriyati Oktaviano NIM T5116080002

Ujian Proposal Disertasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a.n. Indriyati Oktaviano NIM T511608002 telah dilaksanakan pada hari Senin, 6 April 2020 pukul 01.30 s/d via Zoom Meeting.

Judul proposal disertasi  “Determinan Sosial Penyakit Hipertensi di Indonesia berdasarkan data IFLS 4 dan IFLS 5”.

Dengan penguji :

  1. Vitri Widyaningsih, dr, MS, Ph.D
  2. Ari Natalia Probandari, dr, MPH, PhD
  3. Dr. sc. hum. Budi Aji, SKM, M.Sc
  4. Dr. Isna  Qadrijati, dr.,M.Kes
  5. Dr Sumardiyono, SKM, MKes

Belajar Pengalaman Taiwan Dalam Menangani Covid-19, sebuah tulisan dari Mahasiswa

BELAJAR PENGALAMAN TAIWAN

 

Dr Muhammad Husen Prabowo, MPH

Mahasiswa S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Universitas Sebelas Maret

 

Dari sebuah artikel Response to COVID-19 in Taiwan Big Data Analytics, New Technology, and Proactive Testing” yang telah dipublikasikan   https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2762689 3 Maret 2020.

 

Mengapa tertarik untuk menuliskan ini?

Bahwa Taiwan merupakan negara yang mempunyai potensi tinggi terhadap terkenanya wabah COVID-19 yang berasal dari Wuhan, oleh karena Taiwan relatif dekat dengan Wuhan, banyak penerbangan Taiwan-China, Taiwan sendiri memiliki jumlah penduduk 23 juta dimana dari sekian penduduk tersebut 850.000 penduduk tinggal di China dan 404.000 bekerja di China serta kunjungan ke Taiwan tahun 2019 mencapai 2,71 juta.  Hal ini ada kemiripan dengan Indonesia dimana penerbangan langsung dan perpindahan penduduk China–Indonesia cukup tinggi.

Taiwan berhasil merespon dan melakukan manajemen wabah COVID-19 dengan baik, dimana kinerja presiden dan kementrian kesehatan di apresiasi kepuasan oleh warga negaranya dan sampai 24 Februari 2020 kasus positif COVID-19 hanya 30, ini jauh dari prediksi karena diperkirakan kasus di Taiwan akan tinggi.

 

Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Taiwan ?

Taiwan berhasil mencegah epidemic dalam skala yang lebih besar, dengan memobilisai sumber daya dan pembatasan untuk melindungi kesehatan masyarakat. Taiwan memanfaatkan database asuransi kesehatan terintegrasi dengan imigrasi untuk memantau dan tracking riwayat perjalanan dalam 14 hari terakhir, hotline untuk laporan warga negara dan dukungan bagi warga yang dikarantina.

 

Pelajaran yang dapat kita ambil dari Penanganan COVID-19 oleh Taiwan

  1. Upaya percepatan penanganan COVID-19 menggunakan pendekatan epidemiologi, melalui identifikasi, klasifikasi, surveilan, kontrol penularan dan penemuan kasus secara proaktif.
  2. Manajemen dan leadership yang kuat dalam penanganan COVID-19 dengan didukung kemajuan teknologi dan analisa data besar yang terintegrasi untuk membantu pengambilan keputusan.
  3. Sikap pemerintah untuk mengalokasikan semua sumber daya yang ada, mengontrol kesiapsiagaan berbagai institusi terkait, dan berkomunikasi dengan masyarakat untuk sadar ikut berpartisipasi pengendalian penularan COVID-19.

 

Salam

Semoga bermanfaat

Mahasiswa S3 IKM UNS menjadi narasumber di TA Radio mengupas tentang penanggulangan penyebaran wabah COVID-19 di Wilayah Kota Surakarta

Berkaitan dengan adanya 2 kasus pasien yg positif terinfeksi COVID-19 yang meninggal dunia di kota Solo, TA Radio dalam program Bintang Spesial menghadirkan narasumber dari IDI Cabang Kota Surakarta (dr. Adji Suwandono, S.H., Sp.F) Ketua Umum yang juga mahasiswa S3 IKM UNS dan Ketua Satgas Penanggulangan Penyebaran COVID-19 (dr. Wahyu Indianto, M.H.) untuk mengupas tuntas penanganan terkini untuk penanggulangan penyebaran wabah COVID-19 di Wilayah Kota Surakarta

