
Sekolah Pascasarjana – Sekolah Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) menerima kunjungan Tim Visitasi dalam rangka penilaian Lomba UNS Inclusion Metric 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen universitas dalam mendorong lingkungan pendidikan yang inklusif, ramah bagi seluruh civitas akademika, termasuk penyandang disabilitas.
Kegiatan visitasi dilaksanakan dengan dihadiri oleh pimpinan Sekolah Pascasarjana, para Ketua Program Studi (Kaprodi), serta Tim Inklusi Sekolah Pascasarjana. Kehadiran para pimpinan dan pengelola program studi menunjukkan komitmen bersama dalam mendukung pengembangan kampus yang inklusif dan berkelanjutan.

Acara visitasi secara resmi dibuka oleh Bapak Dekan Sekolah Pascasarjana UNS. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa pengembangan lingkungan akademik yang inklusif merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas layanan pendidikan di Sekolah Pascasarjana. Beliau juga menegaskan bahwa meskipun saat ini belum terdapat mahasiswa penyandang disabilitas yang menempuh studi di Sekolah Pascasarjana, pihak institusi terus berupaya mempersiapkan berbagai fasilitas yang mendukung aksesibilitas dan kenyamanan bagi semua pihak.
“Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan yang ramah dan inklusif. Persiapan fasilitas serta penguatan kebijakan inklusi menjadi bagian dari langkah strategis kami agar Sekolah Pascasarjana siap memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh mahasiswa, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas,” ujar beliau dalam sambutannya.


Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab bersama Tim Visitasi Lomba UNS Inclusion Metric. Dalam sesi tersebut, tim visitasi menggali berbagai informasi terkait kebijakan, kesiapan fasilitas, serta upaya yang telah dilakukan oleh Sekolah Pascasarjana dalam mendukung implementasi kampus inklusif.
Tim Inklusi Sekolah Pascasarjana memaparkan berbagai langkah yang telah dilakukan, mulai dari penyediaan akses fisik yang lebih ramah, upaya peningkatan kesadaran civitas akademika terhadap isu inklusivitas, hingga rencana pengembangan fasilitas yang mendukung aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.
Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa hingga saat ini Sekolah Pascasarjana belum memiliki mahasiswa penyandang disabilitas yang aktif menempuh studi. Namun demikian, berbagai fasilitas dasar yang mendukung aksesibilitas telah mulai disiapkan sebagai bentuk kesiapan institusi dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang lebih inklusif.


Tim visitasi memberikan sejumlah masukan konstruktif terkait pengembangan fasilitas yang ada. Salah satu perhatian yang disampaikan adalah terkait fasilitas kamar mandi yang dinilai masih perlu penyesuaian agar lebih ramah bagi pengguna dengan kebutuhan khusus. Tim visitasi merekomendasikan agar ukuran kamar mandi diperluas sehingga lebih memudahkan mobilitas pengguna kursi roda.
Selain itu, tim juga memberikan saran terkait desain pintu kamar mandi yang sebaiknya menggunakan model pintu geser. Penggunaan pintu geser dinilai lebih aman dan praktis bagi penyandang disabilitas karena tidak membutuhkan ruang tambahan untuk membuka pintu serta memudahkan akses keluar-masuk.
Masukan dari Tim Visitasi ini disambut positif oleh pimpinan Sekolah Pascasarjana. Rekomendasi tersebut akan menjadi bahan evaluasi sekaligus rencana pengembangan fasilitas ke depan guna meningkatkan standar aksesibilitas di lingkungan kampus.
Melalui kegiatan ini, diharapkan Sekolah Pascasarjana dapat terus meningkatkan kesiapan dalam menyediakan lingkungan belajar yang lebih ramah, inklusif, dan aksesibel bagi seluruh civitas akademika. Partisipasi dalam Lomba UNS Inclusion Metric 2026 juga menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen institusi dalam mewujudkan kampus yang menghargai keberagaman serta memberikan kesempatan yang setara bagi semua.
