UNS-Sekolah Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar talkshow bertajuk “menggapai capaian pembelajaran berkualitas”. Kegiatan ini berlangsung dalam acara Sosialisasi Kebijakan Akademik Sekolah Pascasarjana UNS, Jumat (16/9/2022).

Talkshow yang dipandu oleh alumnus Sekolah Pascasarjana UNS, Suci Faniandari ini menghadirkan narasumber yang merupakan awardee international academic program. Narasumber tersebut adalah Victoria Husadani, Lely Tri Pangesti, dan Bayu Aji Prasetya. Victoria dan Lely merupakan mahasiswa Program Studi (Prodi) S-2 Ilmu Kesehatan Masyarakat yang mengikuti Summer School on Global Health University Medical Center Groningen (UMCG), University of Groningen. Sementara, Bayu merupakan mahasiswa Prodi S-2 Kajian Budaya yang menjuarai beberapa kompetisi internasional.

“Juli kemarin, kami mengikuti program tersebut selama dua pekan. Jadi, sebenarnya kami dari riset grup di prodi sudah bekerja sama dengan UMCG melakukan riset terlebih dahulu tiga bulan sebelum ke Belanda. Mulai dari mengolah data, analisis situasi hingga baseline yang hasilnya dipresentasikan saat summer school. Kami juga dibawahi langsung oleh profesor dan mahasiswa doktor dari sana,” jelas Lely.

Riset grup yang diikuti oleh Victoria dan Lely ini diketuai oleh Prof. Ari Natalia Probandari.

“Awalnya karena kami ikut riset grup dan dapat kesempatan buat ikut penelitian ini. Tentu, sangat mendukung studi kami di S-2 karena kami juga bisa ikut publikasi ilmiah dari hasil penelitian ini,” tutur Victoria.

Victoria mengatakan bahwa Ia mendapat banyak pengalaman dan ilmu ketika bergabung dengan riset grup hpw di prodinya seperti kiat menulis karya ilmiah, penelitian, mengajukan proposal pendanaan, laporan pertanggungjawaban hingga publikasi ilmiah.

Hal senada juga disampaikan Lely. Ia sependapat bahwa banyak manfaat mengikuti riset grup. Awalnya, Ia kurang tertarik dengan dunia riset, tetapi Ia melihat peluang dari riset sehingga ia pun bergabung dengan riset grup di prodinya.

“Awalnya engga tertarik dengan riset, tapi saya berpikir bahwa ke depan pasti akan butuh. Yaudah, saya coba dulu. Apapun hasilnya, tergantung pribadi yang menjalani. Dalam proses ketika sampai di titik jenuh, usahakan jangan pernah berhenti. Tetap berjalan meskipun pelan,” ungkap Lely.

Sementara itu, Bayu Aji Prasetya juga turut membagikan pengalamannya dalam mengikuti kompetisi internasional. Pada tahun ini, Ia telah menjuarai empat kompetisi internasional dan menjadi presenter di dua konferensi internasional di India dan Belgia.

“Meskipun saya mencari peluang juara atau lolos, tapi saya tetap memperhatikan reputasi penyelenggara. Biasanya saya lihat dari pengikut di media sosial dan arsip kegiatan tahun-tahun sebelumnya untuk dianalisis peluangnya. Saya mendapat informasi kegiatan tersebut dari media sosial, terutama Twitter karena orang-orang Eropa dan Amerika juga cukup aktif di Twitter, jadi peluang dapat informasi lebih banyak,” jelasnya.

Ia juga menceritakan beberapa kegagalannya di tahun ini sebagai motivasi untuk tetap mencoba peluang-peluang lain. Tahun ini, Ia lolos final lomba di India dan summer school di Leiden, Belanda tetapi belum diberi kesempatan berangkat karena beberapa kendala, salah satunya visa.

“Saya tetap mencoba kesempatan-kesempatan lain. Alhamdulillah 7—9 September kemarin saya jadi presenter di konferensi internasional yang diselenggarakan Ghent University, Belgia. Banyak jalan menuju Roma. Kalau bukan di sini, mungkin di tempat lain. Kalau bukan hari ini, mungkin besok atau lusa,” tutupnya.