 

Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS meluncurkan SIMBOK HATMA SEMAR

Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS meluncurkan SIMBOK HATMA SEMAR

yang merupakan sebuah konten Ig, Whatapp, Facebook terhubung secara sistematis untuk membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap fenomena kesehatan yang terjadi belakangan ini, salah salunya adalah COVID-19. menanggapi hal tersebut sudah ada 2 video yang dibuat dapat dilihat di bawah ini

Episode 1 : Jaga Jarak

 

Epidose 2 : Keluar rumah (sosial distance)

 

Episode 3 : Tinggal di rumah

Episode 4 : Pemeriksaan ke RS atau laboratorium

 

Episode 5 : siapa yang rentan Covid-19

SIMBOK HATMA SEMAR

HAT (Kesehatan),   MA (Masyarakat),    SE (Sebelas),   Mar (Maret)

Produk media sosial Simbok Hatma Semar adalah:

1. WA (+62 821 3390 8480)

2. Facebook

3. Instagram

4. Twitter

Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS melakukan pembelajaran daring.

Melalui rilis yang dikeluarkan Rabu (11/3) lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan pernyataan kalau kasus corona yang menyebabkan COVID-19 adalah pandemi.  menanggapi hal tersebut Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan ederan untuk melakukan pembelajaran secara online/daring. Pemerintahan Surakarta serta Universitas Sebelas Maret juga menerapkan upaya memutus penyebaran COVID-19, salah satu caranya adalah dengan melakukan pembelajaran metode darling.  Selama Kejadian Luar Biasa COVID-19 Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS tetap menjalankan kegiatan pembelajaran metode darling

Dua orang dosen Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS menerima hibah dari USAID PEER Women’s Mentorship

Dua orang dosen Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS: Prof. Ari Probandari, dr, MPH, PhD dan Vitri Widyaningsih, dr, MS, PhD menerima hibah PEER Womens’ mentorship dari USAID. Projek akan meliputi peningkatan kapasitas peneliti muda perempuan untuk melakukan penelitian dan menulis publikasi pada bidang Tuberkulosis. Penerima hibah akan mendapat pelatihan tentang proses mentorship pada bulan Juni 2020.

Ujian Kualifikasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat  UNS a/n Indriyati Oktaviano  NIM T511708002

Ujian Kualifikasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat  UNS a/n Indriyati Oktaviano  NIM T511708002 telah dilaksanakan pada hari Senin, 02 Maret 2020 pukul 10.00 s/d selesai, bertempat di ruang 7.2 lantai 7 Gedung Pendidikan Dokter UNS.

Judul proposal disertasi “Determinan Sosial Penyakit Hipertensi di Indonesia Data IFLS 4 dan IFLS 5”.

Dengan penguji :

  1. Dr. Isna Qadrijati, dr, M.Kes
  2. Prof. Ari Natalia Probandari, dr, MPH, PhD
  3. Vitri Widyaningsih, dr, MS, Ph.D
  4. Dr. Sumardiyono, SKM, M.Kes

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Violita Siska Mutiara menjadi narasumber tentang “Hoax-Hoax Coronavirus” di Terang Abadi (TA) Radio

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Violita Siska Mutiara menjadi narasumber tentang “Hoax-Hoax Coronavirus” di Terang Abadi (TA) Radio 103.5 FM Surakarta Pada hari Jumat, tanggal 21 Februari 2020 pukul 10.00-11.00 WIB.

 

Dr Eti Poncorini Pamungkasari, dr, MPd dosen S3 Kesehatan Masyarakat UNS dilantik sebagai wakil ketua Komite PAUDIT Nurhidayah Surakarta

Dr Eti Poncorini Pamungkasari, dr, MPd dosen S3 Kesehatan Masyarakat UNS dilantik sebagai wakil ketua Komite PAUDIT Nurhidayah Surakarta periode 2020-2022, sekaligus sebagai MC acara seminar parenting “Love Quran Love Family” pada tanggal 22 Maret 2020.

 

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Violita Siska Mutiara menjadi narasumber “Gaya Hidup Sehat dan Bersih” di RDS FM Surakarta

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Violita Siska Mutiara menjadi narasumber “Gaya Hidup Sehat dan Bersih” di Radio Dakwah Syariah 101.4 FM Surakarta Pada hari Minggu, tanggal 23 Februari 2020 pukul 07.30-09.00 WIB.

Ujian Seminar Hasil Riset dan Naskah Publikasi Mahasiswa S3 IKM UNS atas nama Burhannudin Ichsan

Ujian Seminar Hasil Riset dan Naskah Publikasi Mahasiswa S3 IKM UNS atas nama Burhannudin Ichsan, NIM T511608002, dengan judul “Efektivitas Program Peer Support dengan Dukungan Nenek dalam Mengubah Perilaku Ibu-Ibu Menyusui”.
Telah dilaksanakan pada hari Jumat, 21 Februari 2020 pukul 09.30 s/d selesai di Ruang Sidang 7.2 lantai 7, Gedung Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran UNS. 
Dosen penguji :
  1. Prof. Dr. A.A. Subijanto, dr, MS
  2. Ari Natalia Probandari, dr, MPH, PhD
  3. Dr. Eti Poncorini Pamungkasari, dr, M.Pd
  4. Prof. Dr. Harsono Salimo,  dr, Sp.A (K)
     

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Violita Siska Mutiara menjadi narasumber dalam acara Bincang Pagi RRI Pro1 

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Violita Siska Mutiara menjadi narasumber dalam acara Bincang Pagi RRI Pro1  101 FM Surakarta dengan tema “Tangkal Hoaks Penyebaran Virus Corona”. Pada hari Jumat, 14 Februari 2020 pukul 08.00-09.00 WIB.

 

 

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a.n. dr Muhammad Husen Prabowo MPH menjadi pembicara dalam Seminar dan Workshop “Reuni Without Pain”

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a.n. dr Muhammad Husen Prabowo MPH menjadi pembicara topik Etika Kedokteran dalam acara Seminar dan Workshop “Reuni Without Pain” kerjasama Panitia Reuni Angkatan 93 Fakutas Kedokteran UNS dengan Ikatan Dokter Indonesia Cabang Klaten. Bertampat di Harris Hotel Solo, pada tanggall 18 Januari 2020.

 

Ujian Seminar Hasil Disertasi dan Naskah Publikasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS atas nama Istar Yuliadi, NIM T511608005

Ujian Seminar Hasil DIsertasi dan Naskah Publikasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS atas nama Istar Yuliadi, NIM T511608005, dengan judul “Resiliensi Keluarga serta Pengaruh terhadap Kecemasan dalam Perkawinan, Kualitas Hidup dan Niat Perceraian”.
Telah dilaksanakan pada hari Selasa, 21 Januari 2020 pukul 13.00 s/d selesai di Ruang Sidang 7.4 lantai 7, Gedung Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran UNS. 
Dosen penguji :
  1. Prof. Dr. A.A. Subijanto, dr, MS.
  2. Prof. Dr. Aris Sudiyanto, Sp.KJ (K)
  3. Ari Natalia Probandari, dr, MPH, PhD
  4. Dr. Eti Poncorini Pamungkasari, dr, M.Pd

 

Ujian Proposal Disertasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a.n. Yopi Harwinanda Ardesa  NIM T511608010

Ujian Proposal Disertasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a.n. Yopi Harwinanda Ardesa  NIM T511608010 telah dilaksanakan pada hari Rabu, 15 Januari 2020 pukul 13.30  s/d selesai, bertempat di ruang 7.4  lantai 7 Gedung Pendidikan Dokter UNS,

Judul proposal disertasi “Pengembangan Layanan Terintegrasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) untuk Penderita Hipertensi di Kabupaten Klaten”.

Dengan penguji :

  1. Vitri Widyaningsih, dr, MS, Ph.D
  2. Ari Natalia Probandari, dr, MPH, PhD
  3. Yodhi Mahendradata, dr, M.Sc, PhD, FRSPH
  4. Prof Nawi NG
  5. Dr Sumardiyono, SKM, MKes

Monitoring dan Evaluasi Penelitian Kesehatan Kerja oleh Kementerian Kesehatan

Monitoring dan Evaluasi Penelitian Kesehatan Kerja oleh Kementerian Kesehatan pada tim peneliti yang diketuai dosen S3 Kesehatan Masyarakat UNS atas nama DR. Sumardiyono SKM, M.Kes. Acara ini diseenggarakan pada hari Selasa, 17 Desember 2019 di Gedung Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran UNS.

 

Kegiatan Monitoring dan Evaluasi Progress Disertasi Mahasiswa Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS

Kegiatan Monitoring dan Evaluasi Progress Disertasi Mahasiswa Angkatan 2016, 2017, dan 2018 Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat Program Doktor Pascasarjana UNS. Diadakan pada hari Senin tanggal 16 Desember 2019 pukul 13.00-16.00 di Ruang Sidang 2 Lantai 3 Gedung Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran UNS. Kegiatan ini dihadiri oleh pengelola prodi, pembimbing akademik, promotor, co-promotor, mahasiswa angkatan tahun 2016, 2017, 2018 dan 2019.

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS atas nama Istar Yuliadi mengisi Acara Symposium dan Workshop “Spiritual and Religious Psichiatry” 

Acara Symposium dan Workshop “Spiritual and Religious Psichiatry”  yang diadakan oleh Prodi Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran UNS/RSUD Dr Moewardi Surakarta diadakan pada hari Jumat tanggal 13 Desember 2019 di Hotel Syariah Surakarta. Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS atas nama Istar Yuliadi menjadi moderator pada acara pukul 13.30 s/d  15.00.

Dilanjutkan menjadi narasumber dengan Tema “Resiliensi Keluarga untuk Mencegah Konflik Perkawinan” pada acara pukul 15.30 s/d 17.00 wib.

Dosen S3 Kesehatan Masyarakat UNS atas nama DR. Sumardiyono, SKM, M.Kes memperoleh award dalam Malam Apresiasi Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS

Dosen S3 Kesehatan Masyarakat UNS atas nama DR. Sumardiyono, SKM, M.Kes memperoleh award dalam Malam Apresiasi Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS pada hari Jumat tanggal 13 Desember 2019 pukul 20.00 bertempat di Gedung Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran UNS.

 

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Istar Yuliadi menjadi narasumber dalam acara Talkshow Healthy Life Rotary Family Day

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Istar Yuliadi menjadi narasumber dalam acara Talkshow Healthy Life Rotary Family Day yang diselenggarakan oleh Solo Paragon Lifestyle Mall pada hari Rabu, tanggal 11 Desember 2019 pukul 15.00 s/d 17.00 dengan materi yang disampaikan yaitu “Kesehatan Reproduksi Remaja”.

Ujian Seminar Kemajuan Riset 2 dan Naskah Publikasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS atas nama Istar Yuliadi, NIM T511608005

Ujian Seminar Kemajuan Riset 2 dan Naskah Publikasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS atas nama Istar Yuliadi, NIM T511608005, dengan judul “Resiliensi Keluarga Sebagai Determinan Kecemasan dalam Rumah Tangga dan Kualitas Hidup”.
Telah dilaksanakan pada hari Selasa, 10 Desember 2019 pukul 11.00 s/d selesai di Ruang Sidang 7.2 lantai 7, Gedung Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran UNS. 
Dosen penguji :
  1. Prof. Dr. A.A. Subijanto, dr, MS.
  2. Prof. Dr. Aris Sudiyanto, Sp.KJ (K)
  3. Ari Natalia Probandari, dr, MPH, PhD
  4. Dr. Eti Poncorini Pamungkasari, dr, M.Pd

 

Ailiana Santosa, MD, M.MedSc(PH), Ph.D dari University of Gothenberg, Swedia akan menjadi narasumber dalam Kuliah Tamu Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat dan S2 Kedokteran Keluarga UNS

Kuliah Tamu Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat dan S2 Kedokteran Keluarga UNS dengan Tema “Introduction to Longitudinal Analysis” yang akan disampaikan oleh narasumber Ailiana Santosa, MD, M.MedSc(PH), Ph.D dari University of Gothenberg, Swedia.

Acara ini akan diselenggarakan pada hari Jumat, tanggal 13 Desember 2019 pukul 13.00-15.00 WIB. Bertempat di Aula Gedung A Lantai 3 Fakultas Kedokteran UNS. Acara ini wajib dihadiri oleh seluruh mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat dan S2 Kedokteran Keluarga UNS.

Ujian Proposal Disertasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a.n. Mulyaningsih NIM T511708004

Ujian Proposal Disertasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a.n. Mulyaningsih NIM T511708004 telah dilaksanakan pada hari Senin 02 Desember 2019 pukul 10.00 s/d selesai, bertempat di ruang sidang 7 lantai 7 Gedung Pendidikan Dokter UNS,

Judul proposal disertasi “Efektivitas Senam “MULDA” Sebagai Upaya Penurunan Risiko Ulkus Kaki Diabetik”.

Dengan penguji :

  1. Prof. Dr. A.A. Subijanto, dr, MS 
  2. Dr. Isna Qadrijati, dr, M.Kes
  3. Dr. Sri Mulyani, S.Kep, M.Kes
  4. Vitri Widyaningsih, dr, MS, PhD
  5. Dr Bagoes Widjanarko, dr, MPH

Kuliah Tamu Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat dan S2 Kedokteran Keluarga UNS dengan Tema “Citation Manager, Mendeley”

Kuliah Tamu Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat dan S2 Kedokteran Keluarga UNS dengan Tema “Citation Manager, Mendeley” yang disampaikan oleh narasumber Dra Ngesti Gandini, M.Hum pada hari Jumat, tanggal 29 November 2019 pukul 09.30-11.30 WIB. Bertempat di Ruang Sidang 1 Lantai 2 Gedung Pascasarjana UNS. Acara ini dihadiri oleh mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat dan S2 Kedokteran Keluarga UNS.

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n dr Indriyati Oktaviyano M.Kes menjadi narasumber dalam acara Seminar Parenting pada orang tua murid SD IT Nurhidayah Surakarta

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n dr Indriyati Oktaviyano M.Kes menjadi narasumber dalam acara Seminar Parenting pada orang tua murid SD IT Nurhidayah Surakarta dengan topik kepekaan terhadap anak, pada hari Minggu tanggal 30 November 2019.

Kuliah Tamu Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat dan S2 Kedokteran Keluarga UNS dengan Tema “Citation Manager, Mendeley”

Kuliah Tamu Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat dan S2 Kedokteran Keluarga UNS dengan Tema “Citation Manager, Mendeley” yang akan disampaikan oleh narasumber Dra Ngesti Gandini, M.Hum pada hari Jumat, tanggal 29 November 2019 pukul 09.30-11.30 WIB. Bertempat di Ruang Sidang 1 Lantai 2 Gedung Pascasarjana UNS. Acara ini wajib dihadiri oleh seluruh mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat dan S2 Kedokteran Keluarga UNS.

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Istar Yuliadi menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Buruh Migran dan Gender

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Istar Yuliadi menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Buruh Migran dan Gender yang diadakan oleh Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNS pada hari Selasa, tanggal 19 November 2019 di Ruang Seminar Fisip UNS  pukul 09.30 s/d 10.30 dengan materi yang disampaikan yaitu “Seksualitas Pada Migrant Worker”.

Kepala Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS Ari Natalia Probandari, dr, MPH, PhD menjadi narasumber Diseminasi Hasil Penelitian Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta 2019

Kepala Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat UNS Ari Natalia Probandari, dr, MPH, PhD menjadi narasumber Diseminasi Hasil Penelitian Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta pada hari Rabu, tanggal 20 November 2019.

Ujian Kualifikasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat  UNS a/n Violita Siska Mutiara NIM T511808006

Ujian Kualifikasi Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat  UNS a/n Violita Siska Mutiara NIM T511808006  telah dilaksanakan pada hari Rabu, 13 November 2019 pukul 11.00 s/d selesai, bertempat di ruang 7.2 lantai 7 Gedung Pendidikan Dokter UNS.

Judul proposal disertasi “Studi Netnografi Komunitas Online pada Tingkat Literasi Kesehatan”.

Dengan penguji :

  1. Dr. Sri Mulyani, S.Kep, NS, M.Kes
  2. Ari Natalia Probandari, dr, MPH, PhD
  3. Dr. Eti Poncorini Pamungkasari, dr, M.Pd.

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Agus Hidayat menjadi narasumber dalam acara Sosialisasi PATUH pada Penderita Penyakit Tidak Menular

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Agus Hidayat menjadi narasumber dalam acara Sosialisasi PATUH pada Penderita Penyakit Tidak Menular yang diadakan oleh Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kota Madiun, pada tanggal 22 Oktober 2019 di Gedung Diklat Kota Madiun.

 

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Istar Yuliadi menjadi narasumber dalam kuliah pra nikah yang diadakan oleh Majelis Taklim Muslimah IPHI

Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat UNS a/n Istar Yuliadi menjadi narasumber dalam kuliah pra nikah yang diadakan oleh Majelis Taklim Muslimah IPHI pada hari Sabtu, tanggal 26 Oktober 2019 di Gedung IPHI pukul 10.30 s/d 11.45 dengan tema “Kesehatan Reproduksi untuk Persiapan Nikah”.

 

Vitri Widyaningsih, dr., MS., Ph.D, dosen S3 IKM dan FK UNS, menjadi narasumber dalam Pertemuan Koordinasi Teknis Program Kesehatan Masyarakat Tingkat Provinsi

Vitri Widyaningsih, dr., MS., Ph.D, dosen S3 IKM dan FK UNS, menjadi narasumber dalam Pertemuan Koordinasi Teknis Program Kesehatan Masyarakat Tingkat Provinsi, tanggal 23 Oktober 2019, di Semarang. Pada kegiatan ini, dr. Vitri menyampaikan paparan tentang hasil penelitian kajian pelayanan penyakit akibat kerja di era Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), serta menyampaikan diseminasi model yang telah disusun oleh tim peneliti, berkaitan dengan penyakit akibat kerja

 

Dosen S3 IKM UNS dr. Vitri Widyaningsih, MS, PhD selaku perwakilan dari tim UKS 4.0 mempresentasikan pentingnya pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM)

Pada tanggal 01 Oktober 2019, tim UKS 4.0 mengadakan pertemuan dengan perwakilan guru atau petugas UKS SMP dan SMA/SMK di wilayah Puskesmas Kratonan, Kota Surakarta, sebagai penggiat kesehatan di sekolah. Pada pertemuan yang bertempat di aula Puskesmas Kratonan tersebut, turut hadir sebagai peserta perwakilan dari Dinas Pendidikan Kota Surakarta. Pertemuan yang bertajuk “Revitalisasi Upaya Kesehatan Sekolah (UKS) di Era 4.0” ini berfokus pada pengenalan aplikasi UKS 4.0 sebagai salah satu wadah pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM) pada remaja.

Kegiatan ini dibuka dengan presentasi dari dr. Vitri Widyaningsih, MS, PhD., selaku perwakilan dari tim UKS 4.0. Presentasi tersebut memuat tentang pentingnya pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM) dengan modifikasi gaya hidup sejak dini, pemaparan video edukasi tentang PTM, serta pengenalan tentang aplikasi UKS 4.0. Lewat kegiatan ini diharapkan aplikasi UKS 4.0 dapat disebarluaskan oleh peserta dan digunakan oleh murid-murid sekolah yang bersangkutan. Setelah pertemuan berakhir, peserta kegiatan dapat mengakses video edukasi, aplikasi UKS 4.0, dan formulir evaluasi aplikasi UKS 4.0 lewat tautan yang dikirim ke nomor masing-masing peserta.

 

Ujian Proposal Disertasi Mahasiswa S3 IKM UNS a/n Dewi Rokhanawati

Ujian Proposal Disertasi Mahasiswa S3 IKM UNS a/n Dewi Rokhanawati NIM T511708007, dengan judul proposal disertasi “Peningkatan Self Efficacy, Perilaku Parenting, Ibu Muda, dan Tumbuh Kembang Anak Balita Melalui Program Peer Education Parenting”.

Dilaksanakan pada hari Kamis, 10 Oktober 2019 pukul 10.00 s/d Selesai  di Ruang Sidang 7 Lantai 7 Gedung Pendidikan Dokter FK UNS. Dengan penguji : 

  1. Prof. Dr. Harsono Salimo, dr, Sp.A (K)
  2. Dr. Sri Mulyani, S.Kep, Ns, M.Kes
  3. Dr. Tri Rejeki Andayani, S.Psi, M.Psi
  4. Prof. dr. Mohammad Hakimi, Sp.OG (K), Ph.D
  5. Prof. Djohar Ismail, dr, Sp.A (K), MPH, PhD

Dr. Sumardiyono, SKM., M.Kes, dosen S3 IKM UNS sebagai ketua tim peneliti Kajian Pelayanan Penyakit Akibat Kerja (PAK) menerima penghargaan dari Kementerian Kesehatan

Dr. Sumardiyono, SKM., M.Kes, dosen S3 IKM UNS sebagai ketua tim peneliti Kajian Pelayanan Penyakit Akibat Kerja (PAK) menerima penghargaan dari Kementerian Kesehatan atas kerjasama dalam hibah penelitian kerjasama dalam bidang kesehatan kerja, Banda Aceh, 9 Oktober 2019.

Dosen S3 IKM Dr. Sumardiyono, SKM., M.Kes dan Vitri Widyaningsih, dr., MS., Ph.D dan Balgis, dr, MSc CM-FM, Sp.Ak, AIFM, menghadiri Forum Nasional Kesehatan Masyarakat, 1st Family Medicine Meeting, serta 3rd Syah Kuala International Conference

Dosen S3 IKM Dr. Sumardiyono, SKM., M.Kes dan Vitri Widyaningsih, dr., MS., Ph.D dan Balgis, dr, MSc CM-FM, Sp.Ak, AIFM, menghadiri Forum Nasional Kesehatan Masyarakat, 1st Family Medicine Meeting, serta 3rd Syah Kuala International Conference, di Banda Aceh, untuk mempresentasikan hasil penelitian tentang Kajian dan Implementasi Pelayanan Penyakit Akibat Kerja, hibah kerjasama penelitian dengan Kementrian Kesehatan RI tahun 2019.

Ari Probandari, dr, MPH, PhD dan Dr. Eti Poncorini Pamungkasari, dr, M.Pd menghadiri pre Kick Off Meeting di Institute Tropical Medicine Antwerp Belgia

UNS merupakan bagian dari konsorsium projek yang didanai oleh European Commission Erasmus +, yakni Health Information and Technology for Improved Health Education (HITIHE). Ari Probandari, dr, MPH, PhD dan DR. Eti Poncorini Pamungkasari, dr, M.Pd menghadiri pre Kick Off Meeting di Institute Tropical Medicine Antwerp Belgia, 6-7 Oktober 2019.

Ujian Seminar Kemajuan Riset dan Naskah Publikasi II Mahasiswa S3 IKM UNS atas nama Ida Untari

Ujian Seminar Kemajuan Riset dan Naskah Publikasi II Mahasiswa S3 IKM UNS atas nama Ida Untari, NIM T511608004, dengan judul “Program TEKEN (Telaten, ELing  Kenangan, Etung lan seNeng) untuk meningkatkan fungsi kognitif pada lansia.
Telah dilaksanakan pada hari Senin, 30 September 2019 pukul 10.00 s/d selesai di Ruang Sidang 2 lantai 3, Gedung Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran UNS. 
Dosen penguji :
  1. Ari Natalia Probandari, dr, MPH, PhD
  2. Dr. Isna Qadrijati, dr, M.Kes
  3. Prof. Dr. A.A. Subijanto, dr, MS
  4. Rossi Sanusi, dr, MPA, PhD
  5. Dr. Diah Kurnia Mirawati, dr, Sp.S

 

 

 

Ujian Proposal Disertasi Mahasiswa S3 IKM UNS a/n Yessy Nur Endah Sary NIM T511708006

Ujian Proposal Disertasi Mahasiswa S3 IKM UNS a.n. Yessy Nur Endah Sary NIM T511708006, dengan judul proposal disertasi “Peran Kader Kesehatan Melalui Modul Cegah Pernikahan Remaja (Cenikma) sebagai Upaya Mendukung Ayah Mencegah Pernikahan Dini Remaja Daerah Pesisir”.

Dilaksanakan pada hari Senin, 30 September 2019 pukul 11.00 s/d Selesai  di Ruang Sidang 7 Lantai 7 Gedung Pendidikan Dokter FK UNS. Dengan penguji : 

  1. Prof. Dr. Harsono Salimo, dr, Sp.A (K)
  2. Dr. Sri Mulyani, S.Kep, Ns, M.Kes
  3. Dr. Tri Rejeki Andayani, S.Psi, M.Psi
  4. Dr. Bagoes Widjanarko, dr, MPH

Kegiatan sharing pengalaman studi dan proses penelitian dari mahasiswa angkatan pertama S3 IKM UNS a/n Ida Untari bersama semua mahasiswa angkatan 4 (tahun 2019)

Kegiatan sharing pengalaman studi dan proses penelitian dari mahasiswa angkatan pertama S3 IKM UNS a/n Ida Untari bersama semua mahasiswa angkatan 4 (tahun 2019).  Pada hari Kamis, tanggal 26 September 2019, bertempat di gedung Fakultas Kedokteran UNS lantai 7 Ruang 7 pukul  8.00 s.d 9.30.

 

Dosen S3 IKM UNS, Vitri Widyaningsih, dr., MS., Ph.D dan Dr. Sumardiyono, SKM., M.Kes, memaparkan hasil penelitiannya dalam Workshop Penyusunan Peta Jalan Kesehatan Kerja di Indonesia

Dosen S3 IKM UNS, Vitri Widyaningsih, dr., MS., Ph.D dan Dr. Sumardiyono, SKM., M.Kes, memaparkan hasil penelitian “Kajian Implementasi Pelayanan Penyakit Akibat Kerja di Era SJSN” pada workshop penyusunan Peta Jalan Kesehatan Kerja di Indonesia tahun 2020-2024. Acara ini diselenggarakan oleh Sub Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, pada tanggal 24 September 2019 di Hotel The Grove Suites, Jakarta.

 

“Dasar-Dasar Keterampilan Belajar untuk Kedokteran dan Kesehatan” merupakan publikasi ilmiah mahasiswa S3 IKM UNS a/n Burhanuddin Ichsan dalam bentuk buku ber-ISBN

“Dasar-Dasar Keterampilan Belajar untuk Kedokteran dan Kesehatan” merupakan publikasi ilmiah mahasiswa S3 IKM UNS a/n Burhanuddin Ichsan dalam bentuk buku ber-ISBN. Buku ini membahas dasar-dasar keterampilan belajar termasuk: learning how to learn, Problem Based Learning, adult learning, gaya belajar, learnimg resources dan lain-lain.

 

Mahasiswa S3 IKM UNS a/n Istar Yuliadi menjadi narasumber dalam acara Sosialisasi Pendewasaan Usia Perkawinan Remaja

Mahasiswa S3 IKM UNS a/n Istar Yuliadi menjadi narasumber dalam acara Sosialisasi Pendewasaan Usia Perkawinan Remaja di Masyarakat yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Surakarta pada hari Senin, tanggal 23 September 2019. Bertempat di Pendopo Kelurahan Penumping Kec Laweyan Kota Surakarta. Materi yang disampaikan berjudul “Remaja dan Perkawinan”. 

Publikasi Ilmiah Mahasiswa S3 IKM UNS a/n Burhanuddin Ichsan dalam buku ber-ISBN berjudul “Literasi Informasi Ilmiah untuk Kedokteran dan Kesehatan”.

Publikasi Ilmiah Mahasiswa S3 IKM UNS a/n Burhanuddin Ichsan dalam buku ber-ISBN berjudul “Literasi Informasi Ilmiah untuk Kedokteran dan Kesehatan”.

Buku ini dimaksudkan untuk memberikan keterampilan mahasiswa kedokteran dan kesehatan hal-hal terkait tips-tips mengakses kemudian menilai, interpretasi dan mengaplikasikan jurnal-jurnal ilmiah maupun tulisan ilmiah lainnya. Buku ini juga menyinggung tentang prinsip critical appraisal termasuk contoh untuk critical appraisal jurnal terapi dan critical appraisal systematic review.

 

‘Diabetes is a gift from god’ a qualitative study coping with diabetes distress by Indonesian outpatients : Pubikasi Ilmiah Kepala Program Studi S3 IKM UNS Ari Natalia Probandari, dr, MPH, PhD

‘Diabetes is a gift from god’ a qualitative study coping with diabetes distress by Indonesian outpatients : Pubikasi Ilmiah Kepala Program Studi S3 IKM UNS Ari Natalia Probandari, dr, MPH, PhD dalam jurnal internasional Quality of Life Research https://doi.org/10.1007/s11136-019-02299-2.

Full text download :

Arifin_et_al-2019-Quality_of_Life_Research

Kuliah Pakar “Evidence Based Medicine : a role of research synthesis” oleh Prof Pisake Lumbiganon, MD, MS, PhD

Kuliah Pakar “Evidence Based Medicine : a role of research synthesis” oleh Prof Pisake Lumbiganon, MD, MS, PhD dari Khon Kaen University Thailand pada hari Selasa-Rabu, tanggal 17-18 September 2019 bertempat di Aula lantai 3 gedung A Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.